wilwatekta.com

Merangkai Masa Depan Melalui Pemaknaan Sejarah Sastra: Pemahaman Dan Pemaknaan Pembelajaran

http://wilwatekta.comWILWATEKTA.COM – Pembelajaran sejarah sastra adalah salah satu mata kuliah yang terdapat pada prodi Pendidikan Bahasa dan sastra Indonesia. Dibidang sastra membahas mengenai kilas balik serta perkembangan sastra dari zaman ke zaman.

Ini juga menyinggung mengenai berbagai tokoh sastra pada zamannya. Dimana tokoh-tokoh ini sudah banyak memulai karyanya di tengah masa penjajahan Belanda. Seringkali karya mereka menjadi perlawanan ditujukan bagi bangsa belanda dan memberikan kesadaran bagi warga pribumi agar mampu keluar dari perbudakan.

Pada zaman ini tentu saja sastra menjadi pengaruh yang sangat tinggi sebagai pedoman untuk membuka pandangan pribumi saat itu. Selain itu pada masa orde baru sastra juga masih menjadi sarana perlawanan pada pemerintahahan.

Bahkan sampai banyak sekali karya-karya sastra dari Bung Pram atau bahkan Putu Wijaya yang sengaja dihilangkan. Sejarah sastra seperti membuka portal-portal kekelaman Indonesia yang sudah lama ditutup dan dibungkam.

Awalnya saya mengira pembelajaran sejarah adalah pembelajaran yang sangat membosankan. Dalam bayangan saya, hanya akan menemukan tulisan -tulisan panjang yang hanya akan dibaca dan dihafal.

Sampai bertanya dalam hati, kenapa sih belajar sastra terus?. Namun ternyata sastra memiliki pengalaman masa lalu yang berbeda. Sejarah sastra seperti menarik saya pada masa dimana sastra menjadi tombak perjuangan yang sangat tajam namun berbentuk tulisan.

Pembelajaran ini menyadarkan tentang pentingnya mengingat masa lalu untuk mencegah peristiwa yang sudah pernah terjadi. Dengan pembelajaran sejarah sastra ini saya semakin paham bahwa keindahan sastra ini seharusnya tetap dijaga dan dikenalkan pada generasi penerus kita.

Kali pertama saya masuk dikelas sejarah sastra sangat terkesan dengan pembelajaran oleh Bapak Ahsan. Beliau menjadikan pembelajaran yang sering dianggap kuno ini memiliki gaya modern.

Beliau dapat mnyesuaikan pembelajaran pada zaman ini,dengan memberikan permainan-permainan sangat inovatif. Selain itu beliau juga menjadikan kita serasa masuk dan merasakan bagaimana sastra berkembang dari setiap zamannya.

Sebelumnya, saya tidak benar-benar tahu sastra itu apa. Namun Bapak Ahsan dengan keunikan cara mengajarnya membuat saya paham bahwasanya sastra bukan hanya tulisan atau karya saja, namun sebagai ungkapan kebebasan, bahkan symbol perlawanan.

Saya merasa dengan sastra setiap orang akan merasa didengar tanpa perlu takut akan penghakiman bahkan pembungkaman. Pembelajaran Bapak Ahsan membuat saya terkesan dengan sastra sebagai langkah awal dalam pemahaman mengenai sastra.

Pemahaman Sejarah dan Sastra Itu Sendiri

Pada pertemuan pertama Bapak Ahsan mengenalkan pemahaman mengenai sejarah terlebih dahulu. Beliau menanamkan prinsip bahwasanya sejarah bukanlah pembelajaran yang membosankan. Kami diajarkan untuk menjelaskan materi yang kita peroleh dengan media poster digital. Dari pertemuan pertama itu pula muncul kedekatan kita sesama mahasiswa.

Pada pembelajaran berikutnya kami dibagi menjadi beberapa kelompok. Kemudian setiap kelompok diberikan satu nama tokoh. Dimana nama tokoh itu tentu saja sangat asing ditelinga kita.

Kami diberi waktu untuk mencari informasi mengenai tokoh tersebut,kemudian setelah selesai mencari informasi tentang tokoh tersebut. Kami saling mengunggulkan tokoh tersebut.

Pada saat itu saya mendapat tokoh diangkatan 20an yaitu Marah Roesli, tentu saja nama ini sangat asing bagi saya. Namun setelah saya mengulik informasi mengenai Marah Roesli, saya sangat terkesan dengan karya yang diciptakan. Ia mendobrak tentang budaya menormalisasikan wanita muda menikah dengan lelaki tua.

Perlawanan ini ia sampaikan melalui karyanya yaitu Siti Nurbaya, novel ini sangat berpengaruh pada hak dan kebebasan perempuan pada zaman penjajahan. Pada pembelajaran kali ini saya dapat mengenal seorang yang sangat berpengaruh pada pendobrakan tradisi lama.

Pembelajaran berikutnya kami diberikan tugas membuat mind mapping dari kertas manila, dimana setiap mahasiswa akan mencari informasi mengenai penguasaan konsep sejarah lahirnya sastra Indonesia.

Pada pembelajaran kali ini saya mendapat tema nasionalisme dalam sastra Indonesia awal abad 20. Pada tema kali ini saya kembali membahas mengenai bapak Marah Roesli juga beberapa tokoh pada Angkatan 20an tersebut.

Kemudian mind mapping yang kita buat,ini kita presentasikan didepan kelompok kita. Kelompok ini terbagi sesuai urutan absensi. Pada pembelajaran kali ini saya banyak sekali mengenal tokoh-tokoh yang terdapat pada Angkatan 20-an. Selain itu saya mengerti bagaimana kondisi social politik pada zaman itu.

Pada pembelajaran berikutnya kami memasuki pembelajaran mengenai periodesasi, yang dimulai dari Angkatan pujangga baru hingga angakatan pasca reformasi. Pada pembelajaran kali ini kita dibagi menjadi 7 kelompok sesuai dengan 7 angkatan sastra.

Saya mendapat sastra diangkatan 50an, dimana pada angakatan ini jarang sekali dibahas ,beberapa buku hanya melewati. langsung menuliskan angakatan 66-an. Angkatan 50-an ini biasa disebut angakatan peralihan.

Dimana pada saat itu Indonesia masih harus membangun bangsa dan dituntut untuk melakukan banyak sekali perubahan.

Dari pembelajaran kali ini saya mengetahui bahwa sastra memiliki banyak sekali perkembangan yang disesuaikan oleh kondisi social politik. Saya juga memahami bahwa sastra memiliki tokoh-tokoh yang sangat berpengaruh bagi perubahan.

Refleksi Pemahaman Pembelajaran Selama 1 Semester

     Satu semester saya merasa senang dalam mempelajari sejarah sastra. Dengan begitu banyak cara belajar yang diberikan oleh Bapak Ahsan. Dengan inovasi-inovasi pembelajaran yang diberikan. Saya sangat senang bisa mengenal banyak tokoh sastra yang dulunya sangat asing ditelinga.

Mengenal banyak karya-karya yang sudah mereka ciptakan. Membuat saya sangat terkesan dengan keberanian mereka membebaskan isi pikiran dan menuangkan pikiran menjadi tulisan-tulisan indah.

     Dengan pembelajaran sejarah sastra dapat membuka langkah awal dalam memperdalam sastra. Sehingga saya dapat benar-benar menikmati sastra itu sendiri. Saya juga mendapat banyak sekali informasi mengenai kondisi social politik Indonesia yang belum saya ketahui.

Sejarah bukan pembelajaran yang membosankan dan kuno, sastra bukan hanya tulisan-tulisan bersajak tanpa arti. Namun sejarah sastra adalah pegulasan serta pemaknaan kembali mengapa sastra itu diciptakan,karena sastra sebagai wadah untuk berekspresi tanpa takut penghakiman dan pembungkaman.

Sejarah sastra mengajak saya berada diberbagai zaman dengan berbagai kondisi. Selama 1 semester terkadang saya juga mengalami berbagai kesulitan dalam memahami beberapa istilah dalam sastra. Seperti periodesasi, angakatan sastra, serta beberapa karya sastra terdahulu.

Saya harus banyak menbaca dan memperdalam tentang sastra. Terkadang saya bertanya AI untuk menyederhanakan bahasa yang terdapat dalam tulisan tertentu.

Pada awal pembelajaran sastra melalui sejarah sastra ini,menjadi lagkah awal saya dalam memulai dan memberikan pandangan saya terhadap sastra.

Saya merasa sejarah sastra seperti memberikan penarikan untuk terus mengulik dan memperdalam sastra pada jenjang berikutnya.

Dalam 1 semester ini sejarah sastra memberikan banyak sekali informasi awal mengenai apa itu sastra? Mengapa sastra ada? Serta bagaimana cara sastra untuk terus ada dan berkembang?

Dengan pembelajaran sejarah sastra saya siap untuk memulai jenjang pembelajaran sastra yang lebih mendalam.  (Keyza Verodia J.P)

Tentang Penulis: Mahasiswa UNESA Fakultas Bahasa dan Sastra Semester 1

Artikel Terkait