wilwatekta.com

Pegi Alias Perong Pembunuh Vina Ditangkap, Netizen: Masak Kuli Bangunan Bisa Sembunyi 8 Tahun Dari Kejaran Polisi?

Ilustrasi: Diambil dari akun facebook, Kayangan Telaga Biru pada, Sabtu (18/05/2024)

Ilustrasi: Diambil dari akun facebook, Kayangan Telaga Biru pada, Sabtu (18/05/2024)

WILWATEKTA.COM – Setelah 8 tahun menjadi Daftar Pencarian Orang (DPO), Pegi Setiawan alias Egi alias Perong, salah satu buron kasus pembunuhan Vina dan Eki berhasil ditangkap pada Selasa (21/5/2025) malam. Pegi disebut sebagai salah satu otak pembunuhan Vina dan kekasihnya, Eki di Jalan Raya Talun, Kecamatan Talun, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Sabtu (27/8/2016) malam. Delapan rekannya sudah diadili dan satu di antaranya sudah bebas. Namun netizen masih meragukan atas penangkapan Egi alias Perong. Menurut warga net, penegak hukum ada indikasi salah tangkap. Karena Egi yang  sudah ditangkap, dengan pelaku utama wajahnya berbeda. Semoga saja tidak salah tangkap dan kita apresiasi kinerja aparat kepolisian. Netizen tahu kok, pendidikan dikepolisian IQnya diatas rata-rata, masak salah tangkap. Selain itu, polisi juga memiliki ilmu intelejen. Jangan sampai seluruh aparat penegak hukum tercoreng karena salah nangkep orang.

Ya lhamdulillah, klo benar itu pelakunya, coba dispil deh wajah pelakunya dihadapan seluruh warga Konoha, agar tidak ada dusta diantara kita. Sebagai masyarakat akan berterima kasih kepada aparat kepolisian yang benar. Telah menangkap pelakunya. Tapi klo yang ditangkap kuli bangunan. Apa ia, pelaku mampu bersembunyi selama 8 tahun dari kejaran polisi? Masak ada backup dari aparat. Kuli bangunan lho ini. Duwit dari mana coba? Kuli bangunan itu tahunya, cangkol, cetok, meteran, pasir, besi sama semen.  Kalau Pegi yang satunya, kemungkinan bisa. Ini versi warga dunia maya lho ya. Jangan salah paham dulu.

Coba deh, saat press release ditunjukin mukak nye, biasanya yang sudah-sudah kan begono. Aparat kepolisian panggil wartawan untuk ngliput. Pegi masak malu lihat kamera temen-temen jurnalis, kan jagoan? Yang maling uang rakyat malu-maluin aja, gak malu liat kamera. Bahkan senyum-senyum sama warga Konoha. Toh masyarakat tahu, institusi negara Konoha sedang tidak sehat.

Entah lah paling tuker kepala ini. Seperti penangkapan bandar narkoba, gak mau ditangkap. Ada uang banyak, ditukar tuh sama kurir nya sendiri. Seperti juga Egi, uang nya banyak. Ditukar nya sama orang yang ekonomi sulit, yang mau uang lho ya, rela di penjara. Emang sukak ngarang netizen. Jangankan institusi kepolisian, keluarga Ruben Onsu sama Sarwenda yang adem ayem aja diobok-obok sama dia. Hehe

Tahu sendiri kan, netizen kalau nyiyir suka keterlaluan. Ini ada lagi yang ngomong. Dimana-dimana tersangka suruh menghadap kamera, kemarin kata Si Saka suruh mengakui dengan dipukulin. bahkan disetrum. Kenapa yang justru otak pembunuhan gak ditunjukin ke publik? Pakek alasan memanusiakan manusia (humanis). Tapi gak papa, positif thinking aja lah. Mungkin ada SOP yang perlu dipatuhi sama aparat kepolisian. Netizen coba diam dulu, biarkan aparat kerja dengan tertib dan teliti. Soal proses hukumnya gimana, kita tunggu hasilnya seperti apa. Kalau pelaku utama ketangkap lho ya.

Polri tahu kok, berdasarkan hasil survei lembaga Indikar Politik, pada April 2022 kepercayaan publik terhadap Polri masih berada diangka 71,6 Persen, Mei 66,7 persen sedangkan pada Agustus hanya 54,2 persen. Semoga aja dengan pengungkapan kasus pembunuhan Vina dan Eki, citra kepolisian semakin membaik.

Mungkin aparat merasa terbantu dengan komentar dan masukan masyarakat. tahu sendiri kan, netizen Indonesia itu kayak detektif Conan, semua kasus yang gelap seolah bisa diselesaikan. Tapi bener juga, ya beginilah aparat hukum di negeri ini, klo netizen yang sudah koar-koar baru ditindak lanjuti. Coba saat kejadian tahun 2016 ditindak lanjuti secara serius. Kalau udah begini, bikin pusing masyarakat tau, secara gitu, 8 tahun baru ada greget lagi. Gimana toh Pak Ladu Shingh, masak nunggu bantuan Shiva.

Selain itu, yang gak bisa dinalar. Iptu Rudiana ayah Eki adalah seorang aparat kepolisan yang menjabat (Kapolsek). Aneh aja kalau kasus putranya sulit diungkap. Terus yang gak mungkin lagi, masak ia. Jajaran kepolisan gak mau bantu anggotanya yang kena musibah (pembunuhan anak polisi). Tahu ah gelap.

Sekuat apa geng motor, kok bisa mengelabuhi aparat kepolisian. Kasian keluarga korban, kalau sampai kasus Vina dan Eki tidak tuntas. Ingat Pak Pol, netizen Indonesia itu muridnya detektif Conan semua. Apa yang kurang di era digital, sangat gampang. Informasi apapun bisa diakses. Apalagi tahun 2016, perkembangan teknologi sudah sangat pesat. Netizen hanya ingin, aparat kepolisian serius menindak tegas pelaku, jangan ada kejadian yang serupa.

Pokoknya aparat kepolisian yang semangat, jangan kendur. Kalau berangkat kerja sarapan bubur. Biar kerjanya gak ngelantur. Semoga tidak salah tangkap, agar nasibnya makin mujur. Syukur-syukur naik pangkat, biar hidupnya makin makmur. Salam presisi.  (*)

Artikel Terkait