wilwatekta.com

NU Ruang Suci, Bukan Medan Kontestasi Pragmatis

Ilustrasi: Wilwatekta.com

“Selama ruang suci NU dijaga. Siapa pun yang mencoba mengubah NU menjadi lahan kontestasi. Mereka akan sadar, betapa mustahilnya menundukkan rumah besar yang dijaga oleh doa para ulama”

WILWATEKTA.COM – Nahdlatul Ulama sejak mula bukanlah organisasi yang dibangun dari kalkulasi kekuasaan, melainkan dari kecemasan spiritual para ulama melihat umat kehilangan pegangan di tengah poros-poros politik kolonial. KH Hasyim Asy’ari dan para muassis tidak pernah merancang NU sebagai struktur yang bisa dinegosiasikan demi ambisi, tetapi sebagai benteng nilai menjaga Islam tetap berpijak pada adab, ilmu, dan akhlak.

NU adalah ruang suci: tempat tradisi keilmuan tumbuh, sanad dijaga, dan keulamaan menjadi kompas moral. Ia lahir bukan untuk melayani syahwat politik siapa pun, tetapi untuk mengokohkan jalan kemaslahatan umat.

Namun sejarah berputar cepat—dengan dinamika politik, industrialisasi informasi, dan demokrasi elektoral semakin riuh—mulai menarik NU ke pusaran kontestasi yang serba pragmatis.

Dalam beberapa tahun terakhir, ruang-ruang organisasi yang semestinya teduh oleh musyawarah dan do’a, tiba-tiba mulai disusupi aroma kompetisi sehari-hari. Rapat-rapat semestinya membahas penguatan pendidikan dan pemberdayaan umat kadang berubah menjadi forum penjajakan dukungan.

Silaturahmi semestinya menjadi forum tabarukan berubah menjadi arena membangun loyalitas. Struktur seharusnya memayungi jamaah malah diperlakukan seperti hierarki karier yang bisa dinaiki setapak demi setapak dengan strategi yang dirancang serius, layaknya seorang kontestan politik.

Kegaduhan muncul ketika jabatan-jabatan di tubuh jam’iyah berubah menjadi portofolio politik. Ketika seorang kader melihat posisi ranting, MWC, PC hingga PW bukan lagi sebagai mihrab pengabdian, tetapi sebagai batu loncatan menuju gelanggang elektoral.

Padahal NU tidak pernah dirancang sebagai organisasi yang “menguntungkan” dalam arti duniawi.

Dalam tradisi pesantren, mengabdi pada NU adalah tirakat: ruang untuk menyucikan niat, mengikis ego, dan mengasah keikhlasan.

Ironinya, kini sebagian orang masuk NU bukan untuk menundukkan diri pada nilai, tetapi untuk menundukkan organisasi kepada kepentingan mereka.

Di titik ini, marwah NU benar-benar diuji. Bukan sekali dua kali muncul gesekan internal yang sumbernya lebih politis daripada ideologis. Bukan jarang kita melihat kader berkonflik bukan karena perbedaan penafsiran keagamaan, melainkan karena perbedaan akses terhadap sumber daya dan simbol-simbol kekuasaan.

Bahkan sebagian kecil oknum eksternal mencoba menjadikan NU sebagai pasar politik yang bisa diperdagangkan, seolah jamaah nahdliyin hanyalah angka statistik yang bisa dimobilisasi jika diberi insentif yang tepat.

Gus Dur pernah mengingatkan bahwa NU hanya akan selamat jika tidak kehilangan “ruh moral”—ruh yang memperjuangkan kebenaran meski berhadapan dengan kekuasaan besar, ruh yang menempatkan manusia di atas kepentingan politik apa pun.

NU, bagi Gus Dur, bukan kendaraan politik, tetapi moral force, kekuatan etik yang bertugas menghamparkan cahaya peradaban.

Organisasi ini akan kehilangan dirinya jika digunakan untuk sekadar perebutan jabatan,” kata Gus Dur dalam berbagai kesempatan. Kalimat itu kini menggema kembali, sebab tanda-tanda yang beliau khawatirkan mulai tampak dengan jelas.

Penyimpangan paling subtil sering terjadi ketika warga nahdliyin memilih diam. Diam ketika melihat ketidakadaban. Diam ketika melihat manipulasi aturan. Diam ketika struktur dijadikan alat mobilisasi kepentingan.

Padahal diam dalam kultur pesantren bukan netralitas; ia bisa berubah menjadi pembiaran terhadap keretakan nilai.

Jika jamaah tidak bersuara, jika ulama suaranya diredam, dan jika kader lurus tidak diberi ruang, maka NU perlahan akan kehilangan arah. Keutuhan jam’iyah bukan hanya tanggung jawab syuriyah atau tanfidziyah; ia adalah tugas moral seluruh warga NU.

Para kiai sepuh selama puluhan tahun menjaga NU dengan kesabaran melampaui nalar: mengajarkan adab tanpa pamrih, menulis kitab di tengah keterbatasan, mendidik santri tanpa mengharapkan pujian, dan menjaga hubungan harmonis sesama ulama meski berbeda pandangan.

Mereka menurunkan watak tawadhu’, bukan watak kompetitif.

Para kiai mengajarkan kesederhanaan, bukan akumulasi pengaruh. Mereka mendidik kader agar mencintai ilmu, bukan mencintai kalkulasi politik.

Karena itu, sungguh ironis jika generasi hari ini justru meremehkan nilai-nilai itu dan menggantinya dengan pola pikir elektoral sempit.

NU terlalu agung untuk direduksi menjadi panggung kontestasi pragmatis. NU bukan gelanggang kompetisi ambisi, bukan ruang menyusun skenario politik, bukan wadah untuk menegosiasikan keuntungan pribadi.

NU adalah ruang suci yang dijaga dengan doa, air mata, dan kesetiaan para ulama dalam mengawal tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah.

Siapa pun yang masuk ke dalamnya, semestinya terlebih dahulu menanggalkan segala keinginan duniawi, sebagaimana santri menanggalkan keangkuhannya di depan kiai.

Kini waktunya keberanian kultural dibangun kembali. Keberanian untuk menegakkan adab di tengah godaan pragmatisme. Keberanian untuk mengembalikan NU kepada khittahnya: khidmah tanpa syarat, bukan ambisi dengan syarat.

Keberanian menolak upaya mempolitisasi organisasi demi kepentingan pribadi atau kelompok. Keberanian berkata bahwa NU bukan pasar politik yang bisa diramaikan oleh para broker elektoral.

NU harus menjadi rumah teduh yang merawat batin bangsa, bukan stadion tempat elite saling memamerkan kekuatan. NU harus menjaga jarak dari permainan kuasa, tetapi lebih dekat dari siapa pun dengan umat kecil yang membutuhkan bimbingan. NU harus menolak menjadi alat, tetapi terus menjadi sumber nilai.

Inilah tugas besar yang tidak boleh ditawar: memuliakan NU sebagaimana para pendirinya memuliakannya—bukan sebagai medan kontestasi pragmatis, tetapi sebagai ruang suci tempat akhlak sangat dijunjung, dan kesalihan selalu diistimewakan.

Jika ruang suci itu berhasil dijaga, NU tidak hanya tetap berdiri, tetapi akan terus menjadi cahaya bagi bangsa yang sering limbung mencari arah.

Dan selama nilai itu terawat, siapa pun yang mencoba mengubah NU menjadi lahan kontestasi akan sadar betapa mustahilnya menundukkan rumah besar yang dijaga oleh doa para ulama. (Wawan)

Artikel Terkait