wilwatekta.com

Renungan Rakjat: Mahasiswa, Masihkah Keadilan Sosial Berada di Tanganmu?

WILWATEKTA.COM — Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Institut Agama Islam Tarbiyatut Tholabah (IAI TABAH) menggelar kegiatan Diskusi Buku bertajuk Renungan Rakjat pada Selasa (30/12/2025). Kegiatan ini dilaksanakan di Lucky Coffee Kemantren dan dimulai pukul 17.00 WIB dengan diikuti oleh mahasiswa dari berbagai latar belakang.

Diskusi diawali dengan sesi membaca bersama buku yang akan dibedah, kemudian dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh peserta secara bergantian. Suasana diskusi berlangsung dinamis melalui sesi sharing dan dialog interaktif antar peserta, yang membuka ruang refleksi kritis mengenai peran dan tanggung jawab mahasiswa di tengah realitas sosial saat ini.

Buku Mahasiswa!! Revolusimu Belum Selesai karya Mutholibin dipilih sebagai bahan diskusi perdana. Buku ini mengulas spirit perjuangan mahasiswa, refleksi atas gerakan mahasiswa lintas zaman, serta berbagai problem yang dihadapi mahasiswa hari ini. Tema yang diangkat dinilai relevan sebagai gerbang transisi kesadaran mahasiswa dari status siswa menuju insan akademik yang kritis dan bertanggung jawab secara sosial.

Diskusi buku ini bertujuan membekali mahasiswa—khususnya kader PMII—dengan wawasan dan strategi praktis dalam membangun jati diri mahasiswa ideal, yakni mahasiswa yang mampu mengamalkan ilmunya bagi kemaslahatan masyarakat.

Kegiatan ini juga menjadi respons atas realitas minimnya budaya literasi serta menguatnya pola pikir pragmatis di kalangan mahasiswa akibat derasnya arus globalisasi dan informasi. Kondisi tersebut dinilai berkontribusi pada melemahnya spirit perjuangan mahasiswa dalam menegakkan keadilan sosial dan membela kaum lemah (mustad‘afin).

Dalam kesempatan tersebut, Ketua Komisariat PMII IAI TABAH, Sahabat Jamhari Lil Hikam, menegaskan pentingnya menumbuhkan kecintaan terhadap ilmu pengetahuan dan budaya literasi sebagai fondasi peradaban.

“Saya, Jamhari Lil Hikam, selaku Ketua Komisariat, ingin menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh audiens yang telah meluangkan waktu di tengah huru-hara duniawi untuk mengikuti kegiatan ini dengan penuh khidmat dan kesadaran,” ungkapnya.

Pernyataan ini bukan sekadar ungkapan apresiasi, melainkan refleksi kekaguman atas konsistensi peserta yang tetap bertahan di tengah derasnya arus tren yang kurang mendidik.

Salah satu bab yang menjadi sorotan dalam diskusi adalah “Mahasiswa Menulislah”. Bab ini menegaskan bahwa mahasiswa menyandang peran sebagai intelektual organik, sehingga identitas mahasiswa tak terpisahkan dari aktivitas membaca dan menulis.

Jika kedua tradisi tersebut tidak dilestarikan, maka predikat mahasiswa akan kehilangan maknanya. Pudarnya peran intelektual ini dikhawatirkan akan berujung pada runtuhnya posisi mahasiswa sebagai agen perubahan sosial.

Diskusi semakin hidup dengan munculnya berbagai pertanyaan kritis dari peserta, seperti mengapa membaca dan menulis identik dengan mahasiswa, bagaimana praktik membaca dan menulis yang ideal, mengapa mahasiswa masa kini cenderung malas membaca, serta faktor-faktor apa saja yang melatarbelakangi fenomena tersebut. Seluruh pertanyaan tersebut dibahas secara mendalam hingga menghasilkan kesimpulan yang konkret dan aplikatif.

Menjelang akhir kegiatan, diskusi ditutup dengan pembahasan Rencana Tindak Lanjut (RTL) sebagai upaya menjaga keberlanjutan gerakan literasi, dilanjutkan dengan makan bersama dan sesi foto bersama.

Melalui kegiatan Renungan Rakjat ini, PMII IAI TABAH berharap mahasiswa mampu mempersiapkan diri secara matang dalam menjawab berbagai persoalan masyarakat, dengan bekal ilmu pengetahuan yang kuat serta spirit perjuangan yang tetap menyala demi terwujudnya keadilan sosial. (*)

Artikel Terkait