wilwatekta.com

Menteri Purbaya: Antara Harapan, Satire, dan Doa yang Tersisa

Assalamu’alaikum, Pak Menteri Keuangan Republik Indonesia tercinta, Bapak Purbaya Yudhi Sadewa.

Izinkan kami, rakyat yang masih belajar bahagia di tengah harga beras yang naik-turun seperti grafik ekonomi, mengucap terima kasih.

Terima kasih, Pak, sudah bekerja keras siang malam untuk rakyat — meski kami belum terlalu merasakannya secara langsung. Tapi melihat Bapak tersenyum di layar televisi sambil bicara soal “transparansi dan keadilan fiskal”, hati kami sudah terasa makmur. Seolah nasi di dapur ikut bertambah, meski sebenarnya hanya airnya saja yang lebih banyak.

Kami bangga punya menteri yang jujur, tulus, dan katanya berani melawan mafia keuangan.

Sungguh, itu kalimat yang menenangkan, terutama ketika dompet mulai menipis tapi semangat masih dipaksa tebal.

Teruskan, Pak! Gasss terus!

Sikat habis para koruptor yang hidupnya seperti lele di kolam lumpur—mereka makan diam-diam, tapi bikin air keruh setengah mati.

Kami tahu perjuangan Bapak berat, karena musuhnya bukan cuma maling uang rakyat, tapi juga mereka yang pandai bersembunyi di balik jas mahal dan kata-kata indah.

Namun maaf, Pak, izinkan kami sedikit berandai.

Andai saja hasil sitaan korupsi itu benar-benar sampai ke rakyat, mungkin sekolah kami tidak perlu lagi urunan kapur tulis, guru kami tak harus menunggu gaji tiga bulan sekali, dan jalan di desa kami tak lagi menjadi kubangan kenangan di musim hujan.

Tapi tak apa, kami tetap percaya.

Percaya karena di negeri ini, kadang iman memang satu-satunya aset yang tidak bisa dikorupsi.

Doa kami sederhana, Pak.

Semoga Bapak sehat selalu, keluarga Bapak diberi kekuatan, dan niat suci Bapak tetap lurus meski di sekitar banyak yang berbelok arah.

Semoga Bapak tetap istiqamah, karena di negeri yang penuh drama ini, pejabat baik seringkali berumur pendek — bukan karena ajal, tapi karena jabatan yang “digeser demi stabilitas politik.”

Oh ya, Pak, ada sedikit pesan dari kampung kami di Lampung.

Katanya harga singkong masih Rp1.350, tapi potongannya bisa sampai 45 persen.

Mereka sudah demo, sudah datang ke Jakarta, bahkan sempat bertemu menteri lain, tapi hasilnya nihil.

Mungkin Bapak bisa bisikkan pada Bapak Presiden — supaya sekali-sekali turun langsung mencium aroma singkong yang tidak pernah naik harganya.

Dan satu lagi, Pak.

Kalau boleh, setiap kali ada aset hasil korupsi yang disita, tolong diumumkan secara terbuka di media sosial.

Bukan karena kami ingin kepo, tapi karena kami ingin tahu ke mana larinya uang yang dulu katanya “untuk rakyat.”

Supaya kami tidak terus menjadi penonton setia dalam drama pemberantasan korupsi, yang ending-nya selalu sama. Pelaku ditangkap, uangnya raib, dan rakyatnya tetap miskin.

Kami paham, setiap kabinet selalu punya satu sosok “pahlawan viral.”

Dulu ada Dahlan Iskan dengan bajunya yang digulung, ada Bu Susi dengan ombaknya, ada Pak Mahfud dengan pasalnya.

Sekarang giliran Bapak Purbaya dengan statement-nya.

Mungkin ini memang sudah tradisi politik kita. Rakyat butuh satu sosok harapan, walau hanya untuk difoto dan dijadikan status WhatsApp.

Tapi sungguh, Pak, kami tidak sinis.

Kami hanya rindu pejabat yang tak sekadar berkata “demi rakyat,” tapi juga sempat duduk sebentar di beranda rumah rakyat, mencicipi kopi pahit hasil pinjaman koperasi.

Kami ingin melihat pejabat yang berani berkata jujur, meski konsekuensinya kehilangan panggung.

Maka lanjutkan, Pak.

Tangkap para koruptor, miskinkan hartanya, dan tolong kabarkan hasilnya — bukan hanya lewat siaran pers, tapi lewat perubahan nyata di dapur kami.

Karena kami sudah terlalu sering mendengar kabar “triliunan diselamatkan,” tapi beras di dapur tetap dua liter saja.

Kami percaya, kalau Bapak sungguh-sungguh bersih dan berani, pasti ada yang tidak senang.

Pasti ada yang “kebakaran tembakau,” seperti kata netizen.

Dan di situlah ujian sejati pejabat jujur dimulai. Bukan saat ia dielu-elukan, tapi saat ia mulai diasingkan.

Jadi, terima kasih, Pak Menteri.

Teruslah jadi harapan di tengah keputusasaan, jadi cahaya di sela laporan keuangan yang gelap.

Kami, rakyat yang masih belajar sabar ini, akan selalu mendoakan.

Bukan karena kami tidak punya pilihan lain, tapi karena kami hanya bisa itu — berdoa, sambil berharap semoga Bapak tidak ikut hanyut dalam lumpur yang Bapak coba bersihkan.

Salam hangat dari rakyat kecil, yang masih percaya bahwa negara ini akan membaik, meski kadang percaya itu sendiri terasa seperti lelucon. (*)

Artikel Terkait