wilwatekta.com

Menelusuri Perjalanan Sastra Indonesia: Refleksi Satu Semester

WLWATEKTA.COM – Mata kuliah sejarah sastra adalah mata kuliah yang dimana ia membahas dan juga berfokus tentang konsep dasar sejarah sastra. Yakni berkaitan dengan teori-teori dan juga kritik pada sastra. Selain itu juga membahas sastra itu lahir dan juga berkembang.

Mata kuliah sejarah sastra juga mempelajari hal-hal berkaitan dengan periode sastra, seperti masa  pra modern, modern, dan kontemporer. Serta juga memiliki ciri-ciri estetika dan juga ekstra-estetiknya.

Sejarah sastra juga akan mengananlisis karya-karya sastra yang penting dan juga membahas tokoh-tokoh di balik karya-karya tersebut di dalam setiap periodenya.

Harapan saya sebelum masuk perkuliahan adalah untuk mencari dan menuntut ilmu sebagai bekal di hari tua. Sebelum memilih prodi ini, saya sudah mencari tau apa saja mata kuliah yang ada di prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Salah satu matkul tersebut adalah sejarah sastra.

Sebelum masuk awal perkuliahan, saya juga sudah melihat dan juga mencari info terkait peluang pekerjaan untuk lulusan prodi ini. Oleh karena itu, saya sangat berharap agar bisa menyesuaikan diri saya sendiri.

Dengan lingkungan perkuliahan, bisa memahami materi dengan baik dan juga bisa mengembangkan kemampuan akademik. Kemudian menjadi pendukung saya untuk bisa meraih cita-cita yang sudah saya impikan sejak lama.

Pemahaman terhadap periode sastra Indonesia adalah suatu kemampuan kita untuk memahami, mengenali dan juga untuk menganalisis perkembangan- perkembangan karya. Ada pada sastra Indonesia yang didasarkan pada pembagian zaman ataupun periode-periode tertentu.

Periode Pra-kemerdekaan adalah dimana zaman perkembangan sastra di Indonesia sebelum tahun 1945 (tahun kemerdekaan), masa-masa tersebut karya sastra banyak sekali  dipengaruhi dengan adanyaa kondisi sosial dan politik kolonial.

Lalu Angkatan Pujangga Baru itu lahir pada tahun 1933 dan berkembang hingga tahun 1945. Hal tersebut ditanddai dengan munculnya  tema-tema baru seperti nasionalisme.

Kemudian Balai Pustaka berkembang pada sekitar tahun 1920-1940, dengan adanya ciri khas tema yang sangat cenderung berfokus pada konflik-konflik adat dan nilai-nilai tradisi.

Pada Angkatan’45 itu dengan lantang menyuarakan semangat untuk perjuangan kemerdekaan, kritik sosial dan juga hal berbau politik.

Setelah itu periode sastra yang muncul pada angkatan 66-98 itu mencakup dua angkatan utama, yaitu angkatan periode sastra orde baru, dan secara spesifik hal itu merujuk pada sastra pasca-Reformasi.

Pada tahun 1970 juga muncul namanya Sastra Kontemporer, dimana sastra ini. Sebagai bentuk sebuah pembaruan dari sastra-sastra modern yang tidak terikat oleh aturaan-aturan lama atau  tradisional.

Refleksi  Pengalaman Selama Satu Semester

Sebelum mengikuti perkuliahan pada mata kuliah Sejarah Sastra Indonesia, saya sempat mengira bahwa pembelajaran mata kuliah ini hanya sekadar hafalan yang  monoton mengenai periode sastra serta tokoh-tokoh di dalamnya.

Namun setelah pertemuan pertama berlangsung, asumsi saya mengenai mata kuliah tersebut mulai berubah.

Dari titik itu, saya berharap dengan  mengikuti mata kuliah ini dapat membantu saya untuk memahami hubungan antara karya sastra dan juga kondisi sosial yang melatarbelakanginya.

Selain itu, saya juga berharap dapat memiliki sudut pandang lebih luas agar kelak dapat menggunakannya dalam proses mengajar bahasa dan sastra di sekolah.

Relevansi dengan Praktik di Sekolah

Materi sejarah sastra ini memiliki peran sangat penting dalam proses pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia. Karena dapat membantu guru dan juga siswa dalam memahami perkembangan-perkembangan karya sastra dari masa ke masa.

Dengan mengetahui karakteristik pada setia angkatan sastra, guru akan bisa menjelaskan bagaimana kondisi sosial dan budaya bisa memengaruhi lahirnya suatu karya. Sehingga siswa tidak hanya membaca suatu teks saja, tetapi juga bisa memahami konteks serta makna yang dikandung.

Selain itu, pemahaman terhadap materi Sejarah Sastra ini juga bisa membuat guru  dapat menyusun pembelajaran lebih variatif dan bermakna. Misalnya melalui kegiatan projek pembuatan sebuah karya dengan gaya suatu angkatan sastra tertentu.

Pembelajaran berbau sejarah sastra juga akan dapat memperkuat nilai-nilai karakter dan menumbuhkan sikap mencintai tanah air Indonesia.

Sikap kritis bisa membuat kita untuk selalu lebih waspada terhadap perkembangan literasi. Sebab informasi yang beredar belum bisa diketahui kebenarannya.

Sebagai pembaca yang kritis akan dapat menilai apakah tulisan tersebut sudah memiliki gagasan kuat, memiliki pesan bermakna dan apakah sudah relevan dengan kehidupan saat ini.

Hal tersebut sangatlah penting untuk  bisa menjaga kualitas literasi, membentuk suatu budaya baca yang lebih baik lagi, dan akan bisa memastikan perkembangan sastra. memberikan dampak positif bagi pembentukan setiap karakter spsial dalam bermasyarakat.

Selama pembelajaran satu semester Sejarah Sastra Indonesia ini, pemahaman saya menjadi lebih berkembang bahwa mata kuliah ini tidak hanya berisi tentang nama-nama tokoh atau mengenai periode sastra.

Lebih dari hal  tersebut, sejarah sastra ternyata menggambarkan perjalanan perubahan masyarakat, perkembangan budaya, serta cara berpikir manusia pada setiap masa. Melalui materi yang sudah dipelajari, saya dapat memahami bahwa setiap karya sastra lahir dari konteks sosial yang melingkupinya.

Kedepannya, saya berharap pemahaman mengenai teori dan perjalanan sastra tidak hanya digunakan sebagai bekal pengetahuan, tetapi juga bisa diterapkan dalam praktik pembelajaran maupun proses menghasilkan karya bermakna.  (Elisa)

Tentang Penulis: Mahasiswa UNESA Fakultas Bahasa dan Sastra Semester 1

Artikel Terkait