wilwatekta.com

Pengajar: Jadi Tuntunan Atau Tontonan?

Foto: Kemendikbud.go.id

Oleh: Achmad Reza Rafsanjani

Duta Damai Jawa Timur (INAS PMB) Angkatan IV

WILWATEKTA.COM – Perkembangan teknologi digital dalam beberapa dekade terakhir telah membawa perubahan yang sangat besar dalam berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk cara mereka menimba ilmu pengetahuan dan menggali informasi. Jika pada masa lalu seseorang yang ingin memperdalam ilmu pengetahuan harus bersusah payah mencari guru yang memiliki sanad keilmuan yang jelas, terpercaya, dan dapat dipertanggungjawabkan, kini hal tersebut telah bergeser. Dahulu, proses belajar berlangsung secara langsung (muwajahah), di mana murid tidak hanya belajar dalam suasana yang penuh kehangatan dan kedekatan personal, tetapi juga memiliki kesempatan untuk berdiskusi, bertanya, dan menerima bimbingan langsung dari guru.

Namun, di era digital ini, segala hal menjadi lebih mudah dijangkau. Cukup dengan membuka internet, seseorang dapat menemukan ribuan bahkan jutaan sumber informasi, baik berupa tulisan, video, atau media lainnya, yang memungkinkan mereka untuk memilih guru atau tokoh yang dianggap sesuai dengan kebutuhan dan preferensi pribadi mereka.

Meskipun akses terhadap ilmu pengetahuan menjadi jauh lebih mudah dan terbuka bagi semua orang, kemudahan ini tidak serta-merta menjamin bahwa apa yang diperoleh memiliki kualitas dan keabsahan yang sesuai dengan standar keilmuan yang seharusnya. Salah satu tantangan besar yang muncul dari kemudahan akses ini adalah kenyataan bahwa tidak semua informasi yang tersedia di internet memiliki landasan keilmuan yang kuat atau didasarkan pada data yang valid. Bahkan, dalam banyak kasus, konten yang disajikan di berbagai platform online sering kali bersifat menyesatkan, mengandung informasi yang salah, atau menyajikan interpretasi yang tidak tepat. Akibatnya, selektivitas menjadi hal yang sangat penting bagi siapa saja yang ingin menimba ilmu melalui media digital, terutama dalam konteks menentukan sumber mana yang layak dipercaya dan diikuti.

Fenomena lain yang tidak kalah menarik dan cukup memprihatinkan di era digital ini adalah berubahnya bentuk dakwah atau penyampaian ilmu menjadi sekadar tontonan. Banyak pendakwah atau pengajar, terutama mereka yang beraktivitas di dunia maya, lebih memilih untuk menonjolkan unsur hiburan dalam cara mereka menyampaikan materi. Lelucon, candaan, dan gaya penyampaian yang memikat sering kali menjadi daya tarik utama yang digunakan untuk menarik perhatian audiens. Sayangnya, pendekatan ini kerap mengorbankan esensi dari materi utama yang sebenarnya jauh lebih penting untuk disampaikan dan dipahami oleh audiens. Akibatnya, apa yang seharusnya menjadi momen pembelajaran mendalam dan refleksi berubah menjadi sekadar hiburan yang hanya memberikan kesan sesaat tanpa meninggalkan pemahaman yang substansial.

Fenomena tersebut tidak hanya terbatas pada dunia dakwah, tetapi juga terjadi di berbagai bidang keilmuan lainnya. Generasi muda, yang secara umum lebih konsumtif terhadap konten digital, sering kali memiliki kecenderungan untuk memilih tontonan yang ringan, lucu, dan menghibur dibandingkan dengan konten yang menyajikan pembahasan ilmiah atau materi yang bersifat serius. Algoritma media sosial yang dirancang untuk memaksimalkan interaksi juga turut memperparah situasi ini, karena algoritma cenderung memprioritaskan konten yang mendapatkan lebih banyak interaksi, terlepas dari kualitas isi yang disajikan. Konten-konten yang berbobot, meskipun menawarkan manfaat yang jauh lebih besar, sering kali kalah pamor dibandingkan dengan konten hiburan yang sifatnya dangkal namun menarik perhatian secara instan.

Meskipun kondisi ini cukup memprihatinkan, bukan berarti media sosial sepenuhnya kehilangan potensinya sebagai sarana edukasi atau ladang dakwah. Sebaliknya, media sosial memiliki peluang yang sangat besar untuk digunakan sebagai alat penyebaran ilmu pengetahuan, asalkan digunakan dengan strategi yang tepat dan terencana. Para pendakwah dan pengajar, misalnya, dapat menyajikan konten yang tidak hanya relevan tetapi juga dikemas dengan cara yang menarik.

Konten yang memiliki keseimbangan antara kedalaman ilmu dan kemasan yang visual serta bahasa yang sederhana dapat menarik perhatian audiens tanpa mengorbankan substansi dari materi yang disampaikan. Selain itu, pendekatan naratif yang mengandalkan kisah-kisah inspiratif atau pengalaman nyata sering kali menjadi cara yang efektif untuk menyampaikan pesan dengan lebih mudah diterima dan diingat oleh audiens.

Penting pula bagi pendakwah dan pengajar untuk memastikan bahwa setiap informasi yang disampaikan memiliki landasan yang kuat dan dapat dipertanggungjawabkan. Dengan menyebutkan referensi yang berasal dari kitab, penelitian, atau sumber terpercaya lainnya, mereka dapat menunjukkan kredibilitas dan menambah kepercayaan audiens terhadap materi yang dibawakan. Dalam konteks ini, penting bagi mereka untuk menghindari pendekatan yang sensasional, meskipun pendekatan tersebut cenderung lebih cepat viral. Sensasionalisme sering kali mengorbankan nilai keilmuan, sehingga fokus utama harus tetap pada penyampaian ilmu dan bukan sekadar popularitas semata.

Selain peran pendakwah atau pengajar, masyarakat sebagai konsumen digital juga memiliki tanggung jawab yang tidak kalah besar. Generasi saat ini perlu diajarkan untuk lebih selektif dalam memilih konten yang mereka konsumsi. Mereka harus memahami bahwa tidak semua informasi yang tersedia di internet dapat dipercaya begitu saja. Melakukan cross-check terhadap sumber, membaca ulasan, dan mencari referensi tambahan adalah langkah-langkah yang dapat membantu mereka menjadi konsumen digital yang cerdas.

Era digital telah memberikan kemudahan luar biasa dalam mengakses ilmu pengetahuan, tetapi kemudahan ini juga membawa tantangan baru, terutama dalam memastikan bahwa ilmu yang diperoleh berasal dari sumber terpercaya dan disampaikan dengan cara yang benar. Fenomena berubahnya dakwah atau penyampaian ilmu menjadi sekadar tontonan semata mencerminkan perubahan preferensi masyarakat dalam mengonsumsi konten.

Untuk mengatasi hal ini, diperlukan upaya bersama dari para pendakwah, pengajar, dan masyarakat agar media sosial dapat dimanfaatkan secara bijak. Dengan begitu, media sosial tidak hanya menjadi wadah hiburan yang bersifat sementara, tetapi juga dapat menjadi sumber tuntunan yang bermanfaat dan mampu menciptakan generasi yang tidak hanya berilmu, tetapi juga berakhlak mulia. (*)

Artikel Terkait