wilwatekta.com

Jejak Suara di Ruang Kelas: Kisah yang Tumbuh di Ruang T4.03.02

WILWATEKTA.COM – Ada satu keterampilan yang tak pernah lepas dari tiap individu, yaitu Keterampilan Berbicara. Sejak bayi, bahkan baru lahir ke dunia, tangisan bayi itu sudah dapat dikatakan sebagai kalimat syukur seorang bayi yang bisa lahir ke dunia dalam bentuk, suara tangisan.

Kemampuan ini yang terus menerus akan berkembang pesat seiring bertambahnya usia. Semakin bertambah, semakin pula kemampuan ini berkembang.

Namun, ada pula rintangan yang saya yakin banyak dialami oleh sebagian orang, termasuk saya sendiri. Pernah merasa gugup, jantung berdebar kencang, bahkan tangan gemetar saat berbicara di khalayak ramai? Atau mungkin hanya sekadar berbicara di depan kelas saat mata kuliah berlangsung? Itulah, yang harus kita ubah dan kita latih dengan mempelajari “Keterampilan Berbicara”.

Awalnya, sebelum mendapatkan mata kuliah keterampilan berbicara ini, kemampuan saya dalam berbicara tergolong cukup, tidak buruk, tidak pula sempurna.

Hanya saja, saya menghadapi beberapa tantangan, mulai dari pelafalan dalam artikulasi hingga rasa gugup ketika berada di depan audiens. Hingga, mata kuliah ini hadir, menjadi jembatan sekaligus penerang dari kesuraman yang pernah saya alami.

Masih teringat jelas bagaimana dosen mata kuliah Keterampilan Berbicara ini berkata, yang membuat pemikiran saya berubah seratus delapan puluh derajat.

“Misalnya suatu saat kalian menjadi seseorang yang memiliki jabatan tinggi dan tiba-tiba disuruh pidato di banyak orang, tidak mungkin kan kalian mengawali dengan…e..e..e.. Tentunya kalian harus mulai tanpa itu, Baik Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh….”

Kalimat yang beliau sampaikan seolah menjadi cahaya penerang bagi tantangan yang saya hadapi, bagaimanapun saya harus bisa menghadapi tantangan itu.

Waktu berlalu, hingga mata kuliah ini mulai berjalan. Pelafalan artikulasi dan rasa gugup yang saya hadapi seolah sirna, karena justru hal tersebut yang meningkat saat saya belajar mata kuliah ini.

Saya pikir mungkin susah, namun lambat laun ketika yakin akan sebuah proses, tidak ada yang namanya tidak bisa. Masih jelas teringat, tentang satu aktivitas yang cukup merubah dan meningkatkan kemampuan saya dalam berbicara, yaitu saat awal perkuliahan.

Pagi itu di ruangan T4.02.03,  ruangan si program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia diadakan kelas luring. Dosen membagi mahasiswa dalam kelompok yang beranggotakan 6 mahasiswa, dosen membimbing mahasiswa untuk menceritakan pengalaman berharga, bisa bebas, bisa juga terkait pada masa-masa SMA, dengan dibuat alur atau bagan pada secarik kertas kecil sebagai pedoman saat menceritakannya nanti.

Satu persatu mahasiswa di kelompok saya bangkit untuk menceritakan pengalaman, tak lupa di akhir setiap mahasiswa memberikan masukan terkait hal yang perlu ditingkatkan dari penyampaiannya. Awalnya saat penyampaian, saya terkesan gugup namun lambat laun digantikan dengan ketenangan.

Saya meyakini dalam hati, bahwa saya bisa dan saya tidak boleh gugup, akhirnya aktivitas itu berjalan cukup baik. Masukan-masukan yang saya dapatkan dari kelima teman saya bukanlah menjadi hinaan ataupun menjadi halangan untuk diri ini bertumbuh, namun justru menjadi langkah awal perubahan besar yang saya rasakan.

Jika kita menoleh pada masa awal mendapati mata kuliah ini, tentu ada tantangan yang menjadi bumbu bagi setiap mahasiswa, terutama saya.

Artikulasi dan rasa gugup menjadi bumbu khawatir utama bagi saya, entah pengucapan yang cukup berbelit hingga rasa gugup ketika menyampaikan di hadapan para pendengar, meskipun hanya kepada teman satu kelas dalam mata kuliah ini.

Namun, dari setiap tantangan tentu saja ada cara yang dilakukan agar tantangan tidak menjadi pemberat, sama dengan saya. Dengan artikulasi dan rasa gugup ini, menjadikan saya untuk lebih tenang sebelum berbicara, terutama dihadapan umum.

Meyakinkan diri bahwa semuanya pasti bisa dilalui, tak lupa dengan melatih artikulasi dengan melafalkan lima huruf vokal, yaitu a, i, u, e, o dengan benar dan diakhiri dengan melatih gelombang suara, yaitu dengan membuat suara ‘brrr’ lewat bibir. Hal itulah, yang membantu saya menghadapi tantangan dalam berbicara.

Tantangan tidak selalu menjadi hambatan, justru dengan tantangan menumbuhkan diri ini dengan perkembangan yang cukup pesat.

Ingat sekali dalam salah satu tugas Keterampilan Berbicara, seluruh mahasiswa di kelas saya ditugaskan untuk membuat video Mini Projek Pertemuan 8 MK Keterampilan Berbicara “Jika Aku Menjadi….”

Saat itu saya memilih tema “Jika Aku Menjadi Buku yang Dilupakan di Rak Sekolah” dan memposisikan diri menjadi buku yang terlupakan tak lupa menggunakan alat peraga.

Bagi saya itu adalah pengalaman paling membekas di ingatan sekaligus contoh konkret penerapan keterampilan berbicara dalam kegiatan perkuliahan, disitu saya merasa dilatih untuk menceritakan, tentunya dengan intonasi dan ekspresi yang mendukung.

Bagi anak muda seperti saya, kemampuan berbicara ini patut sekali rasanya ditingkatkan agar menambah estetika dalam berbicara. Mampu mempraktikkan  berbicara di hadapan khalayak ramai tanpa rasa gugup ataupun minder, artikulasi yang jelas, hingga intonasi menggugah untuk didengar khalayak ramai.

Terutama bagi kita, calon pendidik masa depan yang menjadi tonggak Indonesia emas. Secara akademik keterampilan berbicara ini mampu melatih kemampuan dalam presentasi, hingga menjadi bekal dalam mengajar nanti.

Rasa gugup, minder, artikulasi kurang jelas, bahkan intonasi dalam berbicara, perlahan bisa dilatih dengan pelatihan intensif. Tentu, kedepan saya berharap diri ini mampu meningkatkan kemampuan dalam keterampilan berbicara, yang tidak hanya bermanfaat bagi diri saya sendiri, melainkan bermanfaat bagi orang banyak.

Misalnya, bisa diundang sebagai pembicara dalam sebuah acara seminar, memberikan edukasi terkait peningkatan keterampilan berbicara.

Tak hanya itu, keterampilan berbicara ini juga bisa menjadi jembatan bagi diri sendiri dan teman-teman mahasiswa lainnya untuk tumbuh dan berkembang bersama, mencerahkan bahkan menjadi penerang bagi masa depan Indonesia.

“Tantangan bukan berarti keberhasilan yang tertunda, melainkan kemampuan dari individu yang dilatih untuk tumbuh dan berhasil.” (Safira NA)

Tentang Penulis: Mahasiswa UNESA Fakultas Bahasa dan Sastra Semester 1

Artikel Terkait