wilwatekta.com

Pemkab Tuban Kerja Sama dengan Perum Bulog, Ikhtiar Serap Gabah dan Beras Petani Lokal: Semoga Bukan Janji

WILWATEKTA.COM – Di tengah ketidak pastian kondisi ekonimi masyarakat petani. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tuban menegaskan komitmennya untuk meningkatkan kesejahteraan petani.  Sebagai bagian dari upaya tersebut, Pemkab Tuban bekerja sama dengan Perum Bulog guna menyerap gabah dan beras hasil panen petani lokal. Kebijakan itu diambil untuk memastikan stabilitas harga beras, mengurangi ketergantungan pada impor, serta memberikan keuntungan ekonomi yang lebih baik bagi petani setempat. Kita tahu selama ini bahwa petani sering mengalami kesulitan yang tak pernah habis dimakan oleh jaman. Kasus bibit mahal dan pupuk sulit juga bukan hal baru. Selain itu, ketika musim panen tak mendapatkan harga yang pantas.  

Sejalan dengan tujuan tersebut, Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP2P) Tuban menggelar Sosialisasi Penyerapan Gabah/Beras Petani oleh Bulog di Aula Dewi Sri pada Kamis (30/01/2025) lalu. Kegiatan ini dipimpin oleh Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekda Kabupaten Tuban, Endro Budi Sulistyo, dan dihadiri oleh Pimpinan Kantor Cabang Perum Bulog Bojonegoro, perwakilan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), serta penyuluh pertanian. Dalam sosialisasi ini, berbagai strategi dan kebijakan untuk meningkatkan partisipasi petani dalam penyerapan gabah oleh Bulog dibahas secara mendalam.

Nah, melihat semangat kebijakan yang dibawa ini semoga bukan hanya janji. Karena selama ini, kebijakan yang muncul sering kali semangat di depan, melemah di belakang. Sehingga program yang sudah direnakan hanya merah di bibir. Toh sudah sering, kebijakan pemerintah ingin mensejahterakan kaum tani. Bahkan, lama banget.

Untuk memastikan program tersebut, Kepala DKP2P Kabupaten Tuban, Eko Julianto, menjelaskan bahwa kebijakan ini merupakan tindak lanjut dari instruksi Menteri Pertanian agar sebanyak mungkin gabah dan beras petani dapat diserap oleh Bulog. Langkah ini bertujuan untuk menekan impor beras dari luar negeri, memastikan keberlanjutan sektor pertanian, serta menjamin kesejahteraan petani dengan memberikan harga jual yang kompetitif. Selain itu, program ini juga menjadi bagian dari strategi nasional dalam memperkuat ketahanan pangan di Indonesia.

Forum ini juga menjadi ajang untuk membangun kesepakatan bersama guna meningkatkan nilai tambah bagi petani serta mendorong minat generasi muda dalam bertani. Dalam tiga tahun terakhir, jumlah petani di Kabupaten Tuban mengalami penurunan hingga 13 persen. Penurunan ini disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk persepsi bahwa bertani merupakan profesi yang cenderung merugi. Memang, siapa yang dapat memberikan jaminan, bahwa petani sejahtera seperti skema kebijakan pemerintah. Karena selama ini hanya selesai di isu dan tekstual saja.

Meskipun pemerintah berusaha mengubah paradigma ini dengan menghadirkan kebijakan yang lebih berpihak kepada petani dan memberikan jaminan keuntungan yang lebih baik. Kayaknya generasi sekarang juga belum tertarik untuk menjadi petani. Karena profesi petani dianggap bukan pekerjaan yang menjanjikan. Sering kali pemerintah membuat langkah, namun tetap jalan ditempat. Selama ini tetap import dan alasan pemrintah tidak logis. “Hasil panen tidak mencukupi kebutuhan pangan.”

Memang tidak seproduktif itu lahan pertanian kita? Apakah tongkat kayu ditanam jadi tanaman, hanya isapan jembol? Bukan ya? Karena tanaman dari negara manapun, ketika ditanam di Indonesia pasti tumbuh subur dan berbuah. “Jangan ragu ya dek, ya dek. Insyallah, bisa mewujudkan swasembada pangan. Asal kerjanya serius, bukan hanya manis diucapan.

Tapi saya agak yakin, karena Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekda Tuban, Endro Budi Sulistyo, menyampaikan bahwa pemerintah pusat menargetkan penyerapan beras dari petani hingga 3 juta ton. Oleh karena itu, petani di Tuban diharapkan mendukung program ini dengan menjual gabah mereka ke Bulog.

Dengan menjual hasil panen ke Bulog, petani akan mendapatkan harga yang lebih baik dibandingkan jika menjualnya kepada tengkulak,” jelasnya. Endro juga menekankan pentingnya kerja sama antara pemerintah daerah, Bulog, dan petani dalam menciptakan ekosistem pertanian yang lebih stabil dan menguntungkan. Semoga saja.

Sebagai langkah strategis, Bulog bersama DKP2P Tuban akan melakukan pemetaan wilayah pertanian untuk menentukan skema penyerapan yang lebih optimal. Setiap kecamatan akan diberikan target jumlah gabah yang harus diserap agar program ini berjalan secara merata. Selain itu, guna memastikan kualitas produk yang diterima, Bulog diharapkan memberikan edukasi kepada petani mengenai standardisasi hasil pertanian yang memenuhi kriteria Bulog. Dengan adanya edukasi ini, petani dapat lebih memahami standar kualitas yang diperlukan dan meningkatkan mutu hasil pertanian mereka.

Ini yang ditunggu, berikan edukasi pada petani. Jangan hanya diberi gambaran kebijakan, tapi jadikan para petani ini menjadi petani yang cerdas. Agar mereka mampu mengelola lahan dan hasil panen yang baik. Selain itu berikan teknik pengembangan inovasi alat dan mesin pertanian (alsintan. Dengan adanya dukungan teknologi pertanian modern, diharapkan produktivitas pertanian dapat meningkat, dan hasil panen menjadi lebih berkualitas serta sesuai dengan standar pasar.

Sementara itu, Pimpinan Kantor Cabang Perum Bulog Bojonegoro, Ferdinan Dharma Atmaja, mengimbau petani untuk terus menjaga kualitas hasil pertanian mereka. Hasil panen dapat dijual ke Bulog melalui SPP di Bojonegoro atau melalui mitra Bulog yang tersebar di berbagai kecamatan. “Perum Bulog akan membeli Gabah Kering Panen dengan harga minimal Rp6.500 per kilogram,” ungkapnya. Harga ini diharapkan dapat memberikan keuntungan yang lebih besar bagi petani dibandingkan menjual ke pihak lain dengan harga yang tidak menentu.

Ferdinan juga mendorong Gapoktan untuk menjalin kemitraan dengan Perum Bulog sebagai upaya memperkuat rantai pasokan beras di daerah. Ia berharap para perwakilan Gapoktan yang hadir dapat menyebarluaskan informasi yang didapat kepada petani di wilayah masing-masing. “Dengan demikian, target penyerapan 3 juta ton beras dari petani dapat tercapai dan ketahanan pangan nasional dapat semakin terjaga,” pungkasnya. Selain itu, ia juga menekankan pentingnya peran Gapoktan dalam memberikan pendampingan teknis kepada petani agar mereka dapat mengoptimalkan hasil panennya sesuai dengan kebutuhan pasar.

Melalui sinergi antara Pemkab Tuban, Bulog, dan kelompok tani, diharapkan sistem pertanian di Tuban semakin maju dan mampu menghadapi tantangan global. Dengan adanya program ini, petani tidak hanya mendapatkan kepastian harga jual yang lebih baik, tetapi juga mendapatkan kesempatan untuk meningkatkan taraf hidup mereka melalui dukungan kebijakan yang berpihak pada kesejahteraan petani. (*)

Artikel Terkait