wilwatekta.com

Keterampilan Berbicara: Seni Merangkai Kata, Menumbuhkan Percaya Diri

WILWATEKTA.COM – Berbicara adalah denyut paling sederhana dalam kehidupan manusia. Ia hadir setiap hari, menyusup dalam percakapan kecil, tegur sapa dan bisikan pikiran. Namun di balik kesederhanaannya, berbicara sesungguhnya adalah sebuah seni—seni menyampaikan gagasan, seni merawat keberanian dan seni menumbuhkan rasa percaya diri.

Ia bukan sekadar aktivitas berbunyi di hadapan cermin atau orang lain. Melainkan proses panjang belajar mengenal diri dan berani tampil apa adanya.

Sebagai mahasiswa baru di Universitas Negeri Surabaya (UNESA), langkah pertama saya memasuki ruang kelas diliputi perasaan gentar. Wajah-wajah yang belum akrab, suasana yang terasa asing, membuat saya ragu bahkan untuk sekadar membuka percakapan. Gugup menjadi teman setia di hari-hari awal.

Namun waktu berjalan dan mata kuliah keterampilan berbicara perlahan mengubah banyak hal. Rasa takut yang semula membelenggu mulai mengendur; keberanian tumbuh pelan-pelan.

Kini, saya tidak lagi enggan menyapa atau berbicara di depan umum—sesuatu yang dulu terasa hampir mustahil. Perlahan berbunyi, menembus keraguan yang selama ini menyelimuti pikiran.

Pengalaman belajar berbicara menjadi semakin bermakna berkat bimbingan Bapak Ahsan. Ia tidak hanya menyampaikan materi, tetapi menghadirkan ruang praktik yang hidup.

Dari situlah saya belajar bahwa keberanian tidak lahir dari teori semata, melainkan dari latihan yang terus diulang.

Saya mulai berani menyampaikan pendapat, maju ke depan kelas, dan menjadi perwakilan kelompok.

Kemampuan berbahasa yang sebelumnya terasa terbata-bata kini mulai tertata, lebih luas dan lebih matang. Secara tidak sadar, kosa kata yang sulit terucap, kini terucap tanpa canggung.

Lalu, di manakah letak seni dalam berbicara?

Menyampaikan Gagasan dan Mengawali Percakapan

Seni itu hadir ketika percakapan menjembatani jarak—yang semula asing menjadi akrab, yang semula tidak saling mengenal perlahan menjalin kedekatan.

Seni itu hidup ketika kata-kata mampu menghadirkan rasa, bukan sekadar makna. Melalui pembelajaran ini, kami diajak membaca puisi dengan penghayatan, bercerita dengan alur mengalir, hingga terlibat dalam simulasi talk show sebagai tolok ukur keberanian dan kemampuan berbicara yang kami miliki.

Perubahan paling nyata yang saya rasakan dalam diri sendiri. Kini lebih berani menyapa orang baru, meski di balik label ekstrovert yang sering disematkan pada diri, rasa malu kadang masih bersembunyi.

Mata kuliah ini perlahan menarik saya keluar dari cangkang itu. Jika dulu terasa canggung, kini lebih leluasa mengekspresikan diri; saya yang dulu takut, kini belajar berani.

Barangkali itulah yang membuat saya mulai dikenal—bukan karena suara lantang, melainkan keberanian untuk hadir dan berbicara.

Dari pembelajaran ini pula saya memahami bahwa tidak ada alasan untuk takut menyampaikan gagasan atau mengawali percakapan. Intonasi, artikulasi dan gaya bicara.

Apa yang kami pelajari menjadi bekal untuk berbicara dengan lebih bebas dan terarah. Manfaatnya tidak hanya saya rasakan sendiri, tetapi juga oleh orang-orang di sekitar saya. Mereka menyaksikan bahwa perubahan itu ada.

Pertukaran Mahasiswa Lintas Semester

Di antara sekian banyak pengalaman selama satu semester, ada satu peristiwa paling membekas. Yakni mendapat tugas untuk mempresentasikan sesuatu kepada orang yang sama sekali tidak saya kenal, bahkan berasal dari program studi yang berbeda.

Kepanikan seketika hadir—takut ditolak, takut tidak nyaman, takut salah ucap. Namun kekhawatiran itu runtuh ketika saya bertemu dengan sosok yang ramah dan terbuka.

Kejutan datang ketika saya mengetahui bahwa ia adalah kakak tingkat dari Fakultas Ilmu Pendidikan yang sedang menjalani program pertukaran pelajar di semester lima.

Pengalaman itu membuka cakrawala baru bagi saya. Saya belajar bahwa pertukaran pelajar di UNESA memungkinkan mahasiswa lintas fakultas untuk belajar bersama, bahkan pada jenjang semester yang berbeda.

Saya pun memahami bahwa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar memiliki cakupan keilmuan yang luas—dari bahasa, matematika, hingga ilmu pengetahuan alam. Sehingga memungkinkan kolaborasi dengan Fakultas Bahasa dan Seni, termasuk Pendidikan Seni Rupa.

Dari satu pertemuan sederhana, saya mendapatkan pengetahuan baru, relasi baru dan tentu saja kenangan yang tak terlupa.

Tentu perjalanan ini tidak tanpa tantangan. Rasa gugup dan takut salah masih kerap datang, terutama saat harus menyampaikan gagasan di depan banyak orang.

Namun saya memilih untuk tidak menyerah. Berlatih berbicara di depan cermin, merekam diri dalam video vlog, lalu menontonnya kembali untuk mengevaluasi kekurangan.

Dari proses itulah keberanian tumbuh. Saya belajar bahwa mencoba jauh lebih penting daripada sempurna dan evaluasi diri adalah kunci untuk terus berkembang.

Menyampaikan Gagasan dengan Jernih dan Percaya Diri

Kemampuan berbicara yang paling meningkat dalam diri saya adalah improvisasi. Saat mendapat tugas drama dengan waktu latihan yang sangat terbatas, kelompok kami menampilkan kisah Cinderella.

Saya memilih memahami inti cerita dan menyampaikannya dengan bahasa sendiri—tidak sepenuhnya sama dengan naskah, tetapi setia pada maknanya.

Prinsip yang sama saya terapkan saat presentasi mata kuliah lain, termasuk sejarah sastra: memahami materi secara utuh, lalu menjelaskannya dengan gaya bahasa saya sendiri agar lebih hidup dan mudah dipahami.

Akhirnya, mata kuliah keterampilan berbicara ini memberikan makna dan relevansi yang mendalam bagi kehidupan akademik saya. Ia membantu saya menyampaikan gagasan dengan lebih jernih dan percaya diri.

Lebih dari itu, saya memahami bahwa berbicara adalah seni—seni yang menautkan kata dan keberanian. Sebagai calon pendidik, keterampilan ini menjadi bekal penting untuk mengajar, berdiskusi, menghadapi ujian lisan dan memandu forum akademik.

Melalui pembelajaran ini, saya menyadari bahwa berbicara bukan sekadar keterampilan teknis, melainkan proses pembentukan jati diri sebagai mahasiswa.

Saya bertekad untuk terus melatih kemampuan ini, mengasah improvisasi, memperbaiki intonasi dan artikulasi, serta mengelola rasa gugup yang masih tersisa.

Dengan latihan yang konsisten, saya berharap mampu tumbuh menjadi mahasiswa yang lebih aktif dan calon pendidik yang berani menyampaikan gagasan dengan jujur, runtut dan bermakna. (Azzahra Khayla SAP)

Tentang Penulis: Mahasiswa UNESA Fakultas Bahasa dan Sastra Semester 1

Artikel Terkait