wilwatekta.com

Gen Z dan Tantangan Mental Health

rendia.com

WILWATEKTA.COM – Generasi Z, yang umumnya didefinisikan sebagai individu yang lahir antara pertengahan 1990-an hingga awal 2010-an, tumbuh dalam era teknologi yang merajai segala aspek kehidupan mereka. Dalam perjalanan hidup yang dipenuhi dengan tekanan dari berbagai arah, dari prestasi akademik hingga ekspektasi sosial yang tinggi terlalu tinggi, Generasi Z menemukan diri mereka menghadapi tantangan baru dalam menjaga kesehatan mental mereka. Namun sayang, tantangan yang dilalui oleh Gen Z sampai hari ini belum cukup terjawab. Justru dengan dekatya teknologi terhadap Gen Z membuat mereka suka mager dan hanya habisin waktu mantengin gadget. Selain itu, mental helth (mental mudah terganggu), hiperealistis dan mudah tersinggung.

Tekanan digital dan medsos sangat berdampak pada mental meraka. Dengan segala keuntungan dunia digital, juga membawa dampak yang signifikan terhadap kesehatan mental Generasi Z. Dorongan untuk mencocokkan diri dengan citra yang disajikan secara sempurna di platform-platform ini seringkali menghasilkan perasaan kecemasan yang tidak perlu. Keterpaparan yang terus-menerus terhadap kehidupan orang lain, yang seringkali direkayasa untuk menampilkan aspek yang paling mengagumkan, dapat mengaburkan persepsi diri sendiri dan meningkatkan tingkat ketidakpuasan.

Jika boleh mengutip kata-kata seorang penulis dan budayawan Joko Pinurbo, “Salah satu penyakit jaman kini, di era digital, adalah manusia-manusia yang mudah kesepian, mudah dirundung rindu dan mudah baper. Dan juga manusia-manusia yang semakin tidak sabar terhadap waktu.”

Generasi Gen Z inilah yang sekarang terjangkit perilaku tersebut. Sangat lemah dalam memposisikan diri. Rasa empati rendah dan mudah mengeluh. Sehingga hanya memiliki sifat satu, “dunia sekarang tidak sama dengan dulu, gua-gua, loe-loe.” Hanya dirinya dan dunia maya (digital).

Dalam dunia yang semakin kompetitif, tekanan kehidupan dan persaingan karir membebani bahu Generasi Z. Dari tekanan untuk mempertahankan nilai yang tinggi hingga mencari pekerjaan yang menjanjikan, banyak dari mereka merasa tertekan oleh ekspektasi yang diletakkan oleh masyarakat. Namun harapan tersebut seolah gagal untuk memenuhi standar yang yang ditetapkan. Justru harapan itu dianggap yang membuat perasaan rendah diri dan depresi.

Meskipun Generasi Z hidup dalam era konektivitas digital yang konstan, ironisnya, banyak dari mereka merasa lebih terisolasi daripada sebelumnya. Teknologi yang semakin maju seringkali menggantikan interaksi manusia yang nyata, meninggalkan banyak orang dengan perasaan kesepian dan kurangnya hubungan yang bermakna. Kesepian ini dapat memperburuk masalah kesehatan mental seperti kecemasan dan depresi.

Meskipun Generasi Z menghadapi tantangan yang unik dalam menjaga kesehatan mental mereka, mereka juga menjadi pionir dalam membawa kesadaran di era digital hari ini. Banyak dari mereka menggunakan platform medsos mereka untuk berbicara terbuka tentang pengalaman mereka dengan kesehatan mental, menghapus stigma yang terkait dengannya, dan mengedukasi orang lain tentang pentingnya menjaga kewarasan otak.

Untuk mengatasi tantangan kesehatan mental yang dihadapi Generasi Z, penting untuk mengadopsi pendekatan holistik. Ini mencakup mengenali peran teknologi dalam hidup mereka, mempromosikan keseimbangan antara waktu online dan offline, serta menyediakan sumber daya dan dukungan yang memadai untuk mereka yang membutuhkannya. Lebih dari itu, penting untuk memperjuangkan perubahan dalam budaya yang menghargai dan memprioritaskan kesehatan mental sebagai bagian integral dari kesejahteraan kita semua.

Dengan kesehatan mental yang baik, Gen Z akan mampu bertahan dengan segala tantangan dan perubahan dunia yang semakin cepat. Dan yang terpenting adalah melatih diri untuk mengerti sadar porsi dan posisi. Harus ngerti berdiri dimana, sebagai apa, punya kapasitas apa. Sehingga tidak lintas dimensi, yang sebenarya tidak mampu dilakukan. Ujung-ujungnya purek jika tidak mampu. Oleh sebab itu hal yang serius dalam hidup ini adalah, orang harus betul-betul sadar diri, posisi dan rai.(*)

Artikel Terkait