wilwatekta.com

Belok Kiri Jalan Terus dan Teriakan Klakson Pengendara Mobil

Foto: aca.co.id

WILWATEKTA.COM – Perubahan jalur di sejumlah titik jalan protokol Tuban membuat arus lalu lintas (lalin) mengalami banyak perubahan. Dari yang semula dua arah menjadi searah. Dari yang semula belok kiri ikuti isyarat lampu, sekarang belok kiri jalan terus. Karena hanya belok kiri, ibu-ibu komunitas sein kanan belok kiri akan aman dalam berkendaraan, tanpa khawatir tabrakan.

 

Sialnya, Dinas Perhubungan (Dishub) tampaknya belum peka dengan keluhan masyarakat yang kerap meneriakkan klakson kendaraannya saat hendak belok kiri jalan lurus, eh terus. Padahal fenomena teriakan klakson itu sering terjadi, utamanya kendaraan roda empat. Tidak jarang teriakan klakson itu sangat mengagetkan dan menggugupkan.

 

Kru Wilwa yang juga sering merasakan kagetnya klakson mobil yang hendak jalan terus belok kiri tersebut, mencoba iseng bertanya kepada para pengendaraan, baik yang berposisi menutupi jalan maupun yang terhalang saat hendak belok kiri bablas. Bagaimana perasaan mereka saat melihat ruwetnya rambu belok kiri jalan terus itu?

 

Serba Pekewuh

Supri (35), merupakan seorang pengusaha. Kemana-mana jarang menggunakan sepeda motor. Dia memiliki dua mobil yang menjadi kendaraan rutin setiap hari. Satu Fortuner dan satunya lagi CRV. Seringnya dia menggunakan Fortuner. Sedangkan yang CRV dipakai oleh istrinya. Keluarga kaya, tapi ngopinya tetap di warung kopi di bilangan pasar Bongkaran.

 

Kepada Wilwa, Supri mengaku hampir setiap kali di titik traffic light yang memperbolehkan belok kiri jalan terus itu selalu menyalakan klakson. Maklum, mobilnya berukuran jumbo, sehingga tidak bisa nyelempit di antara kendaraan ibu-ibu yang ada di depannya. “Ya, akhirnya terpaksa menyalakan klakson,” ujarnya.

 

“Menyalakan klaksonnya sampai berapa kali?” saya iseng bertanya.

 

“Kalau sekali sudah digubris, ya cukup sekali saja,” kataya dan setelah itu bilang: ‘Amit…’

 

Tapi tidak jarang juga pria yang akrab disapa Kakek Merah ini dibuat kesal oleh pengendara yang ada di depannya. Biasanya, orang yang membikin kesal ini disengaja. Tidak mau minggir.

 

“Kalau seperti itu biasanya tak klakson sampai beberapa kali. Setelah itu baru minggir,” ujar dia yang kemudian disusul dengan ucapan satire kepada pengendara yang ndablek itu: ‘Spione dipasang ben ngerti nek sak durunge masa depan iku enek masa belakang’.

 

“Pernah sampai tidak digubris sama sekali?” saya bertanya lagi.

 

“Pernah. Sampai kesal saya. Kalau tidak terburu-buru, tidak masalah. Kalau sudah buru-buru, tapi nglakson berkali-kali tidak digubris, ini membuat saya getem-getem. Apalagi disengaja memang tidak mau minggir,” katanya dengan ekspresi kesal.
Meski begitu, tidak lantas membuat Kakek Merah ini marah-marah. Dia selalu berusaha untuk mengontrol emosinya.

 

“Sebenarnya pengen marah, tapi malu. Tak pikir-pikir, ngapain marah-marah, nanti malah dikirain sombong. Pada posisi seperti itu biasanya saya istighfar dan tetap sabar. Toh juga tidak lama-lama amat,” katanya bijaksana.

 

Omonganmu, Mas, tumben bijaksana. Kopiku bayari, Mas,” kataku lantas dia tertawa.

 

Sudah Minggir, tapi Masih Saja Diklakson

Jika Supri yang berposisi sebagai pengendara mobil yang kerap menyalakan klakson, Nopek (32), merupakan pengendara motor yang kerap diklakson. Tidak jarang dia merasa sangat kesal dan ingin turun dari kendaraannya lalu melabrak orang yang ada di dalam mobil. Tapi dia bersyukur, niatnya itu tidak pernah tersampaikan.

 

“Saya orangnya penyabar, kalau dengar ya langsung minggir, kalau pas tidak dengar ya meneng wae,” katanya.

 

“Bagaimana perasaanmu saat diklakson?” saya mencoba bertanya lebih dalam soal perasaannya mendengarkan klakson yang mengagetkan.

 

“Kalau klaksonnya biasa saja, ya lumrah, tapi kalau klaksonnya mentang-mentang, ya kesal. Maksudnya mentang-mentang itu, kayak dia saja yang punya mobil. Kalau seperti itu biasanya saya sengaja tidak minggir. Mau apa tak tataki,” katanya. Maklum saja dia berani, wong dia pendekar. Coba kalau tidak.

 

Yang bikin kesal lagi, menurut Nopek, adalah pengendara mobil yang tidak paham haluan. ‘’Misalnya, posisi haluan masih cukup untuk satu mobil sekelas Fortuner, tapi undat-undut. Yang ada di depan sudah minggir mentok, tapi masih saja nglakson. Sangat mengesalkan itu,’’ ujarnya.

 

Biasanya, kepada pengendara mobil yang tidak paham haluan tersebut, Nopek selalu berseloroh: ‘Benjeng-benjeng nek numpak mobil gowo alun-alun’.

 

Harus Ada Marka Pembatas Yang Jelas

Bibul (41), pegamat kebijakan ruas jalan menurut dirinya sendiri mengatakan, harusnya Dishub membuatkan marka pembatas jalan yang jelas. Sehingga, fenomena belok kiri jalan terus dan teriakan klakson mobil itu tidak terus berulang.

 

Menurut Bibul, dengan marka pembatas semua akan menjadi jelas. Di posisi mana kendaraan yang harus berhenti, dan mana jalur untuk belok kiri jalan terus.

 

Lha wong tinggal buat marka pembatas saja kok angel tenan. Wes itu saja usul saya,’’ katanya lalu kembali narik. Dia adalah pengamat kebijakan ruas jalan cum Ojol.

 

Artikel Terkait