wilwatekta.com

Mbah Muchith Kiai Kelana: Dari Tebuireng ke Sukorejo

WILWATEKTA.COM – Ada sosok-sosok dalam sejarah NU yang tidak tercatat dalam buku resmi, tidak tumbuh sebagai figur populer di mimbar-mimbar besar, tetapi diam-diam menjadi poros peradaban, penyangga moral, sekaligus mata air bagi generasi muda. Ia, KH Abdul Muchith Muzadi, lahir Bangilan-Tuban 4 Desember 1925.

Di antara nama-nama itu, Mbah Muchith adalah salah satu tokoh paling diingat oleh santri-santri NU. Beliau tidak berjalan di jalur para tokoh yang haus panggung; beliau berjalan sendirian, dari forum ke forum, dari pesantren ke pesantren, membawa ilmu yang sunyi dan hikmah yang jernih.

Ia adalah kiai kelana—pengembara intelektual dan spiritual yang tidak pernah membiarkan tubuhnya berdiam dalam satu identitas tunggal. Jejaknya dimulai dari Tebuireng, lalu melebar ke Sukorejo dan pesantren lainnya yang pernah beliau singgahi. Mbah Muchith bergerak mengikuti arus sejarah NU di akhir abad ke-20.

Hal itu juga disampaikan oleh KH Mun’im DZ, saat peringatan 100 tahun Mbah Muchith di Aula Balai Diklat KKB, Jl Kalimantan 22 Jember pada, Rabu (03/04/25).

“Saya mengenalnya bukan dari panggung resmi. Pertemuan pertama kami terjadi begitu saja, tanpa tanda, tanpa kesan bahwa saya sedang berbicara dengan seorang ulama besar. Saat itu sebuah acara besar NU berlangsung di Situbondo,” ucapnya.

Kiai Mun’in menegaskan, “Saya masih muda, mahasiswa dari Jogja dan datang sebagai bagian dari “Romli”—rombongan liar—yang selalu hadir dalam muktamar atau munas NU tanpa undangan formal, tanpa fasilitas, hanya membawa semangat untuk menimba pengalaman.”

Di tengah keramaian itu, “ada seorang laki-laki tua duduk bersama kami. Beliau bukan duduk di kursi VIP, bukan di barisan undangan, tetapi bercampur dengan para jamaah sederhana. Cara duduknya sederhana, cara tertawanya ringan, dan cara bertanya serta menanggapi diskusi membuat saya mengira ia hanya seorang pegiat lokal yang rajin mengikuti forum NU,” ia menceritakan sambil terkekeh.

Lebib lanjut ia menuturkan, “Kami berdiskusi lama saat itu: tentang politik, tentang arah NU, tentang masa depan Indonesia. Beliau berbicara dengan ketenangan seorang yang telah lama mengamati dunia, tetapi sama sekali tidak pernah menyebut namanya. Tidak ada gengsi yang biasanya melekat pada seorang kiai besar.”

“Tidak ada identitas yang dipamerkan. Beliau seperti angin yang datang dan duduk bersama kami, lalu pergi tanpa meninggalkan jejak nama,” tandasnya.

“Beberapa bulan kemudian, saya bertemu beliau lagi di Munas, pada acara besar NU lainnya. Saya tidak mengenal wajahnya saat itu, tetapi saat berdiskusi, saya merasakan gaya pikir yang sama, nada yang sama, ketajaman yang sama.”

Kiai Muchith Tidak Mau Duduk Di Barisan Undangan

Kiai Mun’im menuturkan, “Beliau menyebut beberapa peristiwa politik, mengurai dinamika NU pasca-muktamar dan memberi komentar yang bagi saya terdengar lebih matang daripada para aktivis senior. Lagi-lagi beliau duduk di pinggir, tidak mau duduk di barisan undangan,” Kiai Mun’im menceritakan kesederhaan Kiai Muchith.

“Beliau mencair di antara para Romli seperti kami, menikmati suasana tanpa jarak sosial. Di Cilacap, tahun 1985, saya pun menjumpai beliau kembali dengan pola yang sama. Saya merasa seperti sedang bertemu orang biasa, tetapi pembicaraannya semakin membuat saya curiga: ini bukan orang sembarangan.”

Suatu hari, pada sebuah acara NU di Jogja, mulailah tabir itu terkuak. “Kami duduk di belakang, berdiskusi sambil menunggu acara dimulai. Ia berbicara panjang tentang sejarah pergerakan NU, tentang perubahan pasca-Situbondo 1984, hingga menyebut tokoh-tokoh yang saya tahu hanya dikenal oleh lingkaran ulama besar.”

Ia menegaskan, “ketika sedang nyaman berdiskusi, datanglah seorang santri dari luar kota, bergegas mencium tangannya, memanggil beliau “Kiai,” Kiai Mun’im menyampaikan rasa penasaran.

“Saya terkejut. Saya baru benar-benar tahu siapa orang yang selama ini sering duduk bersama kami. “Iki mbah Muchith,” kata santri itu lirih. Dan seketika seluruh percakapan selama ini terangkai ulang dalam kepala saya.”

“Nama Mbah Muchith—yang sebagian besar orang mengenalnya dari cerita-cerita Tebuireng dan beberapa lagi dari jalur Sukorejo—adalah nama yang disegani di kalangan pesantren. Beliau bukan kiai panggung, tetapi kiai laku.”

“Ia tidak besar karena jabatannya, tetapi besar karena keluasan ilmunya dan sikap hidupnya yang tidak terikat pada apapun kecuali pada keikhlasan mencari cahaya Ilahi.”

“Baru setelah itu saya paham mengapa cara beliau memandang politik begitu jernih, mengapa analisisnya tentang NU begitu matang, dan mengapa pandangannya tentang negara terasa seperti berasal dari seorang yang mempelajari sejarah Islam dari akar-akarnya.”

Mbah Muchith: Memahami NU Jangan dari Organisasional

Ia, Kia Mun’im menuturkan, “Sejak pertemuan itu, hubungan kami berubah tetapi tetap sederhana. Kami saling bertukar nomor telepon. Beliau memberikan nomornya, tetapi tidak pernah menelepon saya. “Kiai nelpon santri, ora kepenak,” katanya. Maka saya yang sering memulai percakapan. Setiap saya ke Jakarta, saya menghubungi beliau,” tuturnya.

“Setiap beliau berada di Surabaya, atau kadang di Malang, kami bertemu lagi. Tapi tidak pernah sekalipun beliau memperlakukan saya sebagai orang kecil; beliau memperlakukan saya sebagai sahabat berdialog.”

Lewat pertemuan-pertemuan berikutnya, “saya mulai memahami keistimewaan beliau. Mbah Muchith adalah satu dari sedikit tokoh yang memahami NU bukan hanya dari sisi organisasional.”

“Namun dari akar epistemologinya—dari kitab-kitab yang menjadi fondasi pemikiran Ahlussunnah wal Jamaah, dari dinamika ulama sejak masa Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari, dari pergulatan antara tradisi dan modernitas yang sejak pendirian NU tidak pernah berhenti.”

Beliau menjelaskan kepada saya, “bahwa NU seusai Muktamar Situbondo sebenarnya memasuki fase penting: fase transisi pemikiran. Ada tiga arus besar dalam tubuh NU saat itu. Yang pertama adalah arus konservatif yang dijaga oleh para ulama sangat alim, penjaga santri, penjaga teks, penjaga tatanan.

Yang kedua adalah arus liberal yang kala itu banyak diwakili oleh kelompok diskursus baru, seperti Masdar, yang berani mengajukan kritik terhadap hadis dan fikih. Yang ketiga adalah arus moderat, yang mencoba menyeimbangkan keduanya, agar NU tidak kehilangan akar, tapi juga tidak tertinggal.

Dalam banyak kesempatan, beliau menyinggung perdebatan panas di PBNU tahun 1985–1986, ketika isu-isu besar seperti filsafat negara, syarat imam, kekuasaan, hingga tafsir kenegaraan menurut karya-karya klasik menjadi bahan diskusi serius.

Ia bercerita tentang kitab-kitab besar yang menjadi rujukan ulama dalam memahami syura, imamah, dan tujuan negara. Ia mengatakan, dengan logika yang halus namun tajam, bahwa kedalaman kitab-kitab itu setara dengan pemikiran Yunani kuno maupun teori modern tentang negara.

“Saat itu saya hanya mendengar—belum mampu memahami sepenuhnya. Baru bertahun kemudian saya mengerti bahwa beliau sedang membawa saya memasuki inti peradaban NU: ilmu yang luas, nalar yang jernih, dan keberanian berpikir yang bertanggung jawab.”

Membedakan Jalur Ulama dan Jalur Pendidikan Sarjana

Perlahan-lahan beliau juga mengajari saya membedakan jalur pendidikan ulama dan jalur pendidikan sarjana. “Ulama, katanya, lahir dari hati yang ditempa tirakat, amalan, puasa, dan kecerdasan batin. Sarjana lahir dari kecerdasan intelektual yang disuplai bacaan, metodologi, dan pengetahuan akademis.”

“Tujuannya beda, jalannya beda,” katanya. “Kita tidak bisa membakar tradisi hanya karena ingin menciptakan ulama-modern. Ulama itu cahaya, bukan gelar.”

Yang paling saya ingat adalah kesabaran beliau. “Kami berdiskusi dari tahun 1985 sampai 2005, dua puluh tahun lamanya. Tidak ada jawaban final, tidak ada simpulan terakhir, karena beliau percaya bahwa ilmu adalah perjalanan, bukan destinasi. “Ilmu itu cahaya,” katanya, “bukan ketakutan. Sing ndadekne wedi kuwi ora ngerti.”

Setelah bertahun-tahun, baru saya memahami bahwa peran beliau dalam sejarah NU bukan sekadar mengamati. “Ia menanam benih. Ia melakukan scouting—menyusuri lingkar diskusi, menilai mana bibit yang bisa tumbuh menjadi penyangga NU masa depan. Ia tidak mengincar panggung, tetapi mengincar hati-hati muda yang tulus.”

Baru setelah dewasa, “saya sadar bahwa Mbah Muchith adalah tipe ulama yang kini hampir punah: ulama yang besar tetapi tidak membesarkan diri, ulama alim tetapi tidak pernah berdiri di atas mimbar kekuasaan, ulama yang ilmunya dalam tetapi sikapnya merunduk.

Dari Tebuireng ke Sukorejo, dari muktamar ke munas, dari percakapan kecil di pinggir forum hingga diskusi panjang di rumah-rumah sepi, beliau berjalan seperti air yang tenang tetapi menghanyutkan.

Kiai Muchith tidak meninggalkan biografi tertulis, tetapi meninggalkan jejak yang terpatri dalam ingatan generasi yang disentuhnya.

“Dan saya, yang awalnya hanya menjadi bagian dari rombongan liar yang tidur di lantai forum NU, menjadi salah satu yang tersentuh oleh sinar keilmuannya. Kadang saya merasa, di tengah keramaian sejarah NU yang besar ini, saya hanyalah titik kecil. Tetapi Mbah Muchith telah membuat titik kecil itu menyala.”  (Aam Waro’)

Artikel Terkait