wilwatekta.com

Pejabat Pecundang Berlagak Pejuang

Oleh: Wawan Purwadi

WILWATEKTA.COM – Bukan pejabat Indonesia jika tak pandai bersilat lidah. Bahkan konotasi itu sangat  familiar terdengar dalam setiap statement. Pejabat selalu berusaha lari dari kenyataan. Namun lari dari tanggungjawab. Mereka tampak lantang di depan publik, hadir di forum-forum diskusi dengan wajah serius, dan menyelipkan kutipan-kutipan perjuangan dalam setiap pidato mereka. Mereka bicara tentang rakyat, tentang keadilan, tentang keberpihakan. Namun saat keputusan sulit harus diambil, mereka justru tiarap. Saat rakyat lantang bersuara, pejabat lebih memilih untuk jalan aman. Ketika keadilan harus diperjuangkan, mereka sibuk membuat kalkulasi politik. Yang mereka jaga bukan nasib rakyat, tapi citra pribadi.

Pecundang jenis ini tidak terlihat seperti pengecut. Justru sebaliknya, mereka piawai memoles diri agar tampak seperti pahlawan. Mereka tahu bagaimana bermain di depan kamera, tahu kapan harus muncul dan kapan harus menyampaikan pernyataan populis. Namun semua itu hanya panggung. Ketika sorotan padam, mereka kembali ke watak asli mereka: pengabdi kenyamanan, bukan kebenaran.

Kebijakan lahir hanya soal ego politik, bukan kepentingan masyarakat. Keberanian, bagi mereka, hanyalah alat. Mereka akan lantang menyuarakan protes jika itu menguntungkan. Mereka akan menumpang isu-isu publik untuk membesarkan nama. Tapi ketika suara itu benar-benar dibutuhkan untuk melawan ketidakadilan struktural, mereka memilih diam. Tak sedikit dari mereka yang dahulu dikenal sebagai aktivis, kini tenggelam dalam kemewahan kekuasaan dan lupa jalan pulang.

Dengan alasan regulasi yang sulit dieksekusi, mereka berusaha untuk mengelabuhi masyarakat. Publik sering terkecoh. Kita mudah terbuai oleh gaya bicara, oleh narasi, oleh simbol-simbol perjuangan yang dikemas rapi. Padahal, yang perlu kita lihat bukan seberapa sering mereka menyebut kata “rakyat”, tetapi seberapa besar keberanian mereka berdiri bersama rakyat ketika rakyat butuh kebijakan tepat.

Pejuang sejati tidak memerlukan banyak kata. Ia hadir di tengah krisis, berdiri paling depan ketika semua orang mundur. Ia tidak sibuk menjaga citra, karena yang ia jaga adalah prinsip. Bukan kalkulasi sana-sini untuk kepentingan pribadi. Menjadi pejabat adalah panggilan mulia, namun sering kali hanya ruang hampa bagi rakyatnya.

Sementara itu, pejabat pecundang hanya akan muncul ketika aman. Mereka adalah tipe yang baru berteriak ketika posisi mereka tak lagi terancam, baru membela ketika mayoritas sudah sepakat. Dalam konflik-konflik besar yang menuntut ketegasan moral, mereka justru hilang dari layar. Mereka menunggu arah angin, bukan mengikuti suara hati. Mereka takut dimusuhi penguasa, takut kehilangan fasilitas, takut dianggap melawan arus. Dalam politik semacam ini, keberanian menjadi barang langka.

Ironisnya, pecundang-pecundang ini tetap mendapatkan panggung. Mereka dielu-elukan oleh para pendukung yang tidak tahu, atau pura-pura tidak peduli. Di dunia yang penuh distraksi, pencitraan lebih penting daripada tindakan nyata. Dan selama kita masih terpukau oleh kemasan, bukan isi, para pecundang akan terus berkedok sebagai pejuang.

Sudah waktunya kita lebih kritis. Kita harus berani bertanya: siapa yang benar-benar berjuang, dan siapa yang hanya berakting? Kita harus berani membedakan mana suara yang tulus dan mana yang hanya strategi. Jangan sampai kita memilih pemimpin karena ia pandai menyentuh emosi, padahal sejatinya ia hanya ingin kekuasaan. Jangan beri panggung kepada mereka yang hanya berani ketika aman, yang hanya bicara ketika tidak ada risiko. (*)

Artikel Terkait