wilwatekta.com

Unang dan Psikologi Masyarakat yang Sudah Kadung Melekat

Foto: kpjp.org

WILWATEKTA.ID – Universitas Sunan Bonang (Unang) itu unik. Setidaknya, menurut saya. Meski memiliki banyak fakultas, namun yang melekat pada psikologi masyarakat hanya fakultas hukum. Berikut anekdot yang selalu muncul saat mahasiswa Unang ditanya oleh masyarakat awam.

“Kuliah di mana?”

“Unang”

“Ngambil jurusan hukum apa?”

“Hah, hukum. Saya anak pertanian coy.”

“Loh, IPB sudah buka cabang di Unang ya.”

“Hah, apa hubungannya dengan Institut Pertanian Bogor.” Si mahasiswa tiba-tiba diam dan tidak sadarkan diri.

Mungkin bagi sebagian orang anekdot di atas itu lucu. Tapi menurut saya itu unik (bacanya pakai y—yunik), sekaligus menunjukan kecerdasan para sesepuh pendiri kampus di Jalan Dr. Wahidin Sudiro Husodo itu. Kok bisa? Tenang, pelan-pelan, saya jelaskan.

Begini,

Dalam teori bisnis, brand, merek, atau produk itu baru dikatakan sukses atau diterima masyarakat jika sudah mampu mempengarui psikologi masyarakat. Dan, Universitas Sunan Bonang sukses untuk perkara yang satu ini, dibanding kampus-kampus lain yang ada di Tuban. Tampaknya hanya Unang yang memiliki branding kuat sebagai kampus hukum. Jika dilakukan survei kepada seratus masyarakat awam, mungkin hampir 80 persen mengamini—Unang ya hukum, hukum ya Unang (coba kapan-kapan kita membuat survei, menarik keknya).

Apa yang melekat pada Unang ini seperti memberikan impresi terhadap IPB. Siapa yang tidak kenal IPB. Kalau Wilkers sampai tidak tahu ITB, sungguh terlalu. Di alam bawah sadar masyarakat awam, orang mengenal IPB adalah kampus pertanian terbaik di Indonesia, meski tidak banyak lulusannya yang menjadi petani. Termasuk Pak Wakil Bupati Tuban Ir. Noor Nahar Hussein. Bukannya menjadi petani, malah memilih jalan ninja–menjadi politisi.

Ya sudah lah, menjadi petani memang tidak lebih menjanjikan dari politisi kok. Betul kan Pak Noor? Meskipun toh njenengan juga pernah gagal menjadi calon bupati, petani juga sama kok pak, kadang juga gagal panen.

Loh, kok malah bahas IPB dan Pak Noor Nahar. Fokus, fokus, fokus. Habis jadi wakil bupati, nanti ngapain Pak Noor? Pa pa an sih ini. Fokus.

Unang ini seperti iPhone, rajungan Mbak Narti, dan walut Jangkar. iPhone merupakan salah satu produk teknologi smartphone yang memiliki jangkauan pengaruh psikologi masyarakat yang luar biasa luas. Semua tahu, iPhone ini sangat mahal. Pun semua juga tahu, meski mahalnya minta ampun, produk telepon pintar iPhone ini memiliki sejumlah kekurangan. Dari mulai kapasitas baterai yang kecil, tidak memiliki slot memori eksternal, tampilan sistem operasi iOS yang cenderung monoton, hingga mencari onderdil yang kelewat susah. Namun, semua itu menjadi tidak penting, dan iPhone tetap yang terbaik. Lebih tepatnya orang yang memiliki iPhone itu keren. Dan itu adalah faktor psikologi.

Pun kesamaan Unang dengan rajungan Mbak Narti dan walut Jangkar. Meski di Tuban banyak warung yang menjual rajungan dan welut, tetapi hanya Mbak Narti dan Jangkar yang dicari, meskipun toh Mbak Narti dan Jangkar juga menjual kuliner lain, tetapi yang dikenal tetap rajungan dan walutnya. Begitu juga dengan Unang, meski di kampus lain juga menyediakan fakultas hukum, tetapi Unang tetap menjadi jujukan.

Inilah keberhasilan Unang dalam mempengaruhi psikologi masyarakat. Dan, tugas Unang sekarang adalah mempertahankan itu—faktor psikologi masyarakat, dengan terus meningkatkan kualitas dan profesionalitas.

Ya, begitulah jalan ninja Unang dari dulu sampai sekarang. Kampusnya siapa sih itu?

Artikel Terkait