wilwatekta.com

Indonesia Tanah Ajaib, Mayoritas Muslim: Koruptor Dihormati, Rakyat Miskin Dihianati

Ilustrasi: Wilwatekta.com

Oleh: Wawan Purwadi

WILWATEKTA.COM — Indonesia kini seperti seorang raja kehilangan cermin. Ia berpidato lantang di panggung dunia, berbicara tentang perdamaian, keadilan dan kemanusiaan. Sementara di istananya sendiri rakyat mengantre beras dan pajak mahal. Masyarakat dengan napas yang tersengal, ia setia menunggu janji yang tak kunjung ditepati.

Konon katanya Indonesia akan menjadi hakim dunia, tapi di ruang pengadilan negerinya sendiri, keadilan justru bisa ditawar—asal ada amplop cukup tebal.

Pajak naik, harga bahan pokok sulit dikendalikan dan rakyat menunduk di bawah beban hidup yang semakin berat. Di sudut-sudut negeri, para guru honorer masih mengajar dengan gaji tak seberapa. Namun pejabatnya sibuk menghitung berapa persen potongan proyek.

Negeri ini gemar menghukum rakyat kecil yang mencuri sepotong roti, namun memberi panggung bagi mereka pencuri uang negara.

Di mata dunia, Indonesia tampak memesona: negeri ramah, sopan, penuh senyum. Namun senyum itu kadang hanya kosmetik sosial—penutup luka yang dalam. Orang asing memuji keramahan kita, padahal mereka belum paham Indonesia sesungguhnya.

Cobalah tengok, niscaya mereka akan tahu sesungguhnya: di balik tawa rakyat ada air mata menetes, ada ironi doa ibu-ibu pasar yang ingin jauh dari  rentenir menunggu di pojokan.

Negeri ini memang pandai berpura-pura. Bahkan kemiskinan pun kini punya etika: harus tampak bahagia agar tak dianggap pengacau suasana. Pejabatnya gemar bicara tentang “stabilitas”, tapi yang stabil hanyalah penderitaan rakyatnya.

Kita seolah hidup di negeri sandiwara, di mana kebenaran hanyalah peran figuran yang tak pernah naik panggung.

Indonesia, negeri dengan politik “bebas dan aktif” — bebas menindas, aktif menutupi. Semua keputusan besar diambil bukan untuk rakyat, melainkan untuk mereka yang duduk manis di lingkar kekuasaan. Di sana, kata “kepentingan nasional” hanyalah topeng bagi kepentingan pribadi.

Rakyat disuruh bersabar, katanya demi pembangunan. Tapi yang dibangun justru tembok-tembok pembatas antara kaya dan miskin. Jalan tol membentang, tapi hati rakyat tetap berlubang. Kota tumbuh vertikal, tapi kejujuran menurun drastis.

Negeri ini tidak miskin, hanya terlalu banyak pejabat rakus,” ujar Buya Hamka puluhan tahun lalu — dan sayangnya, kalimat itu masih berlaku sampai hari ini.

Kita sering berbangga diri karena mayoritas penduduk Indonesia adalah Muslim. Tapi keislaman itu kini lebih sering dipajang di kepala daripada di hati. Koruptor memakai peci, pencuri uang rakyat berhijab syar’i. Setelah mencuri, mereka tersenyum dalam konferensi pers, lalu berkata, “Semua sudah saya serahkan kepada Allah.”

Ah, betapa murahnya tobat di negeri ini — cukup dengan peci dan kata “ikhlas.”

Di negeri yang katanya religius ini, kebohongan disiarkan setiap pagi bersama berita dan keserakahan dibungkus dengan label “demi bangsa.”

Kita begitu sering mendengar nama Tuhan disebut di bibir para pejabat, tapi semakin jarang melihat kehadiran-Nya dalam tindakan mereka.

Namun meski begitu, Indonesia tetaplah tanah yang ajaib — tanah yang bisa bertahan dalam segala paradoksnya. Di negeri ini, koruptor dihormati, tapi penjual gorengan yang jujur tetap bisa tersenyum. Rakyatnya miskin, tapi tetap dermawan. Pemerintahnya kaya, tapi tetap meminta sumbangan.

Inilah negeri yang tak pernah kehabisan ironi — sekaligus harapan.

Mungkin benar kata Jalaluddin Rumi:

Kebenaran ibarat cermin yang jatuh dari tangan Tuhan. Pecahannya tersebar di seluruh dunia dan setiap orang mengira pecahannya adalah kebenaran itu sendiri.”

Maka, kita pun hidup dari pecahan-pecahan kebenaran itu, saling menunjuk, saling merasa paling benar, sambil melupakan bahwa kaca besar itu sudah lama retak—retak oleh kekuasaan, oleh kepentingan dan uang haram.

Dari jauh, negeri ini tampak hebat. Di sidang PBB, nama Indonesia menggema. Dunia menatap, kagum pada pidato seorang menteri yang berbicara tentang perdamaian Palestina.

Namun setelah lampu sorot padam dan kamera berhenti merekam, rakyat di rumah kembali menatap tagihan listrik dan harga sembako.

Kita ingin menjadi juru damai dunia, tapi gagal mendamaikan perut rakyat sendiri.

Mungkin benar, Indonesia adalah kunci dunia — tapi kunci itu kini terselip entah di mana. Sementara bangsa lain berlari dengan teknologi, kita masih sibuk berdebat siapa yang paling pancasilais, siapa yang paling Islami, siapa yang paling nasionalis.

Namun setiap badai pasti reda. Setelah hujan, selalu ada matahari yang menyinari. Barangkali, di antara kekacauan ini, Tuhan sedang menyiapkan pemimpin sejati — bukan yang bersuara paling keras, tapi paling tulus dalam diamnya. Bukan yang berjanji di podium, tapi bekerja di kesunyian.

Sampai saat itu tiba, biarlah kita menjaga api kecil di dada: api kesadaran, api keberanian, api empati. Karena hanya bangsa yang masih bisa merasa yang akan bertahan.

Dan ketika hari itu datang — ketika keadilan kembali tegak dan rakyat bisa tertawa tanpa pura-pura — barulah Indonesia benar-benar menjadi hakim dunia.

Bukan karena pidatonya di forum internasional, namun kemampuannya menegakkan kemanusiaan di tanah airnya sendiri. Ia, seluruh kekayaan yang terkandung dalam perut ibu pertiwi. Suatu saat, untuk kemakmuran rakyat Indonesia seluruhnya. (*)

Artikel Terkait