wilwatekta.com

Nikah-Cerai Muda, Judol: Mengapa Faktor Perusak Tatanan Kehidupan?

Ilustrasi: Pixabay.com

Oleh:Wawan Purwadi

WILWATEKTA.COM – Zaman ini aneh. Di tengah gempuran teknologi dan kemajuan digital, manusia justru kehilangan kemampuan paling sederhana, “memahami makna hidupnya sendiri.” Cinta dipahami seperti konten, rumah tangga dijalani seperti eksperimen dan kebahagiaan dikejar lewat gawai yang bercahaya tapi kosong makna.

Di satu sisi, anak muda menikah muda karena takut dosa, lalu bercerai karena lelah menghadapi realitas. Di sisi lain, jari-jemari mereka sibuk menekan tombol deposit di aplikasi judi online, berharap keberuntungan datang lebih cepat dari doa. Berharap kemenangan dari judol, untuk memenuhi tuntutan kehidupan. Namun kemanangan tak kunjung datang, rumah tangga berantakan.

Fenomena nikah-cerai muda dan judol mungkin tampak berbeda, tapi keduanya adalah anak kandung dari satu rahim yang sama: budaya instan. Budaya yang mengagungkan kecepatan tapi menyingkirkan kedewasaan; yang menyanjung hasil tapi mencemooh proses; yang menjadikan “viral” lebih penting daripada “bernilai.”

Namun, sebagaimana diingatkan oleh Kiai Sahal Mahfudz, pernikahan adalah mîtsâqan ghalîzhan — perjanjian yang berat, bukan permainan emosi. Ia menuntut kematangan spiritual, emosional dan sosial. Sayangnya, banyak yang menikah bukan karena siap, tapi karena takut. Bukan karena paham makna tanggung jawab, tapi karena ingin cepat lepas dari beban moral dan tekanan sosial.

Maka tak heran, banyak rumah tangga muda yang runtuh sebelum sempat tumbuh. Cinta yang semula berbunga, layu oleh realitas ekonomi dan ego yang belum sembuh. Keluarga yang harusnya menjadi madrasah pertama justru menjadi ladang luka pertama. Anak-anak tumbuh menyaksikan cinta sebagai perdebatan, bukan teladan.

Psikolog perkembangan Erik Erikson menyebut masa remaja dan dewasa awal sebagai fase pencarian identitas (identity vs role confusion). Di masa ini, individu belum benar-benar mengenal dirinya, belum matang secara emosional, namun sering dipaksa membuat keputusan besar.

Jika individu belum menemukan jati dirinya, maka setiap ikatan yang ia bentuk akan rapuh,” tulis Erikson. Dan begitulah pernikahan muda sering kali menjadi ruang eksperimen bagi jiwa yang belum sembuh dari pencarian.

Sementara itu, judi online menjadi racun zaman yang membius tanpa rasa bersalah. Dulu orang harus pergi ke kasino, sekarang cukup rebahan di kamar. Satu sentuhan jari bisa mengubah nasib—atau menghancurkan hidup. Ia menawarkan ilusi kebahagiaan cepat, tapi diam-diam mencuri waktu, uang dan kesadaran.

Pakar neurosains Dr Judson Brewer dari Brown University menjelaskan bahwa judol bekerja melalui mekanisme dopamine loop—otak diberi hadiah kesenangan sesaat setiap kali menang, dan rasa ingin mengulangnya terus meningkat.

Ketika otak mulai memandang risiko sebagai kesenangan, manusia berhenti berpikir logis,” ujarnya.

Maka tidak heran, banyak orang kehilangan kendali; uang belanja, gaji, bahkan pinjaman dihabiskan demi “kemenangan berikutnya” yang tak pernah datang.

Fenomena ini bukan sekadar soal ekonomi, tapi psikologis dan spiritual. Judi membuat manusia kehilangan rasa syukur, karena keberuntungan dianggap bisa dikontrol. Dalam perspektif Islam, ini bukan hanya soal haram, tapi soal hilangnya tawakal—rasa percaya pada takdir Allah Swt.

Seperti yang pernah diingatkan Gus Dur, “Ketika manusia berhenti percaya pada nilai, maka hidupnya akan dikendalikan oleh kesenangan.”

Budaya Instan dan Retaknya Nilai Sosial

Baik pernikahan dini maupun judi online adalah simbol dari satu hal: krisis kedewasaan kolektif. Kita hidup di era yang serba cepat—pesan dikirim instan, video viral dalam hitungan detik, dan keputusan besar diambil tanpa perenungan. Cinta menjadi “konten,” rumah tangga jadi “tontonan,” dan hidup diukur dari berapa banyak like yang diterima.

Psikolog sosial Erich Fromm dalam bukunya The Art of Loving menyebut bahwa manusia modern lebih banyak “memiliki cinta” daripada “menjadi cinta.” Ia menulis, “Orang tidak lagi mencintai untuk memberi, tapi mencintai untuk memiliki. Karena itu, ketika kepemilikan hilang, cinta pun mati.”

Maka tak heran, ketika pasangan muda kehilangan rasa memiliki, mereka langsung berpisah. Dan ketika penjudi kehilangan uangnya, ia kehilangan semangat hidup. Dua-duanya sama-sama mengidap penyakit: kehilangan makna.

Krisis ini juga diperparah oleh lemahnya pendidikan nilai. Banyak anak muda yang fasih dalam teknologi tapi gagap dalam moral. Mereka tahu cara mengedit video, tapi tak tahu cara mengelola emosi.

Mereka bisa membuat konten dakwah, tapi tak sanggup menahan godaan klik deposit. Dunia digital menjanjikan segalanya, tapi tidak mengajarkan makna dari kehilangan.

Tatanan Sosial yang Rapuh

Ketika keluarga rapuh dan moral masyarakat keropos, tatanan kehidupan ikut retak. Rumah tangga yang gagal melahirkan anak-anak tanpa arah; judi yang dibiarkan berkembang menumbuhkan budaya malas dan instan.

Akhirnya kita hidup di tengah generasi yang mudah menyerah, cepat putus asa, dan mudah tergoda oleh hal-hal yang semu.

Sosiolog Émile Durkheim menyebut kondisi ini sebagai anomie — keadaan di mana norma dan nilai kehilangan kekuatannya dalam mengatur perilaku individu. Masyarakat hidup tanpa pedoman, dan individu terombang-ambing oleh dorongan instingtifnya sendiri.

Bukankah kita tengah menuju ke sana?

Padahal Islam telah memberi panduan yang sangat indah: tawazun (keseimbangan), mas’uliyyah (tanggung jawab) dan adab (etika). Semua nilai itu kini hanya tinggal kata-kata dalam khutbah, sementara perilaku kita justru menjauh darinya.

Dalam konteks hari ini, yang lebih penting dari pernikahan cepat dan kekayaan instan adalah kematangan nilai kemanusiaan itu sendiri. Kita butuh bangsa yang tidak hanya tahu menikah, tapi juga tahu memelihara cinta. Tidak hanya tahu bekerja, tapi juga tahu menahan diri dari keserakahan digital.

Tatanan kehidupan tidak akan pulih dengan larangan semata. Ia harus diperkuat dengan pendidikan akhlak, literasi digital, dan pembinaan keluarga. Orang tua perlu kembali menjadi guru kehidupan, bukan hanya penonton. Pemerintah harus lebih tegas terhadap industri judi online yang menjerat rakyat kecil. Dan para ulama, kiai, serta guru bangsa perlu terus menanamkan kesadaran bahwa hidup bukan sekadar cepat, tapi harus bermakna.

Karena sejatinya, yang menghancurkan peradaban bukan badai besar, tapi retaknya nilai-nilai kecil yang dibiarkan. Dan yang membuat kehidupan mudah rusak bukan teknologi atau cinta, tapi manusia yang enggan menjadi dewasa.

Seperti kata Erich Fromm, “Manusia modern lebih banyak hidup untuk memiliki daripada menjadi.” Maka barangkali tugas kita kini adalah berbalik arah—belajar menjadi manusia kembali.

Agar nikah tak mudah runtuh, agar jari tak mudah tergoda, dan agar kehidupan ini tidak terus-menerus rusak oleh kesenangan yang kita ciptakan sendiri. (*)

Artikel Terkait