wilwatekta.com

Marwah NU Diuji: Membaca Ulang Khittah, Merawat Jalur Perjuangan

Ilustrasi: Wilwatekta.com

WILWATEKTA.COM – Marwah sebuah organisasi besar seperti Nahdlatul Ulama tidak runtuh oleh serangan dari luar. Ia justru bisa retak oleh ulah segelintir orang di dalamnya—mereka yang mengibarkan panji NU tetapi menempatkan kepentingan pribadi di atas amanat jam’iyah.

Ketika jabatan dilihat sebagai jembatan menuju kuasa, ketika nama besar NU dipakai sebagai paspor politik, dan ketika garis khittah direduksi hanya menjadi slogan, di situlah marwah NU benar-benar diuji.

NU berdiri bukan untuk menjadi pelayan kekuasaan. NU didirikan untuk menjaga martabat umat, mengokohkan islam rahmatan lil ‘alamin dan menegakkan keadaban publik.

Jika dalam satu-dua peristiwa di daerah tertentu, struktur NU tiba-tiba lebih akrab dengan broker politik dibanding jamaahnya sendiri, maka ada sesuatu yang sedang keluar jalur—dan itu perlu dikatakan secara jelas, karena diam adalah bentuk pembiaran.

Sebagian pengurus mungkin fasih menyebut kata khittah, tetapi tidak selalu loyal pada ruhnya. Khittah bukan sekadar teks dokumenter, tetapi kompas moral yang menuntut NU untuk berada di atas, bukan di bawah, kepentingan politik praktis.

Para muassis mendirikan NU agar kiai memiliki otoritas moral yang tidak dapat ditawar oleh tekanan politik kekuasaan.

Hari ini, kompas moral itu kadang tampak berputar arah. Ada yang mengartikan khittah sebagai hak bagi pengurus untuk bebas berpolitik, bukan kewajiban untuk menahan diri.

Ada pula yang menjadikan “khittah” sebagai tameng untuk mengamankan posisi struktural sambil bertransaksi di ruang gelap kekuasaan. Padahal, para muassis mengajarkan:

“Menjadi pengurus NU berarti siap memikul amanah yang berat, bukan menjemput kehormatan dunia.”

Jika khittah terus diperlakukan hanya sebagai ornamen retoris, NU akan kehilangan pagar moralnya sendiri.

Di berbagai wilayah, ada cerita yang berulang—dan semakin sering terdengar. Pengurus terlalu sibuk melobi, bukan mengabdi. Struktur yang lebih sigap menyambut politisi dibanding mendengar aspirasi jamaah. Langkah organisasi yang diarahkan bukan oleh musyawarah, tetapi oleh kedekatan dengan para pemilik modal politik.

Fenomena ini tidak besar secara jumlah, tetapi keras gema dampaknya. Ia mencoreng wajah jam’iyah yang sejak awal berdiri menjunjung kearifan dan adab. Ia membuat warga NU bertanya:

Apakah NU masih menjadi rumah besar umat, atau mulai disulap menjadi ruang tamu bagi elit politik tertentu?

Jika dibiarkan, kecenderungan ini bukan hanya merusak tatanan organisasi, tetapi juga meruntuhkan kepercayaan sosial yang telah dibangun selama hampir satu abad.

Kiai adalah Benteng Terakhir

Dalam sejarah NU, para kiai selalu menjadi penjaga moralitas organisasi. Namun beban menjaga marwah tidak bisa diletakkan hanya di pundak mereka.

Kiai bisa memberi arah, tetapi jamaah harus berani mengoreksi jika arah itu disimpangkan oleh mereka yang berada di lingkar struktural.

NU Online sering menekankan bahwa kritik dari dalam adalah bagian dari muḥāsabah jam’iyah. Jamaah bukan penonton yang harus menerima apa pun yang dilakukan pengurus. Jamaah adalah pemilik sah organisasi ini.

Jika ada perilaku menyimpang—ketidakadilan, arogansi jabatan, politisasi struktur—jamaah justru wajib bersuara.

Keheningan bukan akhlak ketika organisasi sedang diseret menjauh dari khittah.

Jalur perjuangan NU selama ini adalah jalur sunyi: pendidikan, sosial, dakwah kultural, pemberdayaan ekonomi. Namun ada kecenderungan baru: menjadikan NU sebagai panggung politik transaksional yang riuh seperti pasar malam.

Ada yang menganggap dukungan warga NU bisa diborong dengan satu-dua kegiatan seremonial; ada yang menyangka struktur NU bisa diarahkan ke kandidat tertentu dengan tawaran posisi.

Padahal, tradisi NU mengajarkan:

“Jalan yang benar sering kali tidak populer, tetapi selalu menenangkan hati.”

NU tidak boleh dibiarkan menjadi mesin dukungan murah. NU harus tetap menjadi pelita moral, bukan papan reklame politik.

NU Rumah yang Teduh

NU akan tetap besar jika tetap setia pada khittah. NU akan tetap mulia jika pengurusnya tetap tawadhu’ dan jamaahnya tetap kritis. NU akan tetap menjadi benteng moral bangsa jika tidak tergoda menjadi satelit kekuasaan.

Ujian terhadap marwah NU akan selalu datang, tetapi ujian bukan malapetaka—ia adalah pengingat. Pengingat agar NU tidak larut dalam hiruk-pikuk politik, agar pengurus tidak lupa bahwa jabatan hanyalah alat, bukan tujuan, dan agar khittah kembali menjadi kompas, bukan sekadar slogan.

Jika jalur perjuangan dirawat, jika khittah benar-benar dipahami, dan jika kritik diterima sebagai vitamin, bukan ancaman, maka NU akan terus tegak sebagai rumah perjuangan yang teduh—tempat umat menemukan bimbingan, kearifan, dan keadaban. (Aam Waro’)

Artikel Terkait