wilwatekta.com

Ketika Keserakahan Menghancurkan Warisan Kehidupan

Foto: bnpb.go.id

WILWATEKTA.COM – Dalam ajaran Islam, manusia diletakkan pada posisi yang mulia sekaligus berat: sebagai khalifah fil ardh, pemimpin dan penjaga bumi. Amanah ini menuntut tanggung jawab etis dalam memperlakukan alam dan sesama.

Namun realitas hari ini justru menunjukkan sebaliknya. Keserakahan manusia telah melampaui batas normal, merusak tatanan kehidupan dan meninggalkan luka ekologis yang dampaknya lintas generasi.

Kita ambil contoh banjir bandang yang terjadi di Aceh Tamiang (Sumatera). Alam telah memberikan jawaban dengan penuh murka. Air bah menyapu pemukiman warga dengan membawa batu-batu besar dan kayu gelondogan.

Akibat bencana memilukan itu, banyak masyarakat tak berdosa ikut menanggung keserakahan oligarki. Para pengusaha serakah telah membabat hutan dan merobek perut bumi tanpa ampun.

Dengan diam dan membisu, seolah tak ada masalah yang terjadi. Baik pemimpin negara, atau pelaku perusak alam ada permintaan ampun secara terbuka. Bahkan terkesan terjadi pembiaran, ingin menguasai perut bumi Sumatera tanpa berkonflik dengan warga.

Fenomena ini menjadi ancaman besar namun oleh elit politik dan oligarki pengecut biasa-biasa saja. Mereka sudah gelap mata, bahwa nyawa manusia tak ubahnya seekor ayam, yang setiap waktu disembelih dan menjadi hidangan lezat.

Padahal Al-Qur’an secara tegas telah mengingatkan fenomena ini jauh sebelum krisis lingkungan menjadi wacana global. Allah SWT berfirman:

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. ar-Rūm: 41)

Ayat ini menegaskan bahwa kerusakan lingkungan bukanlah takdir semata, melainkan konsekuensi dari keserakahan dan kelalaian manusia dalam mengelola bumi.

Dalam perspektif Islam Ahlussunnah wal Jama’ah, alam bukan objek eksploitasi, melainkan amanah Ilahi. Hutan, laut, sungai, dan tanah adalah bagian dari ayat-ayat kauniyah Allah yang harus dijaga keseimbangannya. Keserakahan telah menggeser cara pandang ini: alam direduksi menjadi komoditas ekonomi yang boleh dieksploitasi tanpa batas.

Pembalakan liar, pencemaran laut, penambangan berlebihan, dan perusakan pesisir dilakukan atas nama pembangunan. Padahal, Islam mengajarkan prinsip la dharar wa la dhirar—tidak boleh menimbulkan bahaya dan kerusakan. Ketika eksploitasi dilakukan tanpa etika, yang menanggung dampaknya justru masyarakat kecil: nelayan kehilangan tangkapan, petani gagal panen, dan warga desa hidup dalam bayang-bayang bencana ekologis.

Allah SWT mengingatkan bahwa keseimbangan adalah sunnatullah:

“Dan langit telah Dia tinggikan dan Dia letakkan neraca (keadilan), supaya kamu jangan melampaui batas dalam neraca itu.”(QS. ar-Rahman: 7–8)

Keserakahan adalah bentuk nyata dari melampaui batas tersebut.

Kerusakan alam akibat keserakahan hampir selalu berjalan beriringan dengan ketimpangan sosial. Sumber daya alam dikuasai segelintir pihak, sementara masyarakat sekitar hanya menerima dampak buruknya. Inilah yang oleh para ulama disebut sebagai zulm mustafid—kezaliman sistemik yang dilembagakan.

Islam menolak model pembangunan yang menumpuk kekayaan pada segelintir orang. Al-Qur’an menegaskan agar harta tidak berputar di kalangan elite semata:

“Supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.”(QS. al-Hasyr: 7)

Ketika keserakahan dijadikan dasar kebijakan, keadilan sosial menjadi korban. Solidaritas melemah, ukhuwah terkikis, dan masyarakat terbelah oleh jurang kepentingan.

Keserakahan juga menghancurkan warisan non-material: nilai, kearifan lokal, dan etika hidup sederhana. Tradisi masyarakat Nusantara yang menjunjung harmoni dengan alam perlahan tergantikan oleh budaya konsumtif. Kesuksesan diukur dari seberapa banyak yang dimiliki, bukan seberapa besar manfaat yang diberikan.

Padahal Rasulullah SAW telah memberi teladan hidup bersahaja dan penuh empati. Dalam banyak riwayat, beliau mengecam sikap berlebih-lebihan (israf) dan rakus (tama’). Keserakahan membuat manusia kehilangan rasa cukup (qana’ah), yang sejatinya merupakan sumber ketenangan batin dan keberkahan hidup. (Aam)

Artikel Terkait