wilwatekta.com

Merawat NU, Laskar Hisbullah: Cita-cita Besar Islam dan Kebangsaan

Ilustrasi: Wilwatekta.com

Oleh: Ahmad Aufal

WILWATEKTA.COM – Nahdlatul Ulama (NU) tidak pernah lahir sebagai organisasi yang semata-mata mengurusi urusan keagamaan. Ia adalah ruh peradaban, yang menegaskan bahwa Islam tidak berhenti pada batas ritual, namun menjelma menjadi kekuatan moral, sosial dan kebangsaan.

Ia berdiri bukan untuk menandingi siapa pun, tetapi untuk memastikan bahwa agama hadir sebagai rahmat bagi semesta.

Dalam tubuh NU, Islam menemukan wajahnya yang paling indah: ramah, teduh, dan menyatukan. Ia menolak keras Islam yang marah, kaku, dan gemar menghakimi.

NU merupakan rumah besar yang di dalamnya berdiam beragam wajah dan warna: kiai kampung yang mengaji di serambi masjid, santri pelosok menghafal kitab di bawah cahaya redup lampu minyak, akademisi dan politisi yang menimbang masa depan bangsa, hingga petani dan buruh yang bekerja dalam kesunyian demi menafkahi keluarga. Mereka semua tiang penopang rumah besar ini.

Namun sebagaimana rumah mana pun, NU hanya akan kokoh bila setiap penghuninya rela menundukkan ego di hadapan kepentingan jam’iyyah.

Sayangnya, ego sering kali hadir tanpa disadari. Ia menyusup dalam ambisi kekuasaan, dalam keinginan untuk diakui, atau dalam rasa ingin “berjasa” bagi organisasi. Ego adalah virus halus yang bekerja sunyi, tetapi mematikan.

Ia menggerogoti keikhlasan dan mengubah pengabdian menjadi arena perebutan pengaruh.”

Padahal sejarah NU membuktikan bahwa organisasi ini tumbuh bukan dari ambisi, melainkan dari keikhlasan kolektif para kiai dan santri yang berjuang tanpa pamrih.

Lihatlah bagaimana para pendiri NU—Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Hasbullah dan KH Bisri Syansuri—tidak pernah memikirkan jabatan, tetapi memikirkan kemaslahatan umat. Mereka menanam benih keulamaan berpadu dengan semangat kebangsaan.

Dari tangan mereka lahir generasi Laskar Hisbullah yang menegaskan bahwa cinta tanah air adalah bagian dari iman. Islam dan Indonesia tidak lagi dipertentangkan, tetapi dirangkai dalam satu simpul: iman dan kemanusiaan.

Kini, setelah lebih dari seabad, NU menghadapi tantangan yang jauh lebih rumit. Tantangan itu bukan lagi senjata kolonial, melainkan ego manusia. Musyawarah kerap bergeser menjadi adu pengaruh; forum ilmiah berubah menjadi ruang kompetisi; dan semangat pengabdian terkadang terjebak dalam citra dan pencitraan.

Di sinilah ujian terbesar NU hari ini—bukan pada serangan ideologis dari luar, tetapi pada erosi keikhlasan dari dalam.

Gus Dur pernah mengingatkan, “Yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan.”

Kalimat itu adalah arah moral bagi seluruh warga NU. Sebab merawat NU bukanlah memenangkan kubu, melainkan memenangkan nilai.

NU tidak membutuhkan orang yang ingin terlihat berjasa, tetapi orang yang mau bekerja dalam diam; yang rela berpeluh tanpa mengharap sorotan; yang lebih cinta pada jam’iyyah daripada pada dirinya sendiri.

Namun realitas sering berbalik. Di tengah dinamika modern, NU justru dihadapkan pada godaan kekuasaan dan politik pragmatis. Banyak yang ingin menjadi bagian dari NU bukan untuk berkhidmah, tetapi untuk mengambil keuntungan sosial dan politis.

Dalam situasi semacam ini, keikhlasan para Laskar Hisbullah masa lalu terasa semakin langka. Kita lebih sering membicarakan “NU yang besar” daripada bertanya apakah kita masih menjadi “warga NU yang benar.”

Merawat NU hari ini berarti menghidupkan kembali ruh kesederhanaan. NU lahir dari pesantren-pesantren kecil di kampung, dari langgar yang berdinding anyaman bambu, dari kiai yang tidak mengejar panggung, tetapi ridha Allah.

Maka jika generasi kini ingin melanjutkan estafet perjuangan itu, satu hal yang harus dijaga: jangan biarkan ego pribadi mengalahkan cinta pada jam’iyyah.

Merawat NU bukan sekadar menjaga struktur organisasi, melainkan menjaga keutuhan visi dan akhlak. Ia berarti menjaga silaturahmi di atas perbedaan, mendahulukan tabayyun daripada fitnah, dan menempatkan kepentingan umat di atas kepentingan kelompok. Karena kemuliaan NU tidak diukur dari megahnya acara atau banyaknya pengurus, melainkan dari ketulusan hati orang-orang di dalamnya.

Sebagaimana pesan KH Mustofa Bisri (Gus Mus): “Kalau NU hancur, bukan karena serangan orang luar, tapi karena orang dalam yang kehilangan keikhlasan.” Kata-kata itu adalah peringatan keras bagi siapa pun yang hari ini berdiri di bawah panji hijau NU.

Maka kini, di tengah hiruk-pikuk zaman yang serba cepat dan ambisius, kita perlu kembali bertanya: Apakah kita masih memperjuangkan NU sebagaimana para kiai dahulu memperjuangkannya? Ataukah kita sedang memperjuangkan diri sendiri atas nama NU?

Sebab NU bukan sekadar organisasi, melainkan jalan sunyi menuju cita-cita besar Islam dan kebangsaan. Sebuah cita-cita yang diwariskan para Laskar Hisbullah, yang menorehkan darah dan doa untuk tegaknya Indonesia.

Dan bila keikhlasan itu hilang, maka yang hilang bukan hanya organisasi, tetapi juga ruh perjuangan yang membuat NU menjadi cahaya bagi bangsa dan umat. (*)

Artikel Terkait