wilwatekta.com

Guru Swasta: Pengabdian yang Terlupakan

Foto: cendekiaprivat.com

WILWATEKTA.COM – “Sok, Bu, realisasikan. Kami butuh kenyataan, kami butuh hidup yang layak.”

Ungkapan sederhana itu menggema dari ruang-ruang kelas yang mungkin tak pernah dikunjungi pejabat. Dari madrasah kecil di pelosok desa hingga sekolah swasta di pinggir kota, suara itu keluar dari hati yang lelah, tapi masih setia menyalakan cahaya ilmu.

Mereka bukan siapa-siapa dalam hirarki kekuasaan. Tapi tanpa mereka, pendidikan kita tak akan pernah berdiri seimbang. Karena di balik megahnya gedung sekolah negeri, selalu ada guru-guru swasta yang mengajar dengan gaji seadanya, bahkan seringkali tanpa kepastian.

Realitas ini bukan baru hari ini.

Guru swasta telah lama menjadi tulang punggung pendidikan, namun nasib mereka seperti tak pernah benar-benar masuk dalam percakapan serius negara. Di bawah payung Kementerian Pendidikan maupun Kementerian Agama, mereka sama-sama mencerdaskan bangsa, tapi tidak diperlakukan setara.

Di saat guru negeri menikmati kepastian tunjangan dan pensiun, guru swasta justru bergulat dengan kebutuhan hidup yang makin mencekik. Ada yang digaji Rp250 ribu per bulan, ada pula yang menanti honor daerah Rp800 ribu saban tanggal dua puluh dua.

Jumlah itu bahkan tak cukup untuk membeli bahan bakar pergi mengajar selama sebulan. Tapi mereka tetap berangkat, dengan niat yang sama: menanam ilmu untuk generasi penerus bangsa.

Negara mungkin lupa, tapi mereka tidak berhenti mengabdi.

Ironinya, sekolah swasta sering dianggap “bisnis pribadi.”

Padahal, banyak di antara mereka berdiri karena keprihatinan. Karena ada masyarakat yang tak tertampung di sekolah negeri, karena ada anak-anak yang ingin tetap belajar di lingkungan berbasis agama. Swasta membangun gedung sendiri, menggaji guru sendiri, dan menanggung beban sendiri.

Tapi ketika negara membangun sekolah negeri tanpa batas penerimaan siswa, sekolah-sekolah swasta pun pelan-pelan kehilangan murid — dan kehilangan harapan.

Kita lupa bahwa pendidikan bukan soal siapa yang didanai, tapi siapa yang ikhlas.

Dan guru-guru swasta adalah simbol dari keikhlasan itu.

Di tengah zaman yang makin materialistik, mereka masih mengajarkan akhlak, kesabaran, dan nilai-nilai kemanusiaan. Mereka menghadapi generasi digital yang rapuh moralnya, sambil tetap menanggung beban rumah tangga yang berat.

Kadang mereka harus pontang-panting mencari tambahan penghasilan setelah pulang mengajar. Anak-anak orang lain mereka buat pintar, sementara anak sendiri belajar dari kekurangan.

Bukankah Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain”?

Guru-guru swasta menjalankan itu dengan sungguh-sungguh, tanpa jaminan duniawi, hanya berharap keberkahan dari langit.

Sudah saatnya negara menanggalkan pandangan diskriminatif terhadap guru swasta.

Sudah saatnya pemerintah benar-benar hadir, bukan hanya dalam bentuk kunjungan seremonial dan spanduk “Terima Kasih Guru.”

Kesejahteraan bukanlah hadiah, tapi hak bagi setiap pendidik.

Dan keadilan adalah bentuk nyata penghargaan terhadap pengabdian.

Jika negara ingin pendidikan yang berkeadilan, maka keadilan itu harus dimulai dari mereka yang paling terpinggirkan.

Berikan kesempatan kepada guru-guru swasta untuk ikut serta dalam rekrutmen PPPK atau ASN. Libatkan mereka dalam pelatihan, sertifikasi, dan peningkatan kapasitas sebagaimana guru negeri. Karena mereka juga bagian dari tubuh bangsa, bukan hanya bayangannya.

Guru swasta tak butuh pujian panjang, cukup kepedulian yang nyata.

Karena di tangan merekalah, masa depan anak bangsa sedang ditempa dengan kesabaran, keikhlasan, dan doa yang tak pernah selesai.

Dan semoga suatu hari nanti, ketika negara benar-benar hadir untuk mereka, kita bisa berkata dengan bangga:

“Tidak ada lagi guru yang mengajar dalam lapar, dan tidak ada lagi pengabdian yang dibiarkan sendirian.” (*)

Artikel Terkait