wilwatekta.com

Satu Semester Menjelajah Dunia Sastra: Belajar Apa?

WILWATEKTA.COM — Ketika pertama kali melihat mata kuliah Sejarah Sastra terpampang di lembar rencana studi, pikiran saya langsung dipenuhi bayangan masa lalu: deretan tahun yang harus dihafal, angkatan-angkatan dengan nama-nama besar, serta karya-karya yang seolah menuntut ketekunan monastik.

Jujur saja, saya sempat mengira perkuliahan ini akan berjalan kaku, berat dan jauh dari kata menyenangkan. Namun, satu semester berlalu dan prasangka itu runtuh seperti debu tersapu angin.

Saya menyadari bahwa perjalanan bangsa bukan hanya ditulis oleh para prajurit atau politisi, tetapi juga oleh tangan-tangan sunyi para pengarang yang hidup di zamannya.

Perkuliahan ini membuka jendela panjang yang memperlihatkan dinamika sastra Indonesia dari pra-kemerdekaan hingga era kontemporer yang serba digital.

Saya mulai memahami bahwa sastra selalu lahir dari pergumulan zaman: dari kecemasan, dari pergolakan batin, dari politik dan sosial yang berdenyut, hingga dari suara hati yang tak sempat terucap.

Dari masa ke masa, sastra Indonesia tumbuh dalam warna yang tak pernah sama. Pada periode pra-kemerdekaan, karya-karya lahir sebagai bisikan perlawanan: lembut, tetapi tegas dalam menyuarakan kebangsaan.

Pada masa Pujangga Baru, sastra berubah menjadi medan pembaharuan—ideal, segar dan penuh keyakinan bahwa Indonesia mampu berdiri sejajar dengan kebudayaan dunia.

Balai Pustaka mengajarkan bahwa sastra dapat menjadi cermin yang tajam. Konflik sosial, benturan tradisi dan modernitas, tekanan hidup di bawah kolonialisme—semua ditangkap dengan hati-hati dan tertib. Seolah para pengarang sedang menulis dengan napas yang ditahan.

Lalu datang Angkatan 45, yang menulis seolah waktu hampir habis. Kalimat-kalimat mereka adalah teriakan dari generasi yang mendamba kemerdekaan, lugas dan penuh nyala keberanian.

Setelahnya, dalam kurun 1966–1998, suara-suara menjadi lebih kritis dan subversif. Para penulis hidup dalam bayang-bayang kekuasaan, tetapi dari tekanan itulah lahir simbol, metafora, dan kritik yang tajam sekaligus elegan.

Sastra kontemporer lalu meledak dengan kecepatan yang tak pernah dibayangkan generasi sebelumnya. Bahasa menjadi lebih bebas, tema lebih luas dan medium penulisan berkembang jauh melampaui halaman kertas.

Di era Instagram, TikTok, dan Wattpad, hampir siapa pun bisa menjadi pengarang. Suatu gelombang kreativitas yang meriah, meski sekaligus membawa tantangan: bagaimana menjaga kualitas di tengah banjir ekspresi yang begitu cepat?

Refleksi Satu Semester: Membaca Manusia Lewat Karya

Satu semester mengarungi sejarah sastra membuat cara pandang saya berubah. Dulu saya membaca karya hanya untuk hiburan—jika menarik saya teruskan, jika berat saya tinggalkan.

Kini saya memahami bahwa setiap karya lahir bersama denyut zaman. Ada keresahan yang dititipkan, ada pengalaman yang direkam, ada luka dan harapan yang disembunyikan di balik paragraf-paragrafnya.

Saya tersadar bahwa pengarang bukanlah sosok yang menulis di ruang kosong. Mereka hidup dalam pusaran sosial, politik, budaya dan teknologi. Atas berbagai fenomena itu membentuk cara mereka memandang dunia.

Diskusi-diskusi kelas membuat saya mengerti: sastra itu dinamis.

Teknologi mengubah gaya penulisan; kebebasan digital melahirkan ragam baru ekspresi dan membaca karya lama menjadi lebih menarik ketika kita memahami konteks di baliknya.

Membaca sastra ternyata adalah cara paling manusiawi untuk memahami sejarah—sejarah yang dituturkan bukan oleh pemenang, melainkan oleh manusia biasa.

Relevansi dalam Pendidikan: Membawa Siswa Masuk ke Dunia Pengarang

Sebagai mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, saya mulai melihat bagaimana sejarah sastra dapat menjadi pintu pembelajaran yang lebih hidup.

Saya tidak ingin kelak siswa hanya menghafal judul, tema, atau struktur karya. Saya ingin mereka masuk ke dunia para pengarang: mengerti mengapa tokoh mengambil keputusan tertentu, mengapa tema sosial begitu dominan, atau mengapa bahasa pada satu periode terasa kaku dan pada periode lain begitu meledak-ledak.

Dengan memahami sejarah sastra, siswa diajak melihat bahwa setiap karya memiliki konteks. Inilah fondasi yang dapat menumbuhkan sikap kritis—kemampuan menghubungkan teks dengan realitas sosial, baik masa lampau maupun kini.

Sejarah sastra bukan teori yang berdiri di rak buku; ia adalah jembatan untuk memahami nilai, budaya, dan perjalanan masyarakat Indonesia.

Sikap Kritis di Tengah Ledakan Literasi Digital

Perkembangan literasi digital di Indonesia adalah anugerah sekaligus tantangan. Di satu sisi, tulisan menjadi lebih mudah diakses dan dibagikan.

Banyak orang mulai menulis, banyak cerita lahir dari sudut-sudut yang dulu sunyi. Namun di sisi lain, arus digital sering melahirkan karya yang tergesa-gesa: viral karena sensasi, bukan kedalaman.

Fenomena “otak popcorn”—kecenderungan membaca singkat dan cepat—membuat sebagian pembaca kehilangan kemampuan menyaring informasi dan makna.

Di tengah perubahan ini, sikap kritis menjadi penting. Sastra modern perlu dirayakan, tetapi kualitas tetap harus dijaga.

Kita perlu mendorong pembaca untuk berani menyelami karya-karya yang lebih kaya nilai, lebih menantang pikiran dan lebih mengasah rasa.

Dengan begitu, sastra Indonesia dapat terus berkembang tanpa kehilangan akar budayanya.

Sastra sebagai Cermin Perjalanan Manusia

Setelah satu semester, saya mengibaratkan sastra sebagai cermin panjang yang memantulkan perjalanan manusia Indonesia—perjuangan, kegelisahan, perubahan, dan harapan.

Membaca sastra adalah membaca kehidupan itu sendiri.

Setiap angkatan membawa suara zamannya: Balai Pustaka dengan kehati-hatiannya, Angkatan ’45 dengan perlawanan, penulis Orde Baru dengan simbol tersembunyi, dan generasi digital dengan spontanitas yang dekat dengan keseharian.

Sastra adalah ruang aman tempat manusia menyembunyikan atau menumpahkan yang tak mampu ia ucapkan. Ada yang menulis puisi untuk menahan luka, ada yang menulis cerpen untuk menyampaikan kritik, ada yang menulis novel untuk merawat kenangan.

Dan dari semua itu, saya belajar satu hal: setiap zaman memiliki ceritanya, dan setiap cerita memiliki caranya sendiri untuk menyentuh manusia. (Amelia HK)

Tentang Penulis: Mahasiswa UNESA Fakultas Bahasa dan Seni, Semester 1

Artikel Terkait