wilwatekta.com

Dari Kejenuhan Menelusuri Sejarah, Hingga Jatuh Cinta pada Sastra

WILWATEKTA.COM — Pada mula perjumpaan dengan mata kuliah Sejarah Sastra Indonesia, perasaan saya dipenuhi prasangka. Dalam benak, ia tampak sebagai ruang sunyi yang dipadati tanggal, nama tokoh, angkatan, serta deretan karya besar yang harus dihafal tanpa sempat dirasakan denyutnya.

Nama-nama seperti Chairil Anwar atau Pramoedya Ananta Toer hadir layaknya monumen: agung, namun terasa jauh. Saya membayangkan perkuliahan yang kaku, tegang, dan membosankan—sekadar pengulangan masa lalu yang beku.

Namun waktu pelan-pelan mengajari saya membuang prasangka itu. Sejarah sastra ternyata bukan sekadar kronik masa silam yang usang, melainkan kisah hidup yang terus bergerak mengikuti arus zaman.

Setiap karya lahir dari rahim kenyataan: konflik sosial, tekanan politik, pergulatan ekonomi dan kegelisahan manusia. Dari sana saya memahami, menelusuri sejarah sastra berarti menelusuri proses bagaimana manusia berpikir, merasa dan melawan zamannya.

Bukan hanya mengenang masa lalu, melainkan menafsirkan bagaimana masa lalu membentuk cara kita memandang sastra hari ini.

Harapan awal saya sebenarnya sederhana: menyelesaikan perkuliahan dengan nilai baik, mengikuti materi tanpa rasa malas, dan memahami penjelasan dosen tanpa beban.

Namun perlahan, tujuan itu berubah arah. Saya justru menemukan diri saya jatuh cinta—bahkan menjadi “penggemar berat” sejarah sastra. Ia menjelma cermin kehidupan manusia yang tak pernah usang, jendela yang mengajak saya memandang dunia dari sudut berbeda.

Dari sinilah gairah saya untuk kelak menjadi guru bahasa dan sastra kian menyala.

Perjalanan semester ini diawali dari masa sebelum kemerdekaan, ketika sastra Indonesia masih bertumpu pada tradisi lisan dan bentuk klasik. Hikayat, babad, pantun—semuanya hidup dari mulut ke mulut, menjadi wadah nilai moral, adat, dan kebijaksanaan leluhur.

Sastra belum berpusat pada ekspresi individu, melainkan pada suara bersama. Ketika pendidikan modern hadir, gerbang perubahan pun terbuka. Sastra beralih dari lisan ke tulisan, pengarang mulai bereksperimen dengan bentuk baru, dan saya menyaksikan sendiri bagaimana perubahan budaya melahirkan evolusi estetik.

Di sini, masa lalu terasa dekat dengan masa kini: seperti teknologi hari ini yang membuat sastra kian mudah diakses dan disebarluaskan.

Kekaguman saya mencapai puncaknya saat memasuki era Balai Pustaka (1910–1942). Di tengah pengawasan kolonial yang ketat, justru lahir karya-karya besar seperti Sitti Nurbaya karya Marah Rusli dan Salah Asuhan karya Abdul Muis. Karya-karya ini tidak sekadar menjadi hiburan, melainkan kritik sosial yang disampaikan dengan kecerdikan.

Kisah perempuan yang terkungkung adat dan kekuasaan memperlihatkan betapa kolonialisme dan patriarki meninggalkan luka yang panjang—luka yang ternyata masih terasa hingga hari ini. Balai Pustaka menjadi fondasi sastra modern Indonesia: bahasa Indonesia baku dirajut, tema-tema kompleks dimunculkan.

Dari sini saya belajar, sastra mampu menjadi bentuk perlawanan yang halus namun tajam, bahkan ketika lahir di bawah bayang-bayang penindasan. Sejarah memberi saya kunci memahami mengapa sebuah karya ditulis dan untuk siapa ia berbicara.

Gelora yang berbeda saya temukan pada Pujangga Baru. Para pengarangnya berusaha melepaskan diri dari belenggu kolonial sambil merajut jati diri bangsa. Sutan Takdir Alisjahbana, Amir Hamzah, Sanusi Pane—mereka membawa semangat modernitas, nasionalisme, dan optimisme. Sastra tidak lagi semata keindahan, tetapi sarana pembentukan identitas dan perlawanan budaya.

Diskusi di kelas membuat saya sadar bahwa meskipun terinspirasi Barat, Pujangga Baru tetap berpijak pada akar Indonesia.

Fenomena ini terasa akrab dengan generasi saya hari ini, ketika penulis muda meramu budaya global dan lokal dalam ruang digital.

Pintu kesadaran saya terbuka lebar ketika memasuki Angkatan ’45. Saya tenggelam dalam puisi-puisi Chairil Anwar—bahasa yang berani, jujur dan meledak-ledak. Puisi “Aku” bukan sekadar rangkaian kata, melainkan jerit eksistensi manusia di tengah perjuangan dan trauma perang.

Saat menganalisisnya di kelas, seolah dihadapkan langsung pada kegelisahan zaman. Angkatan ini membuktikan bahwa sastra dan sejarah saling berkelindan; sastra menjadi suara jiwa masyarakat yang bertarung untuk hidup dan Merdeka. Ia, sastra mengajarkan empati pada masa lalu sekaligus kesadaran akan kemanusiaan.

Memasuki periode 1966–1998, saya menyaksikan kecerdikan sastra dalam ruang yang tercekik. Tekanan politik memaksa pengarang berbicara lewat simbol dan metafora.

Di sinilah saya belajar bahwa sastra tidak pernah benar-benar bungkam. Dalam ruang sempit sekalipun, ia selalu menemukan jalan untuk bersuara—halus, cerdas, namun menggugah.

Pandangan saya kian berubah saat membahas sastra kontemporer. Sastra tak lagi hanya bersemayam di buku cetak; ia menjelajah dunia digital, media sosial dan kolaborasi visual. Cerpen daring, puisi Instagram, video pantun singkat—semuanya lahir dengan tema-tema mutakhir: kesehatan mental, lingkungan, feminisme, identitas dan kegelisahan kaum muda.

Sastra kini terasa lebih dekat, lebih lentur, meski tantangannya kian besar: menjaga kualitas di tengah banjir karya. Dari sini, saya memahami betapa pentingnya literasi kritis di era digital.

Satu semester ini mengajarkan saya bahwa sejarah sastra bukanlah serpihan fakta yang berdiri sendiri. Bagi calon guru bahasa dan sastra, pemahaman sejarah menjadikan kelas lebih hidup.

Karya sastra tak lagi sekadar tugas bacaan, melainkan pengalaman manusia yang bernilai. Guru yang memahami konteks akan mampu menjelaskan mengapa sebuah karya lahir, apa yang diperjuangkannya, dan bagaimana denyut masyarakat zamannya.

Dengan demikian, sastra menjadi jembatan pemahaman budaya dan kemanusiaan.

Saya juga menyadari tantangan sastra Indonesia hari ini: rendahnya literasi, keterbatasan akses buku bermutu, dan minimnya dukungan kebijakan.

Meski platform digital membuka peluang luas, kualitas tetap menuntut kepekaan kritis. Di sinilah tanggung jawab calon pendidik menjadi nyata—menumbuhkan cinta baca, kepekaan nilai, dan kesadaran sejarah.

Kini, sejarah sastra bukan lagi beban yang membosankan bagi saya. Ia telah berubah menjadi sahabat dialog—teman yang mengajarkan tentang manusia, masyarakat, dan diri saya sendiri. Ia adalah petualangan intelektual yang menumbuhkan cinta pada sastra Indonesia.

Saya percaya, dengan membangun budaya literasi yang kuat dan apresiasi sejarah sastra yang mendalam, kita dapat melahirkan generasi yang kritis, kreatif, dan memiliki kesadaran sejarah yang tajam. (Wahyu Arum YK)

Tentang Penulis: Mahasiswa UNESA Fakultas Bahasa dan Sastra Semester 1

Artikel Terkait