wilwatekta.com

Bangsa Lupa pada Jasa Guru: Di Antara Retorika Hormat dan Kenyataan Pahit

Ilustrasi: Wilwatekta.com

WILWATEKTA.COM – Di panggung nasional, guru selalu dielu-elukan sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Setiap peringatan Hari Guru, kita mendengar kalimat-kalimat manis tentang betapa mulianya profesi yang mengukir masa depan bangsa.

Namun, di balik retorika hormat itu, realitas lapangan kerap menyajikan wajah yang jauh berbeda—pahit, melelahkan, dan sering kali menempatkan guru sebagai pihak yang paling banyak dituntut namun paling sedikit diperhatikan.

Di sinilah ironi besar itu berdiri tegak: bangsa yang hidup dari ilmu pengetahuan, tetapi sering lupa pada mereka yang menyalakan lentera pengetahuan tersebut.

Dalam perspektif filsafat pendidikan kritis, sebagaimana digaungkan Paulo Freire, pendidikan idealnya membebaskan manusia dari penindasan, bukan sebaliknya.

Namun, guru sering terjebak dalam sistem yang justru menindas mereka secara struktural. Freire menolak pendidikan sebagai “banking system”—di mana guru sekadar menjadi alat penyetor pengetahuan tanpa ruang kritis.

Ironisnya, sistem pendidikan kita masih berkutat pada birokrasi administratif, beban kurikulum yang padat, dan tuntutan laporan yang seolah lebih penting daripada kualitas interaksi pembelajaran.

Guru bukan hanya diminta mengajar, tetapi juga menjadi juru tulis, operator sistem, pengurus administrasi, bahkan sering kali pemadam kebakaran untuk segala kekacauan yang dihasilkan birokrasi.

Jean-Jacques Rousseau dalam Émile pernah menekankan bahwa pendidikan harus selaras dengan perkembangan alami anak dan kebebasan berpikir. Namun bagaimana mungkin kebebasan berpikir tumbuh subur jika guru sendiri dibelenggu oleh kurikulum yang kerap berubah tanpa kesiapan, instruksi top-down yang menafikan dialog, serta standar penilaian yang lebih menekankan angka daripada makna?

Guru yang dicita-citakan Rousseau sebagai pembimbing perjalanan intelektual telah direduksi menjadi pelaksana target-target administratif yang tidak memanusiakan.

Lebih jauh lagi, Ivan Illich dalam Deschooling Society mengkritik institusi sekolah yang terlalu birokratis sehingga kehilangan esensi pembelajaran yang membebaskan. Kritik Illich seolah menemukan momentumnya hari ini.

Guru kita bekerja dalam struktur yang menuntut mereka untuk patuh pada sistem, bukan pada nilai kemanusiaan dan kreativitas.

Mereka didorong bekerja cepat, tetapi tidak disediakan ruang untuk bernapas. Mereka diminta menghasilkan peserta didik berkualitas, tetapi tidak diberi dukungan yang memadai.

Pada tataran sosial, narasi hormat pada guru sering hanya berhenti di seremoni. Di media sosial, kita lantang menyerukan penghargaan kepada mereka.

Namun di ruang kebijakan, gaji guru honorer masih jauh dari layak. Banyak dari mereka yang pulang mengajar sambil membawa beban pikiran: apakah cukup untuk membeli beras? Apakah honor bulan ini cair? Apakah kontrak tahun ini diperpanjang?

Bangsa yang bersandar pada kecerdasan generasi mudanya, seharusnya malu ketika para penjaga kecerdasan itu justru hidup dalam ketidakpastian.

Pendidikan kritis mengajarkan bahwa keadilan tidak lahir dari slogan, tetapi dari perubahan struktur. Maka menghormati guru tidak boleh berhenti pada ucapan, tetapi harus diwujudkan dalam reformasi kebijakan: pengurangan beban administrasi, peningkatan kesejahteraan, pelatihan berkelanjutan yang manusiawi, serta pelibatan guru dalam perumusan kebijakan pendidikan.

Guru bukan objek kebijakan; mereka adalah subjek pengetahuan.

Bangsa ini sering membanggakan cerita masa lalu tentang tokoh-tokoh besar yang dibentuk oleh guru-guru hebat.

Namun, apakah kita sudah menciptakan ekosistem yang memungkinkan lahirnya guru-guru hebat itu? Ataukah kita sedang memaksa mereka bertahan dalam sistem yang membuat mereka lelah, letih, dan kehilangan semangat?

Pada akhirnya, bangsa yang lupa pada jasa guru adalah bangsa yang melupakan masa depannya sendiri. Menghormati guru tidak cukup dengan kata-kata.

Ia harus terwujud dalam tindakan nyata: memuliakan kerja mereka, memperbaiki struktur yang menindas mereka dan menyediakan ruang untuk mereka tumbuh sebagai pendidik sekaligus manusia.

Sebab dalam setiap keberhasilan bangsa, ada sentuhan tangan-tangan yang bekerja dalam senyap: tangan seorang guru yang mengajarkan huruf pertama, nilai pertama, dan keberanian pertama untuk bermimpi. (*)

Artikel Terkait