wilwatekta.com

Menjaga Konsistensi Roda Jam’iyah NU dari Akar Rumput hingga Struktural

Ilustrasi: Wilwatekta.com

WILWATEKTA.COM – NU adalah pohon tua yang tumbuh dari tanah pesantren: akarnya merayap lembut di desa-desa, batangnya menjulang dalam struktur organisasi dan daunnya melindungi jutaan manusia yang mencari keteduhan.

Setiap helai daunnya adalah cerita, setiap ruas batangnya adalah perjalanan dan setiap akar adalah doa yang disusupkan para kiai kampung dalam hening malam.

Untuk menjaga konsistensi roda jam’iyah NU, kita harus merawat seluruh unsur pohon ini: tanahnya, batangnya, dan para penjaga yang setia menungguinya sejak zaman tak dicatat oleh buku sejarah.

Akar rumput NU bukan sekadar jamaah yang hadir dalam tahlil atau istighotsah; mereka adalah denyut yang membuat jam’iyah tetap hidup.

Dari mulut-mulut tak pernah merasa lebih pandai, dari tangan-tangan kasar para petani, dari para ibu yang menyiapkan kopi dan teh untuk jamaah malam—NU mendapat kekuatan yang tidak bisa dibeli oleh apa pun.

Gus Dur menyebutnya “kekuatan kultural”, sebuah kekuatan yang tak bisa dihitung dengan angka, tetapi justru itulah yang membuat NU tidak pernah roboh bahkan ketika angin zaman meniup kencang.

Di kampung-kampung, NU berjalan dengan keikhlasan sunyi: tak berisik, tak mengancam, hanya merawat manusia dengan cara paling manusiawi.

Namun pada suatu titik, kekuatan akar rumput harus bertemu dengan keuletan mereka yang berada di struktur. Sebab jam’iyah tidak dapat berjalan hanya dengan cinta; ia butuh arah, butuh pengelolaan, butuh ketegasan untuk menjaga rumah besar ini tetap kokoh.

KH Hasyim Muzadi pernah mengingatkan, “Massa NU itu besar, tetapi tanpa manajemen ia hanya menjadi gelombang tanpa tujuan.” Struktur NU—MWC, PC, PW, hingga PBNU—adalah tulang punggung yang membuat gerakan tetap tegak, tidak runtuh oleh semaunya zaman.

Mereka mengikat nilai-nilai budaya ke dalam program, merapikan niat menjadi kebijakan dan menerjemahkan kegelisahan warga menjadi langkah organisasi.

Tetapi struktur tidak boleh menjauh dari akar. Batang pohon hanya kuat jika tetap terhubung dengan tanah. Bila struktur bergerak tanpa mendengar suara ibu-ibu yang menyiapkan tampah untuk tahlilan, atau suara para kiai kampung yang menjaga moral masyarakat, maka NU akan kehilangan ruhnya.

Di atas semuanya, NU dijaga oleh satu kata tak lekang dimakan zaman: khidmah. Sebuah kata tidak bisa diterjemahkan secara sempurna ke dalam bahasa lain. Ia bukan sekadar pengabdian; ia adalah cinta yang dikerjakan dalam kesunyian.

Gus Mus pernah mengingatkan dengan nada lembut namun tajam, “Berjuang di NU itu bukan untuk mendapat sesuatu, tetapi untuk memberi sesuatu.”

Dalam kalimat itu, NU menemukan dirinya—bukan tempat mencari kehormatan, tetapi tempat meleburkan ego demi kemaslahatan.

Tantangan zaman berubah. Radikalisme mencoba mencabut akar-akar toleransi. Politik kekuasaan mencoba menunggangi jam’iyah. Dunia digital menggeser ruang pertemuan dari langgar ke layar ponsel.

Tetapi NU, dengan segala kelenturannya, selalu menemukan jalan untuk tetap menjadi dirinya. Kiai, santri, penggerak banom, hingga para pemuda yang menggeluti dunia digital—semuanya adalah penari yang mengikuti irama sama, irama moderasi dan keadaban yang diwariskan para muassis.

NU selalu memiliki modal terbesar yang tak dimiliki siapa pun: doa yang tidak pernah putus dari ribuan pesantren, kesetiaan warga akar rumput, serta keteguhan struktur mengarah, bukan mereduksi. Selama tiga unsur itu berjalan beriringan, roda jam’iyah NU tidak akan pernah kehilangan putarannya.

Menjaga konsistensi NU berarti menjaga agar jam’iyah ini tidak berubah menjadi sekadar organisasi modern yang kaku, sekaligus tidak terperangkap hanya pada nostalgia masa lalu.

NU tetap lentur seperti bambu, tegak seperti pohon jati dan teduh seperti rukyat para wali. Ia mampu mendengar tangis rakyat kecil, tetapi juga mampu bernegosiasi dengan kerasnya zaman.

Ia bisa menjadi ruang pulang bagi siapa saja: yang tersesat, yang lelah, mencari makna, atau sekadar ingin merasa “pulang”.

NU akan tetap menjadi NU selama ia setia pada akarnya, tegak dalam struktur dan berjalan dengan cahaya khidmah.

Sebab jam’iyah ini tidak dibangun oleh ambisi, tetapi oleh cinta. Tidak dijaga oleh kekuasaan, tetapi oleh kesetiaan. Dan tidak dihidupkan oleh teriakan, tetapi oleh doa para kiai di sepertiga malam sunyi. (*)

Artikel Terkait