wilwatekta.com

Hari Pahlawan dan Krisis Literasi Nasional: Saat Pena Harus Menjadi Senjata

Ilustarsi: Wilwatekta.com

Oleh: Wawan Purwadi

WILWATEKTA.COM – Bangsa ini selalu menundukkan kepala saat mengingat tragedi 10 November. Saat itu dentuman meriam dan pekikan “Merdeka atau Mati!” Ia, pekikan itu dari jantung Surabaya.

Namun, tujuh puluh sembilan tahun kemudian, suara merdeka itu seakan bergema di ruang hampa. Bukan karena penjajah datang kembali dengan senjata. Karena bangsa ini dijajah oleh ketidaktahuan, kemalasan berpikir dan kemerosotan literasi yang begitu telanjang di depan mata.

Dulu, pahlawan berjuang dengan darah dan nyawa. Kini, seharusnya generasi berjuang dengan pena. Tapi apa jadinya bila pena itu tumpul, tinta kering dan kertas hanya jadi pajangan di etalase?

Indonesia sedang menghadapi krisis literasi yang cukup mengkhawatirkan. Data UNESCO beberapa tahun terakhir menempatkan Indonesia di peringkat bawah dalam hal minat baca: dari 61 negara, Indonesia menempati urutan 60.

Ironisnya, kita hidup di era di mana informasi berlimpah ruah, namun pemahaman semakin dangkal. Kita membaca banyak, tapi tidak memahami isi bacaan. Kita sering menulis, namun tidak berpikir dalam.

Paulo Freire, seorang pendidik dan pemikir radikal asal Brasil, pernah menulis, “Reading the world precedes reading the word.” Membaca dunia harus lebih dulu dari membaca kata.

Namun hari ini, dunia kita penuh dengan kata-kata yang kehilangan makna. Literasi tidak lagi menjadi alat pembebasan, melainkan hiasan moral di tengah kebisingan digital.

Generasi yang tumbuh dengan scrolling tanpa refleksi kini hidup dalam ilusi pengetahuan. Mereka tahu segalanya dari potongan video berdurasi tiga puluh detik, tapi gagal memahami mengapa sejarah harus diingat, atau mengapa keadilan perlu diperjuangkan.

Dalam bahasa satire, mungkin Bung Tomo akan berkata, “Percuma merdeka dari penjajah bila kita masih dijajah oleh kebodohan yang kita rawat sendiri.”

Sementara itu Bung Tan Malaka, pernah mengingatkan: “Tujuan pendidikan itu untuk mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan, serta memperhalus perasaan.”

Namun lihatlah pendidikan kita kini — ia lebih sibuk mengejar sertifikat ketimbang kebijaksanaan. Buku-buku dikalahkan oleh algoritma dan pemikiran digantikan oleh tren.

Hari Pahlawan seharusnya bukan sekadar upacara bendera atau karangan bunga di Taman Makam Pahlawan. Ia mestinya menjadi cermin untuk bertanya: apakah kita masih punya keberanian berpikir? Sebab, dalam dunia yang dipenuhi kebohongan, berpikir jernih adalah tindakan revolusioner.

Albert Camus, filsuf eksistensialis yang selalu gelisah dengan absurditas manusia, pernah menulis: “The evil that is in the world almost always comes of ignorance.” Kejahatan yang melanda dunia ini hampir selalu bersumber dari kebodohan.

Maka dari itu, melawan kebodohan adalah bentuk tertinggi dari patriotisme.

Kini, tugas generasi penerus bukan lagi mengangkat senjata, melainkan mengasah pena — menulis dengan nurani, membaca dengan kesadaran dan berpikir dengan keberanian.

Perlu kita ketahui bahwa, hanya bangsa yang melek literasi mampu menjaga kemerdekaannya dari penjajah bentuk baru: kebodohan yang berbalut kecanggihan teknologi.

Kita boleh tidak lagi mendengar pekik “Merdeka atau Mati!”, tapi semangat itu harus bergema dalam bentuk baru: “Menulis atau Punah.” Karena di zaman ini, yang tidak menulis akan hilang dari sejarah dan yang tidak membaca akan ditipu oleh masa depan.

Maka, biarlah Hari Pahlawan tahun ini kita rayakan bukan dengan barisan prajurit di lapangan, tapi dengan barisan kata-kata yang menyala di lembaran buku, di ruang kelas, dan di hati nurani. Sebab, seperti kata Pramoedya Ananta Toer, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.”

Kini saatnya pena menjadi senjata baru — senjata yang menembus kebodohan, melukai kemunafikan, dan menyalakan kembali api kemerdekaan di dada bangsa yang hampir lupa cara berpikir.

Dan karena itulah, kita memerlukan Gerakan Literasi Nasional yang nyata dan terukur — bukan sekadar jargon di spanduk atau slogan di baliho. Gerakan dimulai dari langkah-langkah kecil tapi berdampak luas:

Pertama, Satu Rumah Satu Buku. Gerakan keluarga membaca, di mana setiap rumah menyisihkan waktu minimal lima belas menit sehari untuk membaca bersama anak-anaknya.

Kedua, Sekolah sebagai Ruang Literasi, bukan Sekadar Ujian. Guru harus menjadi fasilitator berpikir, bukan sekadar penjaga nilai. Jadikan karya tulis, diskusi dan resensi buku sebagai bagian dari proses belajar.

Ketiga, Perpustakaan Hidup di Setiap Desa. Pemerintah daerah, karang taruna dan organisasi masyarakat perlu menghidupkan perpustakaan desa — bukan sekadar tempat menyimpan buku usang, tetapi ruang dialog, pelatihan menulis dan diskusi budaya

Keempat, Gerakan 1000 Komunitas Literasi. Mahasiswa, santri, dan pelajar harus mengambil peran membentuk lingkar literasi di tiap kecamatan: membaca, menulis, dan berdiskusi lintas generasi.

Kelima, Digitalisasi Literasi Nusantara. Di era gawai, literasi harus merambah dunia digital — melalui kanal YouTube edukatif, podcast pengetahuan dan platform baca-tulis berbasis komunitas.

Keenam, Gerakan ini bukan utopia. Ia bisa dimulai dari kita — dari pena pertama yang menulis, dari buku pertama yang dibaca, dari diskusi pertama yang berani berbeda pendapat.

    Karena bangsa yang hebat bukanlah bangsa yang hanya mengenang pahlawannya, tetapi bangsa yang meneruskan perjuangan mereka dengan cara yang sesuai zamannya.

    Hari ini, medan perang itu bernama kebodohan. Dan senjata kita bukan lagi peluru, melainkan kata.

    Maka, mari rebut kembali kemerdekaan berpikir itu — dengan membaca, menulis, dan berbicara untuk kebenaran.

    Sebab literasi, pada akhirnya, adalah bentuk baru dari perjuangan. (*)

    Artikel Terkait