wilwatekta.com

Menjaga Tradisi, Merawat Jati Diri: Refleksi dari Pasar Kawak Randu Gedhe

Oleh: Achmad Reza Rafsanjani

WILWATEKTA.COM – Pasar Kawak Randu Gedhe yang diselenggarakan oleh Kalapijar di Dusun Cungkup, Desa Penambangan, merupakan bukti nyata bahwa masyarakat masih memiliki kepedulian terhadap kelestarian budaya dan sejarah lokal. Acara ini tidak sekadar menghadirkan nostalgia jajanan tradisional, tetapi juga menjadi wahana edukasi bagi masyarakat mengenai Situs Randu Gedhe dan kompleks Kamdawa yang menyimpan nilai historis serta kearifan lokal.

Sebagai kota yang dikenal dengan sebutan Bumi Wali, Kabupaten Tuban memiliki beragam kearifan lokal yang masih terjaga dan menjadi bagian dari tradisi masyarakatnya. Pelestarian budaya bukan hanya soal merayakan masa lalu, tetapi juga investasi penting untuk masa depan. Seperti yang dikemukakan oleh Clifford Geertz, budaya adalah sistem makna yang membentuk identitas sosial dan memberikan arah bagi suatu komunitas. Jika tradisi ditinggalkan, maka bukan hanya ingatan kolektif yang pudar, tetapi juga jati diri yang telah dibangun selama berabad-abad.

Namun, di tengah upaya pelestarian budaya, kita juga menghadapi tantangan besar: fenomena apatisme generasi muda terhadap budaya lokal. Kemajuan teknologi dan globalisasi telah membawa banyak perubahan dalam gaya hidup anak muda, yang lebih akrab dengan budaya populer global dibandingkan tradisi daerahnya sendiri. Banyak generasi muda yang lebih mengenal tren luar negeri dibandingkan kesenian atau adat istiadat dari daerah mereka sendiri. Bahkan, tidak jarang ada anggapan bahwa budaya lokal adalah sesuatu yang kuno dan ketinggalan zaman.

Padahal, budaya lokal adalah akar identitas yang harus tetap dijaga dan dikembangkan. Jika generasi muda semakin jauh dari tradisi, siapa lagi yang akan mewarisi dan menjaga kearifan lokal di masa depan? Oleh karena itu, kegiatan seperti Pasar Kawak Randu Gedhe menjadi contoh bagaimana kearifan lokal dapat terus dilestarikan melalui pendekatan yang kreatif dan melibatkan berbagai elemen masyarakat. Mulai dari seni tari, musik campur sari, hingga edukasi produksi makanan tradisional seperti ampo, semua ini adalah upaya menjaga agar tradisi tetap hidup dan menarik bagi generasi muda.

Kehadiran lebih dari 1.000 pengunjung membuktikan bahwa inisiatif seperti ini masih memiliki tempat di hati masyarakat, bahkan di tengah derasnya arus globalisasi. Generasi muda harus lebih akomodatif dan aktif dalam mendukung budaya lokal serta berpartisipasi dalam kegiatan semacam ini agar tidak kehilangan jati diri bangsa. Jika tidak ada regenerasi dalam pelestarian budaya, maka tradisi akan semakin terpinggirkan dan berisiko punah.

Masukan dari Camat Semanding agar acara ini diadakan secara rutin serta bekerja sama dengan komunitas budaya lain adalah langkah strategis dalam memperkuat jaringan pelestarian budaya. Dengan keterlibatan berbagai pihak—baik pemerintah, komunitas budaya, maupun masyarakat luas—warisan sejarah dan tradisi yang dimiliki akan semakin kuat dan memberikan dampak jangka panjang yang signifikan.

Sebagai generasi penerus, kita memiliki tanggung jawab untuk terus merawat dan mengembangkan budaya lokal. Tradisi bukanlah sesuatu yang statis, melainkan bisa berkembang sesuai zaman tanpa kehilangan esensi dan nilai-nilainya. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran kolektif untuk mengajak anak-anak muda agar lebih mencintai dan melestarikan warisan budaya mereka sendiri.

Semoga Pasar Kawak Randu Gedhe menjadi inspirasi bagi daerah lain untuk terus menggali, menjaga, dan mencintai kekayaan budaya yang ada. Sebab, seperti yang sering dikatakan, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah dan budayanya sendiri.” (*)

Artikel Terkait