wilwatekta.com

Tuban, Kota Kecil Dipaksa Jadi Metropolis

Oleh: Wawan Purwadi

WILWATEKTA.COM – Tuban seharusnya cukup menjadi kota yang tenang. Kota kecil yang hidup dengan irama pelan, di mana suara adzan masih lebih nyaring dari klakson kendaraan, dan aroma tembakau di pagi hari masih bisa menandingi bau aspal panas yang baru disiram.

Tapi kini, seolah ada tangan-tangan tak sabar yang memaksa Tuban berlari lebih cepat dari napasnya sendiri. Kota kecil ini, entah dengan dalih modernisasi atau investasi, sedang dipaksa jadi metropolis.

Di jalan-jalan yang dulu lengang, kini berdiri proyek-proyek besar yang tak sepenuhnya dipahami warga. Gedung menjulang, jalan beton mulus, lampu taman berkilau setiap malam—semuanya tampak indah di brosur pembangunan.

Namun di balik cahaya itu, ada wajah-wajah murung petani yang lahannya berganti pabrik, ada pedagang kecil yang tergeser oleh minimarket berlogo waralaba, dan ada anak-anak muda yang mulai kehilangan arah karena ruang sosialnya makin sempit.

Padahal, Tuban masih bertengger sebagai kabupaten termiskin nomor lima di Jawa Timur. Sebuah ironi di tengah gemerlap kawasan industri nasional yang terus digadang-gadang sebagai simbol kemajuan ekonomi.

Dari tambang semen, pabrik petrokimia, hingga kawasan industri besar yang katanya membawa harapan—nyatanya, sebagian besar masyarakatnya masih hidup di bawah garis kemiskinan.

Seolah kehadiran perusahaan-perusahaan besar itu hanya memperkaya laporan investasi, tapi tak mampu menekan kemiskinan yang sudah menahun di akar masyarakat.

Pembangunan, katanya, untuk kesejahteraan. Tapi apakah kesejahteraan itu bisa tumbuh dari tanah yang dipaksa berubah? Apakah modernitas itu selalu berarti meninggalkan kesederhanaan? Tuban, kota kecil yang dulu dikenal dengan “Bumi Wali”, kini sedang kehilangan rasa “wali”-nya—pelan-pelan tapi pasti.

Ada kesedihan yang menetes di antara deru truk-truk proyek industri. Ada nostalgia yang tak sempat diucapkan, ketika sawah berubah jadi kawasan ekonomi.

Dulu, orang-orang Tuban bangga dengan kesederhanaan dan kebersamaan; kini, mereka belajar cara bersaing, cara beradaptasi, bahkan cara bertahan di tengah perubahan yang tak mereka minta.

Ironisnya, modernisasi sering datang tanpa dialog. Pemerintah bicara tentang investasi, rakyat bicara tentang kehilangan. Pejabat bicara angka pertumbuhan, sementara warga kecil hanya melihat harga beras dan sewa rumah yang naik diam-diam.

Inilah wajah modernisasi yang menakutkan: memoles kota menjadi indah dari luar, tapi mengikis jati dirinya dari dalam.

Tuban yang dulu mengajarkan makna “cukup”—cukup makan, cukup tenang, cukup bahagia—kini dipaksa ikut dalam lomba yang tak ia daftarkan. Ia harus meniru Surabaya, meniru Gresik, meniru kota-kota besar lain yang sibuk membangun langit tapi lupa pada bumi.

Padahal Tuban punya modal lain: budaya, spiritualitas, dan gotong royong yang tak bisa dibeli dengan dana CSR perusahaan manapun.

Menjadi kota kecil bukan aib. Tapi kehilangan jati diri demi gengsi metropolitan, itulah kemunduran sejati. Mungkin Tuban memang harus tumbuh, tapi bukan tumbuh dengan dipaksa.

Ia harus bertumbuh dengan sadar, dengan ruh, dengan manusia di dalamnya yang tak hanya jadi penonton di tanah sendiri.

Karena kota tanpa jiwa hanyalah kumpulan gedung yang berdiri di atas nostalgia yang patah. Dan semoga Tuban tidak akan sampai ke sana—tidak akan benar-benar kehilangan dirinya, hanya demi disebut “modern”. (*)

Artikel Terkait