wilwatekta.com

Alam, Saudara Tua Kita: Bukan Objek Eksploitasi Seenaknya

Ilustrasi: theglobal-review.com

WILWATEKTA.COM – Alam bukan sekadar latar tempat manusia menjalani kehidupan, melainkan fondasi utama menopang seluruh peradaban. Ia hadir jauh sebelum manusia mengenal bahasa, teknologi dan kekuasaan. Gunung, hutan, sungai dan laut bukanlah komoditas kosong yang bebas diperlakukan sesuka hati, melainkan bagian dari sistem kehidupan yang saling terhubung.

Dalam perspektif ekologis, manusia hanyalah satu simpul kecil dalam jejaring besar kehidupan. Sayangnya, kesadaran ini kian memudar ketika alam direduksi menjadi objek eksploitasi tanpa etika.

Berbagai kerusakan lingkungan hari ini menunjukkan relasi timpang antara manusia dan alam. Deforestasi masif, pencemaran air dan udara, krisis iklim, hingga punahnya keanekaragaman hayati bukanlah peristiwa alamiah semata, melainkan konsekuensi dari keserakahan manusia.

Prof Emil Salim, pakar lingkungan hidup Indonesia, menegaskan bahwa “krisis lingkungan bukanlah krisis alam, melainkan krisis cara berpikir manusia terhadap alam.”

Pernyataan ini menampar kesadaran kita: persoalannya bukan pada alam yang “tak ramah”, tetapi pada manusia yang kehilangan batas.

Eksploitasi sering kali dibenarkan atas nama pembangunan dan pertumbuhan ekonomi. Namun, Dr Otto Soemarwoto, pelopor ilmu ekologi di Indonesia, sejak lama mengingatkan bahwa “pembangunan yang mengabaikan daya dukung lingkungan adalah pembangunan yang bunuh diri secara perlahan.”

Alam memiliki kemampuan memulihkan diri, tetapi kemampuan itu tidak tak terbatas. Ketika eksploitasi melampaui ambang toleransi, alam merespons dengan cara yang pahit: banjir, kekeringan, longsor dan krisis pangan.

Dalam konteks global, Jane Goodall, ahli primatologi dan aktivis lingkungan dunia, menyatakan bahwa “manusia telah bertindak seolah-olah terpisah dari alam, padahal kita sepenuhnya bergantung padanya.”

Pandangan ini menegaskan bahwa kerusakan lingkungan bukan hanya persoalan teknis, melainkan krisis moral dan spiritual. Ketika manusia menempatkan diri sebagai penguasa absolut, alam kehilangan martabatnya sebagai subjek kehidupan.

Tradisi dan kearifan lokal Nusantara sejatinya telah lama menawarkan jalan tengah. Banyak masyarakat adat memandang alam sebagai “saudara tua” yang harus dihormati. Hutan bukan sekadar kayu, laut bukan sekadar ikan dan tanah bukan sekadar lahan produksi.

Prof Sonny Keraf, filsuf lingkungan Indonesia, menyebut pandangan ini sebagai etika ekologis, yakni cara pandang yang menempatkan alam sebagai entitas bermoral yang memiliki hak untuk dilindungi. Ketika etika ini ditinggalkan, eksploitasi berubah menjadi kebiasaan yang dianggap wajar.

Oleh karena itu, perubahan dibutuhkan bukan hanya pada kebijakan, tetapi pada kesadaran kolektif. Alam tidak membutuhkan simpati sesaat, melainkan komitmen jangka panjang.

Keadilan ekologis menuntut manusia untuk mengambil secukupnya, mengelola dengan bijak dan memulihkan yang telah rusak. Seperti diingatkan oleh Emil Salim, masa depan manusia tidak ditentukan oleh seberapa canggih teknologi yang diciptakan, melainkan seberapa arif manusia menjaga keseimbangan dengan alam.

Pada akhirnya, memperlakukan alam sebagai saudara tua adalah tanda kedewasaan peradaban. Kita tidak sedang menyelamatkan alam—karena alam akan selalu menemukan caranya sendiri—tetapi menyelamatkan manusia dari kehancuran yang ia ciptakan.

Jika eksploitasi terus dibenarkan, maka generasi mendatang hanya akan mewarisi cerita tentang alam yang pernah indah, namun hancur oleh tangan yang mengaku paling beradab. (Wawan P)

Artikel Terkait