wilwatekta.com

Menapak Jalan Gus Dur: Kaum Sarungan dan Spirit Kebangkitan Bangsa

Oleh: Wawan Purwadi

WILWATEKTA.COM – Setiap tanggal 20 Mei, kita kembali diingatkan pada tonggak sejarah yang menandai lahirnya kesadaran kolektif bangsa Indonesia: Hari Kebangkitan Nasional. Tanggal ini merujuk pada berdirinya Boedi Oetomo pada 1908, yang kerap dianggap sebagai titik awal gerakan modern nasionalisme Indonesia. Namun, kebangkitan yang dimaksud sejatinya bukan hanya kebangkitan dari penjajahan secara fisik, tetapi juga kebangkitan kesadaran, identitas, dan keberanian untuk membangun masa depan bersama. Dalam semangat ini, sosok Abdurrahman Wahid atau Gus Dur menjadi figur yang patut direnungkan ulang. Pemikirannya tentang pluralisme, keberagaman, dan peran “kaum sarungan” dalam membangun bangsa memberikan kontribusi yang sangat berarti dalam merumuskan wajah Indonesia yang inklusif, toleran, dan berkeadaban.

Kaum sarungan, istilah yang sering digunakan untuk menggambarkan komunitas pesantren dan para santri, telah lama memainkan peran penting dalam perjalanan bangsa ini. Mereka mungkin tidak selalu tampak di panggung politik nasional secara kasat mata, tetapi keberadaan mereka menopang kekuatan moral dan spiritual bangsa. Sarung, dalam konteks ini, bukan sekadar kain tradisional yang dikenakan untuk ibadah atau kegiatan keagamaan, melainkan simbol kesederhanaan, kearifan lokal, dan ikatan kuat dengan akar budaya Nusantara. Gus Dur adalah tokoh yang dengan berani membawa kaum sarungan ke dalam percaturan politik dan kebudayaan nasional. Ia tidak hanya membela kaum ini, tetapi juga menunjukkan bahwa mereka memiliki posisi penting dalam menentukan arah masa depan Indonesia.

Melalui tulisan, ceramah, dan kebijakan-kebijakannya, Gus Dur mengangkat martabat kaum sarungan sebagai kelompok yang memiliki kontribusi besar dalam perjuangan bangsa, bukan hanya di masa lalu tetapi juga dalam membentuk masa depan. Ia menolak dikotomi antara tradisional dan modern, antara pesantren dan perguruan tinggi, antara Islam lokal dan Islam global. Dalam pandangannya, Islam yang hidup di Indonesia memiliki wajah yang ramah, toleran, dan akomodatif terhadap budaya. Yaitu kekuatan besar yang bisa menjadi landasan bagi kebangkitan nasional yang sejati.

Gus Dur tidak sekadar memperjuangkan politik identitas kaum sarungan dalam arti sempit. Ia mengusung gagasan besar tentang demokrasi yang berakar dari nilai-nilai spiritual dan kemanusiaan. Baginya, politik adalah jalan pengabdian untuk memperjuangkan martabat manusia, terutama mereka yang terpinggirkan. Ia dikenal sebagai pembela kaum minoritas. Kala itu etnis Tionghoa, kelompok Ahmadiyah, komunitas Papua, bahkan dan kelompok marjinal lainnya. Dalam konteks sosial-politik Indonesia kerap disingkirkan dari ruang publik. Keberpihakan ini lahir bukan karena kalkulasi politik, tetapi karena prinsip moral yang kuat, yang ia warisi dari tradisi pesantren dan ajaran-ajaran luhur Islam Nusantara.

Dalam kerangka inilah, Gus Dur menafsirkan ulang makna kebangkitan nasional. Kebangkitan tidak hanya berarti melepaskan diri dari belenggu penjajahan, tetapi juga dari segala bentuk penindasan. Termasuk penindasan atas pikiran, budaya, dan hak-hak sipil. Ia menyadari bahwa tantangan bangsa Indonesia pasca-kemerdekaan tidak lagi berupa kekuasaan kolonial, melainkan bentuk-bentuk ketimpangan struktural, ketidakadilan hukum, kemiskinan, serta konflik identitas yang mengoyak persatuan. Menanggapi semua itu, Gus Dur menawarkan jalan tengah: bukan dengan kekerasan, bukan dengan konfrontasi, melainkan dengan dialog, kebijaksanaan, dan penghormatan terhadap kemanusiaan.

Relevansi pemikiran Gus Dur sangat terasa hari ini, ketika bangsa Indonesia dihadapkan pada ancaman polarisasi sosial, populisme agama, dan kemunduran etika politik. Di tengah situasi tersebut, kita membutuhkan sosok dan semangat seperti Gus Dur. Yang mampu merangkul tanpa membedakan, yang berani bersuara ketika mayoritas diam, dan yang mampu memimpin dengan hati, bukan sekadar strategi. Kaum sarungan yang dahulu dianggap marginal justru memiliki fondasi moral yang kokoh untuk memandu arah bangsa: kesederhanaan, solidaritas, keteguhan hati, dan keyakinan pada nilai-nilai kemanusiaan yang universal.

Peringatan Hari Kebangkitan Nasional semestinya menjadi momen untuk merefleksikan arah kebangsaan kita hari ini. Apakah kita masih setia pada cita-cita awal para pendiri bangsa? Apakah demokrasi yang kita jalani betul-betul menjamin keadilan dan kesetaraan? Apakah pembangunan yang kita lakukan juga menyentuh kelompok-kelompok yang paling rentan? Pertanyaan-pertanyaan ini tidak bisa dijawab dengan retorika belaka, melainkan dengan tindakan nyata, dengan komitmen untuk membangun bangsa dari akar. Mulai dari desa, dari pesantren, dari kaum sarungan yang selama ini menjadi penjaga moral dan spiritual negeri.

Menapak jalan Gus Dur bukan perkara mudah. Jalan itu penuh onak, penuh risiko, dan tidak jarang membawa pada kesalahpahaman. Tapi itulah jalan kebangkitan yang sejati: bukan kebangkitan yang gempita di permukaan, melainkan kebangkitan sunyi yang bekerja dari bawah, yang membela yang lemah, dan yang menjunjung tinggi martabat manusia. Gus Dur telah menunjukkan kepada kita bahwa kaum sarungan bukan penghalang kemajuan, tetapi justru penjaga nurani bangsa. Mereka bukan beban sejarah, melainkan bagian penting dari masa depan.

Di tengah dunia yang kian terfragmentasi oleh kepentingan, oleh kekuasaan, dan oleh egoisme kelompok, warisan Gus Dur dan kaum sarungan menawarkan harapan. Bahwa Indonesia yang plural, adil, dan manusiawi masih mungkin terwujud. Asal kita berani menapaki jalan yang telah ia buka. Sebuah jalan yang mungkin sunyi, tapi pasti penuh makna. (*)

Artikel Terkait