wilwatekta.com

Sekolah Hanya Mengajarkan Menjadi Pekerja, Bukan Pemilik Usaha

Ilustrasi. Wilwatekta.com

WILWATEKTA.COM Sistem pendidikan modern sering dibanggakan sebagai ruang mencetak “orang pintar”. Belasan tahun kita ditempa menghafal rumus matematika, teori ekonomi, sejarah kerajaan, hingga istilah-istilah akademik yang terdengar megah. Kita capek mengerjakan tugas, ulangan, dan ujian demi satu hal: ijazah yang dianggap sebagai tiket masa depan aman.

Namun ada ironi besar di balik itu semua. Setelah memasuki dunia kerja, banyak dari kita justru gagap menghadapi persoalan paling dekat dengan kehidupan: cara mengatur uang, membangun pondasi finansial, dan mengelola asset.

Kita tahu luas segitiga, tetapi tak tahu cara membuat saldo aman sampai akhir bulan. Kita paham apa itu pasar bebas, tetapi belum paham bagaimana membuat uang bekerja untuk kita—alih-alih kita yang bekerja mati-matian setiap hari.

Sekolah memang sukses mengajarkan kecerdasan otak, tetapi gagal mengajarkan kecerdasan hidup. Sistem pendidikan mencetak murid menjadi pekerja patuh, bukan pemilik aset atau pengelola sumber daya.

Sejak kecil kita dijejali nasihat klasik: “Belajar yang rajin biar nanti dapat kerja bagus.”

Ungkapan sederhana ini membentuk pola pikir generasi demi generasi. Seolah jalur hidup manusia sudah digariskan: sekolah → kuliah → kerja → gaji bulanan → hidup aman.

Masalahnya, jalur itu tidak selalu membawa pada kebebasan finansial. Yang terjadi justru sebaliknya. Sistem pendidikan mempersiapkan kita untuk masuk ke dalam struktur pekerjaan, bukan menciptakan struktur baru.

Kita dilatih mengikuti instruksi, mematuhi jadwal, mengerjakan tugas—tanpa banyak bertanya mengapa sesuatu harus dilakukan.

Kita dibentuk menjadi pribadi yang produktif sebagai tenaga kerja, tetapi hampir tidak pernah diajarkan bagaimana menjadi individu yang punya kendali atas sumber penghasilannya sendiri.

Kita hafal teori permintaan dan penawaran, tetapi tidak ada kelas yang mengajarkan bagaimana memulai usaha kecil dengan modal terbatas. Kita tahu definisi investasi, namun tidak pernah diajari cara menentukan instrumen yang sesuai dengan kondisi keuangan pribadi. Kita mengerti konsep pendapatan nasional, tetapi bingung bagaimana cara menaikkan pendapatan diri sendiri.

Kritik dari Filsafat Pendidikan

Para filsuf pendidikan jauh sebelum era modern sebenarnya sudah memberikan peringatan. Paulo Freire, tokoh pendidikan kritis, menyebut sistem sekolah tradisional sebagai banking education—pendidikan gaya bank: murid hanya menerima “setoran” pengetahuan dari guru tanpa dilatih berpikir kritis atau mencipta. Murid dicetak sebagai objek, bukan subjek kehidupan.

Dalam kerangka Freire, sekolah hari ini lebih banyak memproduksi buruh pengetahuan (knowledge workers) yang pandai mengingat, tetapi kurang terlatih mengambil keputusan atas hidupnya sendiri—terutama dalam urusan finansial.

Sementara itu, John Dewey menegaskan bahwa pendidikan seharusnya menghubungkan murid dengan pengalaman hidup nyata (learning by doing). Tetapi sistem sekolah modern justru mengurung murid dalam ruang kelas, jauh dari praktik kehidupan ekonomi yang sesungguhnya.

Dewey pasti menggelengkan kepala melihat betapa sekolah mengajarkan teori ekonomi, tapi tidak mengajarkan bagaimana memulai usaha rumahan, mengelola risiko, atau mengembangkan aset.

Ivan Illich, dalam kritik radikalnya terhadap institusi sekolah, bahkan mengatakan bahwa sekolah sering kali menjadi alat pelanggeng sistem sosial-ekonomi yang sudah mapan. Murid disiapkan untuk masuk ke mesin industri, bukan keluar dari sistem itu untuk menciptakan peluang baru.

Dengan kata lain, kritik para filsuf pendidikan ini memperkuat kesimpulan: sistem pendidikan yang tidak adaptif akan selalu mencetak pekerja, bukan pemilik usaha atau pemilik aset.

Akar Finansial Dimulai dari Cara Kita Dididik

Di sinilah akar masalah finansial generasi kita mulai tumbuh. Kita dididik untuk mencari pekerjaan, bukan menciptakan pekerjaan.

Kita diarahkan untuk mencari gaji, bukan membangun aliran pemasukan. Kita dilatih untuk disiplin, tetapi tidak dilatih untuk mandiri secara finansial.

Kemampuan yang paling vital dalam hidup—mengelola uang, mengembangkan aset, membuat uang bekerja—justru tidak pernah menjadi bagian dari mata pelajaran inti.

Padahal, inilah fondasi dasar agar setiap individu bisa bertahan, berkembang, dan merdeka secara ekonomi.

Sistem sekolah mencetak kepatuhan, bukan keberanian mengambil risiko. Ia mengajarkan rutinitas, bukan kreativitas. Ia memelihara kepintaran kognitif, bukan kecerdikan hidup.

Dan pada akhirnya, banyak orang tumbuh menjadi pintar di atas kertas, tetapi miskin strategi dalam menghadapi kehidupan nyata.

Pendidikan Harus Berubah Arah

Kita tidak sedang menyalahkan guru atau lembaga pendidikan secara personal. Kita sedang mengkritisi sistem yang terlalu lama bertumpu pada tradisi lama, tetapi enggan beradaptasi dengan realitas baru.

Dunia berubah. Ekonomi berubah. Cara bekerja berubah. Tetapi sekolah tetap mengajarkan hal-hal yang tidak seluruhnya relevan dengan kebutuhan hidup modern.

Pendidikan masa depan seharusnya menyeimbangkan kecerdasan akademik dengan kecerdasan finansial. Mengajarkan murid bukan hanya cara menjadi pekerja yang baik, tetapi juga pemilik usaha, pengelola aset, dan manusia yang memiliki kendali atas hidupnya sendiri.

Karena pada akhirnya, ijazah memang penting. Tapi kemampuan bertahan dan berkembang dalam kehidupan jauh lebih penting daripada sekadar angka di selembar kertas. (Wawan)

Artikel Terkait