wilwatekta.com

Seorang Pasien yang Tidak Pernah Bertanya Biaya Perawatan Rumah Sakit: Tahu-Tahu Sangat Mahal

Foto: kelassmart.com

Ari (42), sedari awal sudah menyadari bahwa biaya perawatan pasien umum di rumah sakit itu mahal. Karenanya, dia sudah menyiapkan secukup uang untuk biaya perawatan anaknya di rumah sakit M. Namun, ternyata biaya yang harus dibayar jauh lebih mahal dari yang dibayangkan. Bahkan, saking mahalnya, membayangkannya pun tidak sempat.

——-

WILWATEKTA.COM – Rasa cemas, bingung, dan tidak tahu harus melakukan apa, itu tampak bekelindan jelas dalam setiap guratan wajah Ari. Ada semacam eksrepsi wajah yang tidak percaya melihat rekapan biaya rawat inap anaknya selama lima hari di rumah sakit. Hampir saja dia shock melihat begitu besarnya biaya yang harus dibayarkan.

Bagaimana tidak, uang yang disiapkan sudah menggunakan rumus batas maksimal dari biaya yang diperkirakan paling mahal, setidaknya menurut dia. Tapi tidak disangka, rumus maksimal yang sudah disiapkan sejak awal itu ternyata tidak berlaku. Biaya rumah sakit pasien untuk gejala paru yang harus dibayar itu sungguh jauh dari yang dibayangkan diawal.

“Saya sudah menyiapkan uang Rp 12 juta. Perkiraan saya, biayanya tidak sampai segitu (Rp 12 juta). Tapi ternyata malah tidak seperti yang saya bayangkan. Biayanya mencapai Rp 17 jutaan,” katanya dengan ekspresi cemas yang masih belum terurai dari wajahnya. Sebaliknya, semakin detail dia mengamati setiap rincian biaya yang harus dibayar, semakin dalam rasa cemasnya.

“Bingung ini, harus cari uang kemana. Ini sudah hampir tengah malam,” katanya dengan nada sendu ingin meneteskan air mata, tapi ditahannya air mata itu dengan kuat-kuat, namun tetap saja menetes dan membentuk sungai-sungai kecil di pipnya yang mulai berkerut itu.

Malam bertambah larut. Jarum jam menunjukan pukul 23.00 WIB. Rasa gelisah Ari semakin dalam. Mondar-mandir tidak jelas di depan loket kasir. Sendirian, tanpa seorang saudara maupun kerabat dekat, sebab pendemi Covid-19 ini melarang banyak orang menunggui pasien. Beberapa kerabat dan saudara yang dihubunginya belum tersambung. Mungkin saja saudara dan kerabatnya sudah terlelap.

Ari tidak putus asa. Bagaimana pun caranya, malam itu segala urusan administrasi harus tuntas supaya anaknya bisa segera dibawa pulang. Sebab, jika sampai kelewat tengah malam dan berganti hari, persoalan biaya akan semakin berat lagi. Karena secara otomatis sudah masuk hitungan bertambah satu hari lagi.

Toh selama menjalani perawatan di rumah sakit, kondisi kesehatan anaknya tidak banyak berubah. Pasien masih terus merasakan sakit, meski tidak separah sebelumnya.

Beberapa nomor telepon saudara dan kerabat terus dihubungi hingga akhirnya tersambung dan diangkat. Rasa cemas itu mulai sedikit lepas. Soal biaya perawatan yang terlampau mahal itu mulai dilupakannya. Ibu dua anak itu mulai bisa mengendalikan rasa cemasanya. Besarnya biaya yang harus dibayarkan itu mulai dia ikhlaskan. ‘’Saya mulai bisa mengendalikan rasa cemas, itu setelah berfikir bahwa uang masih bisa dicari,’’ tuturnya.

Setelah semua urusan administrasi yang kelewat mahal itu beres, akhirnya Ari bisa pulang dengan lega. Ada semacam kemenangan melawan mahalnya biaya rumah sakit, meski harus berhutang.

“Sudah, semoga ini yang terakhir. Kapok saya berobat di sini,” katanya, tapi tidak ada penyesalan atas keputusannya. Sebab semua sudah digariskan-Nya.

Pasien Tidak Pernah Mendapat Informasi Daftar Biaya Periksa dan Harga Obat

Ari tidak menyesal dengan kejadian yang dialaminya. Bagi dia, “keblondroannya” soal biaya perawatan rumah sakit pasien umum yang terlampau mahal, itu murni karena tidak pernah terfikirkan sebelumnya. Kadatangannya ke rumah sakit untuk berobat hanya bermodalkan percaya kepada rumah sakit dan dokter.

“Sejak masuk pertama hingga menjelang pulang, saya tidak pernah tanya kepada petugas soal biaya. Padahal, itu ternyata penting untuk mengestimasi berapa biaya yang harus saya keluarkan. Tapi saya tidak melakukan itu. Inilah kebodohan saya,” katanya menyesali kecerobohannya.

Diutarakan Ari, dari total biaya perawatan di rumah sakit yang harus dibayar tersebut, hampir 80 persen adalah biaya obat. Sungguh di luar dugaan, ternyata resep dari dokter itu sangat mahal. Dan sebagai pasien umum, oleh dokter dicarikan obat yang paten. Yang ketika menggunakan resep dokter mahalnya minta ampun. Padahal, pasien juga bisa memiliih obat generik. Jenis obat yang memiliki standar harga terjangkau.

“Kami tidak pernah mendapatkan informasi ini dari petugas, suster maupun dokternya langsung. Tapi saya menyadari ini kebodohan saya, kenapa tidak saya yang tanya. Sebab, mana mungkin kami akan diberikan penjelasan sampai sedetail itu,” papar Ari yang akan menjadi pengalaman berharga di kemudian hari. Tapi tidak pernah berharap untuk dirinya, melainkan kepada orang yang membutuhkan informasi.

Harusnya, tegas Ari, pihak rumah sakit bisa terbuka soal biaya. Ibarat sebuah restoran. Alangkah indahnya jika biaya perawatan itu bisa disampaikan kepada pasien di depan, layaknya menu makanan di restoran. Sehingga kalau kelewat mahal, pasien bisa pindah rumah sakit atau mencari pengobatan lain yang bisa dijangkau kantong-kantong kaum menengah ke bawah.

Artikel Terkait