wilwatekta.com

Study Tour: Ladang Kapitalisme Pendidikan

moeslimchoice.com

moeslimchoice.com

WILWATEKTA.COM – Akibat kecelakaan bus rombongan Siswa SMK Lingga Kencana di Subang Jawa Barat membuat luka mendalam bagi wali murid dan dunia pendidikan. Akibatnya, banyak tagar “hapuskan study tour” dan lain sebagainya. Insiden yang menelan 11 korban jiwa tersebut telah menjadi perhatian publik. Karena kecelakaan dalam study tour bukan kali pertama, bahkan berulang-ulang. Sampai menimbulkan korban jiwa. Kejadian Ini harus menjadi perhatian khusus bagi dunia pendidikan. Jangan sampai study tour menjadi ladang bisnis. Sehingga melupakan subtansi pendidikan yang sebenarnya. Melihat kebermanfaatan, sebenarnya study tour sanggat minim out put, justru merugikan wali murid yang kurang mampu. Bisa dibilang, study tour ladang kapitalisme modern yang dikemas dalam dunia pendidikan. Seharusnya pendidikan memerdekakan, bukan menindas.

Study tour, atau kunjungan studi, telah lama menjadi bagian integral dari kurikulum pendidikan di banyak sekolah. Konsepnya sederhana, membawa siswa keluar dari lingkungan kelas untuk mengalami dan belajar dari dunia nyata. Namun, seiring berjalannya waktu, study tour telah mengalami perubahan signifikan, terutama dalam konteks kapitalisme yang semakin mengakar dalam sistem pendidikan. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan penting, apakah study tour masih murni bertujuan edukatif, atau telah menjadi ladang kapitalisme dalam pendidikan?

Awalnya, study tour dirancang sebagai metode pembelajaran di luar kelas yang memberikan siswa kesempatan untuk mendapatkan pengalaman langsung yang tidak bisa diperoleh di sekolah. Misalnya, mengunjungi museum, tempat bersejarah, atau situs alam untuk memperdalam pemahaman mereka tentang pelajaran tertentu.

Namun, seiring waktu, study tour telah berkembang menjadi industri besar yang melibatkan agen perjalanan, penyedia jasa wisata edukatif, dan berbagai pihak komersial lainnya. Perubahan ini tidak hanya mengubah cara study tour dilaksanakan, tetapi juga mempengaruhi esensi dan tujuan dari kegiatan tersebut. Sehingga yang diuntungkan oknum guru dan jasa travel yang telah menjadi langganan. Lalu, siapa yang diuntungkan? Murid yang dianggap butuh pembelajaran di luar kelas, justru telah menjadi market bisnis pariwisata. Cukup sial memang, jika pendidikan hanya dijadikan ladang cuan

Salah satu aspek yang menonjol dari komersialisasi study tour adalah biaya yang tinggi. Sekolah sering kali bekerja sama dengan agen perjalanan yang menawarkan paket lengkap dengan harga yang cukup mahal. Biaya ini mencakup transportasi, akomodasi, tiket masuk ke berbagai tempat wisata, dan lain-lain. Meskipun banyak orang tua rela membayar demi pengalaman belajar yang berharga bagi anak-anak mereka, tidak bisa dipungkiri bahwa biaya ini bisa menjadi beban finansial, terutama bagi keluarga dengan pendapatan terbatas.

Selain itu, ada kecenderungan untuk mengunjungi destinasi yang lebih menarik secara komersial daripada edukatif. Misalnya, kunjungan ke taman hiburan atau pusat perbelanjaan sering kali dimasukkan dalam itinerary study tour. Meskipun tempat-tempat ini mungkin menyenangkan bagi siswa, nilai edukatifnya bisa dipertanyakan dibandingkan dengan kunjungan ke museum, situs sejarah, atau institusi pendidikan.

Dampak Kapitalisme pada Pendidikan

Kapitalisme dalam study tour tidak hanya berpengaruh pada aspek finansial, tetapi juga pada nilai dan tujuan pendidikan itu sendiri. Ketika study tour menjadi komoditas, ada risiko bahwa fokus utama bergeser dari pendidikan ke keuntungan finansial. Sekolah dan penyedia jasa wisata mungkin lebih mementingkan aspek komersial daripada manfaat edukatif bagi siswa.

Fenomena ini juga memperkuat kesenjangan sosial dalam pendidikan. Siswa dari keluarga mampu dapat menikmati study tour yang lebih mahal dan beragam, sementara siswa dari keluarga kurang mampu mungkin tidak memiliki kesempatan yang sama. Hal ini menciptakan ketidakadilan dalam akses terhadap pengalaman belajar yang berharga, yang seharusnya menjadi hak semua siswa.

Upaya Mengembalikan Nilai Edukatif Study Tour

Meskipun demikian, ada langkah-langkah yang dapat diambil untuk mengembalikan nilai edukatif study tour dan mengurangi dampak negatif kapitalisme dalam kegiatan ini. Beberapa di antaranya adalah:

  • Memprioritaskan tujuan edukatif: Sekolah harus lebih selektif dalam memilih destinasi study tour, memastikan bahwa tempat yang dikunjungi memiliki nilai edukatif yang tinggi.
  • Transparansi biaya: Agen perjalanan dan sekolah harus transparan mengenai biaya yang dikenakan dan memastikan bahwa biaya tersebut sepadan dengan manfaat edukatif yang diperoleh siswa.
  • Menyediakan subsidi: Sekolah dapat bekerja sama dengan pemerintah atau pihak swasta untuk menyediakan subsidi bagi siswa dari keluarga kurang mampu, sehingga semua siswa memiliki kesempatan yang sama untuk ikut serta dalam study tour.
  • Menggunakan sumber daya lokal: Memanfaatkan sumber daya lokal dan mengadakan kunjungan ke tempat-tempat edukatif yang lebih terjangkau di sekitar sekolah.

Study tour memiliki potensi besar sebagai alat pendidikan yang efektif, namun perlu upaya untuk menjaga tujuan edukasi menjadi prioritas utama. Dengan mengatasi pengaruh kapitalisme yang berlebihan, study tour dapat kembali menjadi pengalaman belajar yang mencerahkan dan bermanfaat bagi semua siswa, tanpa memandang latar belakang ekonomi. Sehingga, pendidikan tetap menjadi alat untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, bukan sekadar komoditas dalam roda kapitalisme. (*)

Artikel Terkait