wilwatekta.com

Kaum Muda Bangkit, Indonesia Bangkit

Foto: Moderatpers.com

Oleh: Aam Waro’ Panotogomo (Ketua LAKPESDAM PCNU Tuban)

WILWATEKTA.COM – Tanggal 20 Mei bukanlah sekadar penanda dalam kalender. Ia adalah simbol lahirnya kesadaran nasional, titik mula dari bangkitnya semangat persatuan, dan gerakan kolektif untuk menata masa depan bangsa yang merdeka dan bermartabat. Peringatan Hari Kebangkitan Nasional (PHKN) setiap tahunnya bukan hanya untuk mengenang masa lalu, tetapi menjadi pengingat bahwa estafet perjuangan tidak pernah berhenti. Ia harus terus dilanjutkan oleh generasi yang hidup di masa kini.

Kebangkitan Nasional lahir dari kesadaran kolektif anak bangsa atas pentingnya persatuan dan pendidikan dalam melawan penjajahan. Tokoh-tokoh muda seperti Dr. Soetomo, Tjipto Mangoenkoesoemo, dan Wahidin Soedirohoesodo adalah bukti bahwa perubahan besar dimulai dari idealisme dan tekad generasi muda.

Tahun 2025 menandai 117 tahun sejak berdirinya Boedi Oetomo pada 1908, organisasi pergerakan pertama di Hindia Belanda yang menjadi pemantik kebangkitan nasional. Kala itu, sekelompok anak muda terdidik, yang tergolong minoritas dalam jumlah, justru mampu membangkitkan gelombang besar perubahan. Mereka sadar bahwa tanpa persatuan, bangsa ini akan terus terpuruk di bawah penjajahan. Mereka juga sadar bahwa kemajuan hanya mungkin tercapai jika pendidikan dan kesadaran kolektif menjadi fondasi perjuangan. Kini, lebih dari seabad kemudian, bangsa ini memanggil kaum mudanya kembali: untuk bangkit, bergerak, dan menjawab tantangan zaman.

Kaum muda hari ini hidup dalam era yang sangat berbeda dengan generasi pendahulunya. Dunia telah berubah drastis dengan hadirnya teknologi digital, kecerdasan buatan, perubahan iklim, geopolitik global yang dinamis, dan tantangan sosial yang kian kompleks. Namun semangat untuk bangkit tidak pernah berubah bentuk dasarnya: keberanian untuk menghadapi kenyataan, tekad untuk menciptakan solusi, dan semangat untuk bersatu demi masa depan bersama.

Potensi pemuda Indonesia sangat besar. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), lebih dari 60% penduduk Indonesia saat ini berada pada usia produktif, dan sebagian besar merupakan generasi muda. Mereka adalah kekuatan demografi yang luar biasa. Namun jumlah bukan jaminan. Kuantitas harus dibarengi dengan kualitas. Kaum muda yang terdidik, melek teknologi, berpikir kritis, dan memiliki kepekaan sosial adalah modal utama dalam membangun Indonesia yang tangguh dan berdaya saing di tingkat global.

Kebangkitan kaum muda juga harus bersifat inklusif. Tidak semua harus menjadi tokoh besar atau pemimpin formal. Namun setiap pemuda, dari desa hingga kota, dari kampus hingga industri, dari bidang seni hingga teknologi, memiliki peran penting sebagai bagian dari ekosistem perubahan. Seorang petani muda yang berinovasi dalam pertanian organik, seorang pengembang perangkat lunak dari pelosok yang menciptakan solusi edukasi digital, atau seorang relawan yang setia mendampingi masyarakat marginal. Karena mereka semua adalah wajah dari kebangkitan masa kini.

Bangsa ini membutuhkan kaum muda yang tidak hanya cakap secara intelektual, tetapi juga kuat secara karakter. Pendidikan karakter, pemahaman akan nilai-nilai Pancasila, cinta tanah air, semangat gotong royong, dan sikap toleran terhadap perbedaan adalah fondasi yang tidak boleh diabaikan. Tanpa karakter, kecerdasan bisa menjadi bumerang. Tanpa moral, keahlian bisa dimanfaatkan untuk kepentingan sempit.

Kebangkitan bangsa juga mensyaratkan hadirnya ruang-ruang yang memberi tempat bagi kaum muda untuk tumbuh dan berkontribusi. Pemerintah, sektor swasta, lembaga pendidikan, dan masyarakat sipil harus berkolaborasi menciptakan ekosistem yang mendorong kreativitas, kewirausahaan, partisipasi sosial, dan kepemimpinan muda. Pemuda perlu difasilitasi, didampingi, dan dipercaya untuk memikul tanggung jawab.

Dalam dunia yang kini penuh disrupsi, kaum muda harus menjadi agen adaptasi dan inovasi. Mereka harus menjadi generasi yang tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga menciptakan terobosan. Dalam bidang teknologi, kesehatan, lingkungan, pendidikan, dan ekonomi kreatif, kaum muda bisa dan harus menjadi pelopor perubahan. Ketika pemuda bangkit dengan gagasan, integritas, dan semangat kolaborasi, maka tidak ada tantangan yang terlalu besar untuk dihadapi bersama.

Peringatan Hari Kebangkitan Nasional 2025 ini menjadi panggilan moral sekaligus momentum strategis bagi kaum muda Indonesia. Kini bukan saatnya terjebak dalam polarisasi, apatisme, atau euforia semu. Kini adalah waktunya kaum muda menyatukan energi untuk bergerak bersama. Tugas pemuda bukan hanya membangun mimpi pribadi, tetapi membangun masa depan kolektif bangsa. Indonesia sedang menanti generasi muda yang mampu menjawab tantangan, bukan dengan keluhan, melainkan dengan tindakan nyata.

Bangkitlah, wahai kaum muda. Bangkit bukan sekadar berdiri, tetapi melangkah. Bangkit bukan sekadar berteriak, tetapi bekerja. Bangkit bukan hanya soal keberanian, tetapi juga ketulusan untuk menjadi bagian dari solusi. Jika kaum muda bangkit hari ini, Indonesia akan bangkit esok hari, lebih kuat, lebih adil, dan lebih sejahtera. (*)

Artikel Terkait