wilwatekta.com

Mengenal Sejarah Sastra dan Menyelami Lewat Refleksi Diri

WILWATEKTA.COM – Sejarah sastra merupakan salah satu mata kuliah dasar keilmuan yang memiliki sebuah peran strategis dalam menguatkan bidang pengetahuan, keterampilan dan sikap mahasiswa. Terkhusus pada bidang bahasa dan sastra.

Mata kuliah ini memberikan sebuah tujuan dan wawasan pada pemahaman komprehensif. Mengenai perkembangan karya sastra dari masa ke masa. Bahasa dan sastra berkembang baik dari segi bentuk, isi, ataupun fungsi sosialnya. Seiring berjalannya waktu.

Melalui kajian ini mahasiswa diharapkan bisa melihat sastra tidak hanya dipandang sebagai produk estetik, tetapi juga sebagai wadah untuk bisa berekspresi melalui budaya yang beragam seiring waktu.

Dengan memahami sejarah sastra kita juga mennumbuhkan kesadaran akan identitas sastra yang sebenarnya dan bisa mengetahui para ahli sejarah.

Definisi secara umum sejarah sastra membahas dan mempelajari dinamika perjalanan sastra Indonesia. Mulai dari adanya sastra tradisional yang diturunkan secara lisan. Hingga generasi selanjutnya. Sampai muncul sastra kontemporer dan digital.

Pembelajaran sastra tidak hanya berfokus pada pembagian suatu perkembangan atau yang biasa kita sebut periodesasi. Hal ini juga penting agar generasi tidak terputus dari akar tradisinya.

Kita dapat melihat bagaimana suatu karya sastra berperan dalam membentuk suatu tatanan pada masyarakat. Baik pada diri sendiri,masyarakat, bangsa dan dunia.

Mempelajari Karakteristik Bahasa dan Satra

Sejarah sastra mempelajari tentang karakteristik, tokoh, karya utama, serta ide atau gagasan estetik pada pada setiap angkatan sastra. Pada akhirnya tujuan kajian sastra Indonesia adalah menjaga suatu tradisi intelektual yang sudah ada sejak zaman nenek moyang.

Melalui pengenalan tentang sejarah dan kita bisa mengimplementasikan melalui pelestarian pada sebuah karya-karya berharga dari masa lampau.

Dengan itu kita juga mendapatkan sebuah nilai atau sikap menghargai keberagaman budaya dan ekspresi di Indonesia. Indonesia jua menjadi tempat terciptanya karya atau illustrasi karya baru yang lebih kaya dan relevan pada masa saat ini.

Jauh sebelum melangkah ke jenjang bangku perkuliahan, saya memiliki beberapa harapan di program studi S1-pendidikan dan sastra Indonesia. Harapan saya bisa  mengekspresikan sebuah jiwa emosional melalui karya-karya dan tulisan yang memiliki nilai estetika.

Dengan sebuah pesan tersirat, saya bisa mempelajari tentang sebuah makna kata, sajak, bahkan membuat karya seperti puisi dan cerpen.

periode sejarah sastra dimulai dari bentuk mitos, legenda, pantun, hikayat, syair dan gurindam. Di masa itu pengaruh antara Hidhu, Budha dan Islam sangatlah kuat.

Dengan melalui cerita dan nilai yang disampaikan, pada awal abad ke-20, lahirlah Angkatan Balai Pustaka yang ditandai dengan munculnya karya sastra yang menggunakan bahasa Indonesia modern.

Tema yang dibahas seringkali tentang sebuah pertentangan adat dan modernitas. Setelah itu mulai hadirlah Angkatan Pujangga Baru yang mewarnai dan menggelorakan semangat kebangsaan.

Namun adanya gaya baru yang dibawakan oleh Angkatan ini ditentang oleh Angkatan 45. Pada saat masa revolusi, karena karya mereka dianggap sebagai karya yang lebih jelas, realistis, dan memberikan gambaran tentang semangat perjuangan.

Perkembangan Bahsa dan Sastra

Masuk pada masa kemerdekaan, dimana sastra  berkembang dengan lebih berani yang dibawakan oleh Angkatan 50 sampai dengan Angkatan 60. Di dalamnya banyak mengangkat tentang isu kritik sosial dan menekankan pada hakikat kemanusiaan.

Perubahan itu terus berjalan sampai dengan adanya Angkatan 66 dengan memuat sebuah karya tentang kebebasan seseorang dan juga reaksi terhadap suasana politik setelah tahun 1965. Dan puncaknya di tahun 1980-1990 an.

Sastra berkembang menjadi sebuah karya yang lebih bervariatif dan menolak sebuah pikiran tunggal. Melalui simbol, metafora dan mengembangkan dengan bentuk, sampai saat ini karya sastra terus berjalan. Dengan memperhatikan suara-suara disekitar yang membawa sebuah persprektif baru.

Selama satu semester mengikuti mata kuliah sejarah sastra, saya memperoleh wawasan mendalam mengenai perkembangan kesusastraan Indonesia dari masa ke masa. Melalui kuliah diskusi dan tugas.

Saya menyadari bahwa karya sastra bukan hanya sekadar cerita cinta dalam novel, melainkan sebagai sember informasi sejarah, cerminan kehidupan sosial, alat kritik serta medium ekspresi budaya.

Sastra juga berperan penting dalam melestarikan identitas dan kekayaan budaya suatu bangsa. Refelksi ini membuat saya paham bahwa mempelajari sejarah sastra bukan hanya sekadar menghafal periode dan tokoh sastra, namun juga melatih kemampuan berfikir kritis dalam menganalisis gagasan, gaya bahasa dan fungsi sastra.

Pengalaman paling mengesankan dalam pembelajaran mata kuliah ini adalah Ketika mahasiswa diberi tugas membuat poster mengenai “sejarah kemunculan sastra Indonesia.”

Saya mendapat tema “Novel Azab dan Sengsara karya Merari Siregar serta relevansinya dalam sejarah sastra Indonesia.” Kemudian, mahasiswa dibagi kedalam tujuh kelompok dan diminta menjelaskan poster tersebut seolah-olah mereka adalah guru yang sedang mengajar siswa.

Bagi saya, kegiatan ini  tidak hanya mempertajam pemahaman terhadap materi sejarah sastra, tetapi juga mengasah keterampilan komunikasi. Selain itu, pengalaman ini memberikan kesempatan untuk merasakan langsung penerapan ilmu yang dipelajari dalam situasi praktis. Sehingga semakin termotivasi untuk terus memperluas pengetahuan dan kemampuan akademik.

Melihat Sebuah Nilai alam Karya

Pembelajaran sejarah sastra tentunya memiliki hubungan erat dengan bahasa dan sastra di sekolah. Dari perkembangan atau masa transisi Sejarah. Siswa dapat memberikan sebuah apresiasi terhadap karya-karya yang dimuat, seperti perubahan yang terjadi tentang penggunaan gaya bahasa, tema, atau sebuah isu yang dimuat

Siswa dapat melihat sebuah nilai yang ada dalam karya. Nilai tersebut bisa berupa moral, historis, estetika, sosial, budaya, filosofis, kreativitas dan perjuangan.

Dengan demikian, sejarah sastra menjadi pondasi siswa dalam menumbuhkan menganalisis suatu karya, mengapresiasi serta pemahaman mereka mengenai suatu wawasan budaya yang lebih luas.

Di sisi lain saat dunia modern mulai berkembang pesat, mulailah muncul beberapa sastra digital. Karya sastra secara digital. Dengan hal ini, mahasiswa harus bisa berpikir kritis dan menilai suatu kualitas karya.

Sikap kritis berarti mampu membaca dengan cermat dan bijak, membandingkan dengan berbagai sumber dan memahami suatu pesan yang disampaikan. Pesan yang ditimbulkan dari karya sastra tersebut.

Sikap berpikir kritis dapat menjadikan siswa menghargai setiap karya sastra dan juga berpartisipasi dalam dunia literasi digital secara bijak dan bertanggung jawab.

Melalui sebuah proses pembelajaran dan pemahaman mengenai sastra, membuat saya sadar bahwa sastra bukan hanya sebuah hiburan atau imajinasi, melainkan sebuah tempat untuk menyimpan kejadian dan suatu pengalaman yang terjadi

Refleksi Evolusi Budaya, Sosial Dan Intelektual

Belajar sastra juge menggambarkan dinamika sosial seperti perubahan dan pergerakan masyarakat. Melalui nilai norma, perilaku, cara pikir dan cara pandang seseorang. Sehingga terhubung antara dan lainnya.

Karya sastra dapat terlahir dari tradisional hingga era kontemporer. Masing-masing ada perbedaan pemikiran dan nilai-nilai. Semuannya menunjukan bahwa sastra selalu beradaptasi dengan realitas sosial.

Selama satu semester mengikuti pembelajaran sejarah sastra saya menyimpulkan. Bahwa sastra tidak semata-mata hanya karya seni, melainkan juga refleksi evolusi budaya, sosial dan intelektual masyarakat sepanjang zaman.

Setiap periode sastra menghadirkan nilai, corak dan jiwa. Sehingga menyajikan pandangan menyeluruh mengenai kemajuan identitas kesusastraan Indonesia.

Melalui refelksi ini, saya sampai pada pemahaman bahwa memahami sejarah sastra sama artinya dengan menelaah dinamika transformasi masyarakat, sekaligus mengasah kemampuan berfikir keritis, analitis, dan empatis.

Kedepannya berharap bisa mengembangkan keilmuan sastra lebih mendalam dan mengajak seluruh jejeran anak muda agar mencintai sastra.

Sehingga bisa membaca karya dengan suatu pendekatan yang lebih matang dan lebih terarah. Dalam konteks Pendidikan, saya ingin memberikan sebuah kontribusi terhadap masyarakat.

Dengan menghadirkan program literasi yang dibuat secara kreatif. Menumbuhkan jiwa-jiwa literasi, karena mengingat betapa pentingnya literasi di era modernisasi saat ini.  (Raflie Ahmad N)

Tentang Penulis: Mahasiswa UNESA Fakultas Bahasa dan Sastra Semester 1

Artikel Terkait