wilwatekta.com

Pramoedya Ananta Toer: Pejuang Kemanusiaan dan Inspirasi Gerakan Literasi di Tuban

WILWATEKTA.COM – Diskusi literasi yang diselenggarakan oleh Gerakan Tuban Menulis (GTM) menjadi momen reflektif yang penuh makna, membahas sosok dan warisan intelektual Pramoedya Ananta Toer. Acara ini dalam rangka 10 tahun GTM dan peringatan satu abad Bung Pramoedya dengan menghadirkan tiga tokoh literasi Tuban, yakni Kiai Joyo Juwoto dan akademisi muda Kumaidi dengan dipandu oleh Zubaidi Khan. Kegiatan tersebut terlaksana di Puncak Banyulangsih pada, Senin (27/02/25).

Diskusi ini pun menjadi lebih dari sekadar peringatan, tetapi juga momentum untuk membangun komitmen bersama dalam memajukan literasi di Kabupaten Tuban. Peserta diajak untuk melihat literasi sebagai jalan menuju perubahan sosial dan intelektual yang lebih besar. Dalam diskusi tersebut, Bung Pramoedya digambarkan sebagai pejuang kemanusiaan yang abadi, meskipun di masanya kerap dianggap kontroversial.

Ketua GTM Mutholibin menuturkan, Bung Pram adalah sosok yang memberikan pandangan berbeda, sangat Pancasilais, meskipun di masanya dia sering dianggap kontroversial. Ia menekankan bahwa Pramoedya adalah bukti nyata bagaimana seseorang dapat tetap produktif dan konsisten dalam berkarya, meskipun berada dalam tekanan dan keterbatasan. Bahkan selama bertahun-tahun di balik jeruji penjara, Pramoedya tetap setia pada prinsipnya, terus menulis dan membangun kesadaran melalui kata-kata.

“Pram menunjukkan bahwa pena adalah senjata paling tajam untuk membangun kesadaran,” tambah Bung Bin. Bagi GTM, warisan semangat dan kegigihan Pramoedya menjadi inspirasi penting dalam membangun budaya literasi di Tuban.

Lebih lenjut Bung Bin menambahkan, Selama satu dekade terakhir GTM telah aktif menggerakkan masyarakat untuk menulis, membaca, dan merawat tradisi literasi. Namun, diskusi kali ini tidak hanya menjadi ajang mengenang Pramoedya, tetapi juga menjadi titik awal untuk memperdalam pemahaman tentang bagaimana literasi bisa menjadi fondasi peradaban modern.

Salah satu peserta diskusi, Sifyani, menyampaikan komitmennya terhadap gerakan literasi di Tuban. “Sepuluh tahun GTM ini adalah awal. Kami ingin terus melangkah, merawat, dan mengembangkan literasi untuk semua kalangan,” katanya. Pernyataan ini sejalan dengan visi GTM yang ingin menjadikan Tuban sebagai pusat literasi yang hidup, dinamis, dan berkelanjutan.

Diskusi ini juga membawa peserta menyelami lebih dalam karya-karya Pramoedya, yang mengangkat berbagai tema sosial-politik, budaya, pendidikan, hingga problematika masyarakat. Dengan gaya sastra yang khas, Pramoedya tidak hanya mencatat sejarah, tetapi juga memotret realitas bangsa yang kompleks. Melalui karyanya, ia mengajarkan kita untuk tidak hanya memahami, tetapi juga mempertanyakan dan mengkritisi situasi yang ada.

“Pramoedya bukan sekadar penulis. Dia adalah cermin bangsa yang mengajarkan kita untuk berpikir kritis,” ujar Kumaidi, salah satu narasumber dalam diskusi tersebut. Pendapat ini menggarisbawahi bahwa karya Pramoedya tetap relevan sepanjang masa dan memiliki kekuatan untuk menginspirasi generasi baru.

Semangat Pramoedya yang melampaui zaman terasa mengalir dalam suasana diskusi. Warisannya menjadi pengingat bahwa literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis, tetapi sebuah alat untuk mendorong perubahan, membangun kesadaran, dan memperkuat rasa kemanusiaan.

Sementara itu Ki Joyo Juwoto menegaskan bahwa literasi harus melampaui batas kegiatan seremonial. “Kita ingin semangat literasi tidak hanya menjadi kegiatan sesaat, tetapi benar-benar menjadi bagian dari budaya sehari-hari masyarakat Tuban,” tegasnya.

GTM percaya bahwa dengan menanamkan literasi sebagai kebiasaan yang berakar kuat, Tuban dapat menjadi model kota literasi yang menginspirasi  bagi daerah lain. Dengan mengambil inspirasi dari Pramoedya, GTM berupaya menjadikan Tuban sebagai simbol kekuatan intelektual.

Dengan merawat warisan Pramoedya mengajarkan bahwa dalam keterbatasan pun, seseorang tetap bisa berkarya untuk kebaikan banyak orang. Literasi, seperti yang dicontohkan oleh Pramoedya, adalah alat ampuh untuk membangun kesadaran, mendorong perubahan, dan merawat peradaban.

Melalui gerakan ini, GTM menegaskan dirinya sebagai gerakan literasi yang tidak hanya menghargai sejarah, tetapi juga terus menciptakan masa depan yang lebih cerah melalui kekuatan kata-kata. Literasi adalah harapan untuk Tuban, bersama GTM, berkomitmen untuk menjaga harapan itu tetap hidup. (*)

Artikel Terkait