wilwatekta.com

Apa Hubungan Antara NU Dan Generasi Milenial?

crcs.ugm.ac.id

WILWATEKTA.COM – NU (Nahdlatul Ulama’) adalah organisasi garda depan yang selalu mambela NKRI. NU mempunyai tugas berat untuk mengamankan negara secara internal dan ekternal. Pengamanan internal adalah langkah NU untuk membentengi umat muslim. Bahwa NU merupakan pengamal Ahlussunnah Wal Jama’ah yang diilhami oleh Islam rahmatan lil a’alamin. Aswaja merupakan manifestasi Islam yang memegang teguh nilai-nilai agama Islam yang ditinggalkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Pengamanan ekternal adalah bagaimana NU siap siaga untuk selalu melihat situasi dan kondisi perkembangan masyarakat pada industri 5.0. Di mana masyarakat lebih cepat menerima informasi apapun melalui media elektronik (Ebook. Nugraha, Transformasi Sitem Revolusi Industri 4.0 30 September 2018). Karena perkembangan wacana yang menghancurkan aqidah atau ke-Islaman masyarakat Indonesia begitu cepat. Diakui atau tidak dengan adanya internet pula masyarakat kita mulai bergeser untuk mempelajari berbagai hal. Termasuk agama, masyarakat sekarang seolah-olah tidak memerlukan kiai. Dan yang paling berbahaya adalah mempelajari agama melalui youtube, kemudian ditelan mentah-mentah tanpa ditelaah.

Melelui Industri 4.0 Menururt Scwab, memiliki 4 dampak yang cukup besar terhadap manusia di dunia yaiu:

Argumentasi; Kecepatan, keluasan dan kedalaman, dampak sistemik (terhadap negara, masyarakat, industri, dan perusahaan. Dampak sistemik; Ketimpangan sebagai tantangan terbesar. Megatrend; fisik (kendaraan tanpa pengemudi, mesin cetak 3D, advanced robotics, dan material baru), digital, biologis. Tipping point; dari industri 4.0 diperkirakan terjadi pada tahun 2025.

Terus apa hubungannya antara NU dan generasi milenial? Menurut hemat saya ini adalah hal yang perlu ditangkap lebih awal untuk NU dalam mempersiapkan generasi emasnya menangkap datangnya industry 4.0. Karena merekalah yang akan memegang tongkat estafet perjuagan para sesepuh untuk memperjuangan kekuatan NKRI dari zaman yang semakin modern pada era serba cepat.

Disadari atau tidak pada era melenial ini tantangan manusia semakin besar. Memang Islam tidak akan berubah dan tidak ke mana-mana. Tapi, manusialah yang selalu mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Jika manusia tidak siap untuk menerima perubahan tentu akan tergilas.

NU Organisasi yang Dinamis

Setiap masa mempunyai sejarah yang berbeda. Seperti halnya NU pada era Mbah Kiai Hasyim Asy’ari dan abad 21 ini tentu sangat berbeda. Tantangan jaman semakin kompleks, integritasnya sebagai organisasi Islam dituntut untuk selalu bertahan dalam segala medan, “Al-Muhafaddhotu ‘Ala Qodimis Sholih Wal Akhdzu Bil Jadidil Ashlah”, (memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik). Nilai dalil yang harus kita tangkap bersama pada konteks hari ini adalah.

Bahwasanya NU organisasi yang dinamis dalam era apapun. Tugas NU adalah menyiapkan kaum muda untuk sigap dalam mengemban nilai perjuangan organisasi. Dengan garis backup para kiai. Kenapa demikian, karena hari ini NU telah dijadikan alat serang melemahkan eksistensi NU itu sendiri. Jika kekuatan lawan tidak disadari akan membuat NU kuwalahan. Karena pada hari ini oknum kader NU juga ada yang terseret dalam tipu daya Islam ekstrimis. Dengan dogma yang terlanjur menancap diotak menjadikan mereka total menjadi bagian kader bai’at Islam ektrimis.

Maraknya gerakan ekstrimis memberikan pandangan warga Islam menjadi berbeda dan selalu terjadi perdebatan. Bagaimana tidak, mereka saling mempertahankan eksistensi kelompok masing-masing. Merasa paling benar, merasa paling Islam dan mereka menganggap selain orang Islam tidak pantas hidup di Indonesia. Sehingga gerakan untuk melemahkan Indonesia semakin masif.

Hari ini umat muslim dibuat bingung untuk memilih tokoh yang menjadi panutan. Karena tokoh yang mereka kagumi juga menjadi bagian konflik. Semua orang menyadari bahwa agama adalah jalan perdamaian, dari agama ini kita berpikir bahwa agama berjuang untuk kebenaran. Namun agama pada hari ini dibuat untuk mengejar kemenangan kelompok. Dan parahnya agama hari ini dijadikan kendaraan politik, mereka menganggap jalan yang diambil adalah jihad fisabilillah.

Belajar dari kejadian itu. NU harus mempunyai kader yang mempunyai kaki kokoh untuk berdiri tegak melakukan tugas mengamankan masa depan agama dan negara. Saya juga meyakini bahwa kader NU yang pada hari ini masuk dalam pemerintahan adalah kader terbaik NU. Mau tidak mau, untuk mengamankan negara harus ikut masuk dalam politik. Namun yang tidak kalah penting adalah restu para sesepuh untuk memberikan keleluasaan bergerak sesuai atmosfir yang berkembang. Sehingga gerakan yang dilakukan sesuai dengan haluan.

Siapkan Karpet Merah Untuk Kader Muda NU

Demi masa depan agama dan negara. NU harus menyiapkan santri atau kader mudanya untuk mampu bertarung dalam segala medan. Saya yakin bahwa tanpa harus diyakinkan NU sudah bersiap. Tapi, bagaimana dengan melihat kondisi hari ini. NU harus lebih rela untuk merestui kader muda terbaik dalam menjalankan tugas mulia menjadi bagian benteng pertahanan negara. Pandangan saya NU menyiapkan karpet merah adalah bagaimana keberadaan seluruh kader harus dideteksi peran dan keberadaanya didalam lingkungan masyarakat. Bahkan yang jadi politisi sekalipun harus selalu menjadi mata rantai penghubung antara kepentingan agama dan negara.

Menurut John L. Posito dalam bukunya, Masa Depan Islam Antara Tantangan Kemajemukan Dan Benturan Dengan Barat, Cetakan I, 2010. Sebenarnya di bumi timur tengah sendiri juga masih banyak dicederai konflik politik etnis, suku golongan, mazhab dan kepentingan. Umat Islam di Timur Tengah masih terjebak dalam kubangan feodalisme dan fanatisme madzab yang terkurung dalam jubah politik sektarian. Islam juga terus dibajak untuk kepentingan sesaat, masa konflik lintas peradaban sewaktu-waktu bisa terjadi lebih dahsyat lagi. Pandangan Posito ini tentu bukan hanya sebuah pandangan kosong saja. Tapi, ini adalah realita yang harus diterima oleh masyarakat dunia.

Khususnya pada masyarakat Islam di Indonesia juga harus lebih sigap untuk melihat situasi ini. Sadar akan hal yang terjadi. Bahwa, gerakan adu domba ini juga mencoba untuk dilakukan di negara Indonesia. Wacana ini harus menjadi konsumsi bersama untuk membuka ruang dialektika penyadaran kepada masyarakat luas. Jika ini hanya dianggap menjadi hal yang biasa. Maka yang terjadi akan menjadi bom bastis, sewaktu-waktu meledak dan meluluh-lantahkan semuanya.

Menurut saya untuk mengantisipasi hal ini semua harus dikomunikasikan dengan baik. Baik dari pihak pemerintah, tokoh politik, ilmuan, tokoh pendidikan dan tidak kalah penting adalah para sesepuh agama. Karena mereka adalah kunci dari pada perdamaian yang akan selalu terjaga dalam bingkai ideologi Pancasila.

Merumuskan Gerakan NU Diera Melenial

Bumi akan terus berputar, hari silih berganti, generasi penerus siap mananti. Ini adalah sebuah bayangan bahwa NU harus bergegas untuk merumuskan gerakan dalam menyambut setiap peradaban yang baru. Pada hari ini disebut era melenial (Gen Y) paling tua berumur 36 atau 27 tahun, sementara yang paling muda 23 tahun. Mereka tentu saja masuk kategori umur produktif. Di mana generasi emas yang terlahir ditahun 1983-2000an.  Karena generasi NU harus menjadi pemersatu bagi keberagaman umat dan penebar kasih sayang. Untuk mebangun peradapan itu, NU dengan lembaga pesantren harus memberikan sebuah gambaran besar bahwa gerakan perubahan diera digital yang sangat cepat. Dengan melihat kondisi ini, NU harus menyusun beberapa strategi dalam mempersiapkan generasi yang sadar betul terhadap setiap perubahan jaman;

Pertama, NU harus memberikan edukasi literasi digital. Dengan demikian akan membangun kekritisan generasi NU dalam menganalisa informasi apapun yang dibaca. Sehingga santri didikan yang dibentuk mampu bertarung disegala medan pertarungan. Karena pada era digital berbagai bentuk literasi untuk menyerang eksistensi NU selalu diluncurkan.

Kedua, NU harus memberikan edukasi kepada masyarakat untuk melek terhadap Informasi Teknologi (IT). Ketiga, Warga NU harus aktif mengakses media sosial. Tujuannya adalah untuk menangkal berbagai isu yang selalu berkembang di media sosial (Medsos).

Keempat, Semua lapisan masyarakat, tokoh agama, guru dan khususnya kader NU harus terlibat aktif dalam menangkal berita hoaks. Keempat, Kader NU harus sering menulis hal-hal positif tentang lingkungan sekitar, jangan diam dan sibuk pada urusan hal-hal buruk. Yang hanya memperkeruh suasana lingkungan sekitar. Karena jika hal itu terjadi maka akan dimanfaatkan oleh oknum yang menginginkan warga nahdliyin terpecah-belah. Sehingga ketahanan negara akan terancam.

Kelima, Warga NU harus dibentuk untuk mampu meningkatkan level penilaian dalam kemodernan zaman sebagai upaya memerangi informasi yang keliru.

Keenam, NU harus selalu mempertahankan tali persaudaraan antar agama. Karena NU adalah organisasi yang selalu menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi dalam bingkai NKRI

Dari langkah-langkah yang saya paparkan di atas mari kita terapkan bersama-sama untuk membatasi medsos penyebar hoaks. Sehingga batas kewarasan kita terukur. Jangan sampai kita menjadi bagian orang tidak waras. Sehingga kewarasan warga nahdliyin secara umum juga selalu terkontol dalam koridor Ahlussunnah Wal Jama’ah. (*)

Artikel Terkait