wilwatekta.com

Bukan Diksi “Mengutuk dan Kami Tidak Takut”, tapi “Kami Masih Saudara”

WILWATEKTA.COM – Saya buka tulisan ini dengan permohonan maaf. Sebab, saya tidak ingin ada yang merasa tersinggung dengan logika yang akan saya bangun. Karenanya, jauh sebelum catatan ini tuntas, lebih baik saya sampaikan permintaan maaf di awal.

Ini soal diksi yang kita pakai saban teror bom kembali menyalak. Dan, baru-baru ini terjadi di Makasar. Tepatnya pada Minggu, 28 Maret 2021 di depan Gereja Katedral. Itu terjadi saat umat Kristiani sedang khusuk menjalankan ibadah misa kedua.

Lagi-lagi diksi yang muncul pertama pasca insiden terjadi adalah “Kami Mengutuk”, “Kami Mengecam”, dan “Kami Tidak Takut”. Tidak ada yang salah dengan diksi tersebut.

Namun, (mohon izin) saya secara pribadi memiliki pandangan lain dalam memhami diksi di atas. Soal diksi “Kami Mengutuk”, saya juga mengutu. Soal diksi “Kami Mengecam”, sama, saya juga mengecam. Sebab, akan sangat tidak umum jika kita tidak mengecam dan tidak mengutuk. Pun dengan diksi yang ketiga “Kami Tidak Takut”, ini adalah diksi untuk membangun kesadaran bersama—bahwa kita jangan pernah kalah dengan aksi para martir (baca: pelaku bom bunuh diri).

Namun, selayaknya ada diksi yang lebih tepat dan merangkum dari semua diksi yang ada di atas. Apa itu?

“Kami Masih Saudara”

Kenapa demikian. Ini penting saya sampaikan. Sebab, selain sebagai alibi jihad. Tujuan lain dari kejahatan yang tidak beradan dan melecehkan kemanusiaan ini, adalah untuk memecah belah, mengadu domba, dan menghancurkan persaudarana di antara umat beragama. Karenanya, para kombatan yang menganut akidah Salafi Jihadi atau kelompok Jihadis ini selalu menjalankan akasinya dengan mendompleng agama. Mereka memakai kedok agama untuk melecehkan kemanusiaan.

Berangkat dari pemahaman inilah, saya mencoba menambahkan diksi “Kita Masih Saudara” sebagai manifestasi kesadaran kita bersama.

Minimal, untuk membangun kesadaran bersama sejak dalam pikiran. Pun menjadikan momentum kejahatan kemanusiaan yang sangat tidak beradab ini sebagai perekat persatuan dan persaudaraan kita sesama anak bangsa dalam balutan ke-bhinneka-an. Sebab, negeri ini adalah negeri yang damai. Negeri yang tidak memiliki akar bagi muslim radikan dan ekstrim.

Sekali lagi, bukan berarti diksi yang sudah ada, dan sudah kadung melekat pada ingatan masyarakat itu harus dilupakan. Tidak. Namun, perlu kiranya ada diksi yang mampu membangun kesadaran kita bersama untuk konsisten menjaga peratuan dan persaudaraan.

Saya meyakini, setiap perkataan yang kita ucapkan adalah bentuk perwujudkan diri yang tidak pernah kita sadari.

Pun saat kita mengatakan: Kita Masih Saudara. Ini adalah kesadaran yang muncul sejak dalam pikiran. Kesadaran yang tidak pernah kita sadari inilah yang kemudian menjadi kebiasaan perkataan. Lalu dari kebiasaan itulah menjadi kesadaran yang nyata.

Diksi “Kita Masih Saudara” ini sekaligus akan menutup setiap ruang alasan yang selama ini dijadikan alibi kelompok Jihadis. Terlebih, untuk seluruh umat Islam sebagai mayoritas, harus mampu menjadi garda depan delam menggaungkan diksi “Kita Masih Saudara”.

Jika sesama muslim, kita adalah saudara seiman. Maka, untuk semua golongan, kita adalah saudara Sebangsa dan se-Tanah Air. (*)

Artikel Terkait